Konten dari Pengguna

Tradisi Kenduri Masih Dilakukan hingga Sekarang dan Fungsinya

P

Pojok Informasi

Membagikan informasi dari berbagai topik.

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengapa tradisi kenduri masih dilakukan hingga sekarang, Unsplash/Ashkan Forouzani
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengapa tradisi kenduri masih dilakukan hingga sekarang, Unsplash/Ashkan Forouzani

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki beragam tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, salah satunya adalah kenduri. Mengapa tradisi kenduri masih dilakukan hingga sekarang?

Di berbagai daerah, masyarakat masih mengadakan kenduri dalam berbagai kesempatan seperti kelahiran anak, pernikahan, panen, pindah rumah, hingga peringatan keagamaan. Meski bentuk pelaksanaannya dapat berbeda, inti dari tradisi ini tetap sama.

Mengapa Tradisi Kenduri Masih Dilakukan hingga Sekarang oleh Bangsa Indonesia?

Ilustrasi mengapa tradisi kenduri masih dilakukan hingga sekarang, Unsplash/Abdullah Arif

Kenduri merupakan tradisi masyarakat Jawa yang masih terus dilestarikan hingga sekarang. Tradisi ini biasanya dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berbagai peristiwa penting dalam kehidupan.

Contohnya adalah kelahiran anak, pernikahan, panen, pindah rumah, maupun peringatan keagamaan. Mengapa tradisi kenduri masih dilakukan hingga sekarang? Simak penjelasannya berikut ini berdasarkan situs web sumberadisid.slemankab.go.id.

Di Dusun Sayidan, Kalurahan Sumberadi, Kabupaten Sleman, misalnya, masyarakat masih melaksanakan kenduri. Aacara ini biasanya dilakukan dalam rangka Ruwah, Selikuran, dan Maulud sebagai bagian dari warisan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Pelaksanaan kenduri umumnya diawali dengan mengundang tetangga, kerabat, dan tokoh masyarakat untuk berkumpul di rumah penyelenggara. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh atau modin.

Doa tersebut berisi permohonan agar seluruh peserta diberikan keselamatan, kesehatan, keberkahan, dan rezeki. Setelah doa selesai, makanan yang telah disiapkan dibagikan kepada seluruh tamu sebagai lambang berbagi kebahagiaan dan rasa syukur.

Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa memandang kebersamaan sebagai bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Hidangan dalam kenduri juga memiliki makna simbolis.

Nasi tumpeng melambangkan rasa syukur kepada Tuhan, ayam ingkung melambangkan ketulusan dan kepasrahan. Jajanan tradisional mencerminkan harapan agar hubungan antarsesama tetap harmonis.

Di era modern, fungsi kenduri tidak hanya sebagai kegiatan keagamaan. Namun juga sebagai sarana mempererat silaturahmi dan menjaga nilai gotong royong.

Melalui tradisi ini, warga saling membantu dalam mempersiapkan acara, berbagi makanan, serta memperkuat rasa kekeluargaan. Kenduri juga menjadi media untuk melestarikan adat istiadat agar tetap dikenal oleh generasi muda.

Dengan demikian, tradisi kenduri tidak sekadar menjadi kebiasaan turun-temurun. Namun juga menjadi sarana membangun solidaritas sosial, memperkuat persatuan masyarakat, dan menjaga identitas budaya Indonesia di tengah perkembangan zaman.

Mengapa tradisi kenduri masih dilakukan hingga sekarang? Keberadaan tradisi kenduri menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur. (Fia)

Baca juga: Cerita Rakyat Si Kelingking dari Jambi, Kisah Sederhana dengan Makna Mendalam