Welas Asih Artinya Apa? Pahami Istilah dan Cara Penggunaannya Di Sini
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Welas asih artinya apa? Istilah ini digunakan untuk menggambarkan sikap ketika seseorang mampu melihat kesulitan dan penderitaan orang lain dengan mata hati yang penuh kepedulian.
Pada saat melihat orang mengalami kesulitan, seorang individu akan merasa prihatin dan muncul keinginan untuk membantu agar kesulitan yang dirasakan orang laindapat berkurang.
Dikutip dari kemenag.go.id, dalam ajaran Buddha, sikap welas asih dikenal dengan istilah karuṇā, keinginan tulus dari hati terdalam untuk meringankan penderitaan makhluk lain.
Istilah Welas Asih Artinya Apa dalam Keseharian?
Dalam ajaran Buddha yang terkenal, yaitu mettā atau cinta kasih universal. Dalam Karaniya Metta Sutta ada ungkapan berbunyi “Sabbe sattā bhavantu sukhitattā”.
Ungkapan tersebut artinya “Semoga semua makhluk berbahagia.” Cinta kasih tersebut tidak terbatas pada orang tertentu, melainkan ditujukan kepada semua makhluk tanpa melihat perbedaan kondisi fisik, kemampuan, bahkan status sosial.
Selain mettā, ada juga ungkapan karuṇā atau welas asih. Welas asih diartikan dengan merasa kasihan kepada orang yang mengalami kesulitan.
Terkait hal itu, welas asih artinya memahami penderitaan orang lain dan memiliki keinginan yang tulus untuk membantu menguranginya.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap welas asih dapat diwujudkan dengan menawarkan bantuan pada saat diperlukan. Sikap ini ditunjukkan dengan memberikan kesempatan yang setara, bersikap sabar, dan tidak merendahkan atau mempermalukan penyandang disabilitas.
Teladan sikap ini tampak dalam kehidupan Sang Buddha. Dalam Vinaya Pitaka Mahavagga 8.26, terdapat ajaran yaitu “Barang siapa yang merawat orang sakit, ia merawat Aku.”
Pesan tersebut menggambarkan betapa pentingnya merawat dan membantu orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan. Prinsip ini relevan dalam membangun kepedulian terhadap orang lemah dan penyandang disabilitas.
Dalam pandangan kamma, kondisi kehidupan seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk menghakimi atau menyalahkan orang lain.
Ajaran Buddha dalam Anguttara Nikaya 5.57 menjelaskan bahwa kamma merupakan milik dan warisan setiap makhluk.
Pemahaman ini seharusnya mendorong setiap individu untuk menghormati perjalanan hidup orang lain dan tidak memberikan stigma terhadap mereka.
Dalam kehidupan masyarakat, keberagaman menjadi sesuatu yang tidak mungkin dapat dihindari. Setiap orang memiliki kondisi fisik, mental, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda-beda.
Kepedulian terhadap orang yang lebih lemah perlu diwujudkan melalui lingkungan inklusif, kesempatan belajar dan bekerja yang setara, akses terhadap kegiatan sosial dan keagamaan, serta perilaku menghormati kemandirian dan martabat mereka.
Welas asih artinya seorang individu dapat memahami, menghormati, peduli, dan bertindak untuk mengurangi penderitaan tanpa merendahkan orang lain yang dibantu. (Win)
Baca juga: Isu Sosial adalah Apa? Ini Penjelasan Lengkap yang Mudah Dipahami