Tolak Bala adalah Apa dalam Tradisi Masyarakat? Simak Penjelasannya
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tolak bala adalah istilah yang cukup akrab dalam pembicaraan mengenai tradisi dan kebudayaan masyarakat Indonesia.
Ketika mendengar istilah tersebut, mungkin muncul rasa penasaran tentang bagaimana sebuah ungkapan dapat bertahan dan terus dikenal di tengah perubahan zaman.
Setiap daerah memiliki latar kehidupan, kebiasaan, serta warisan budaya yang berbeda, sehingga berbagai istilah yang berkembang di dalamnya juga memiliki cerita tersendiri.
Tolak Bala adalah Tradisi Memohon Perlindungan dari Bahaya
Berdasarkan informasi dari maa.acehprov.go.id, tradisi tolak bala merupakan acara kenduri yang dilaksanakan ketika ada bala atau wabah yang melanda masyarakat. Pelaksanaannya dilakukan melalui sumbangan bersama atau meuripe.
Kegiatan ini menjadi bagian dari kebersamaan masyarakat dalam menghadapi kondisi tersebut. Sebelum makan kenduri dilaksanakan, masyarakat terlebih dahulu mengikuti doa bersama yang menjadi bagian penting dalam rangkaian acara.
Doa bersama dalam tradisi tolak bala dipimpin oleh Tuengku setempat. Melalui doa tersebut, masyarakat memohon kepada Allah Swt. agar dijauhkan dari bala dan mara bahaya.
Doa menjadi bagian utama karena pelaksanaan kenduri tidak hanya berkaitan dengan kegiatan makan bersama, tetapi juga menjadi sarana untuk memanjatkan permohonan secara bersama-sama.
Kenduri dalam tradisi tolak bala menjadi wahana untuk mengumpulkan masyarakat dalam satu kegiatan. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat berkumpul dan mengikuti rangkaian acara yang dilaksanakan secara bersama-sama.
Sumbangan bersama atau meuripe juga menjadi bagian dari pelaksanaan kenduri sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan adanya keterlibatan masyarakat.
Meskipun kenduri menjadi sarana untuk mengumpulkan orang, tujuan utama tradisi tolak bala adalah berdoa bersama. Doa tersebut dilakukan untuk memohon kepada Allah Swt. agar masyarakat dijauhkan dari bala dan mara bahaya.
Karena itu, kegiatan berkumpul dan makan kenduri menjadi bagian dari rangkaian acara, sedangkan doa bersama menjadi tujuan utamanya.
Pelaksanaan tradisi tolak bala dilakukan ketika bala atau wabah melanda. Masyarakat kemudian melaksanakan kenduri melalui sumbangan bersama atau meuripe.
Sebelum makanan kenduri disantap, doa bersama terlebih dahulu dilakukan dan dipimpin oleh Tuengku setempat. Dalam doa tersebut, masyarakat memohon perlindungan kepada Allah Swt. agar dijauhkan dari bala dan mara bahaya. (DANI)
Baca juga: Nasi Tumpeng Berasal Dari Mana? Ini Asalnya