Konten dari Pengguna

Tel-U Mengabdi: Edukasi Standarisasi Mutu Gula Kelapa Menuju Pasar Ekspor

Poppy Ambar Rini

Poppy Ambar Rini

Mahasiswa Telkom University Purwokerto

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Poppy Ambar Rini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kegiatan Pengabdian Masyarakat Telkom University: Edukasi Standarisasi Mutu Gula Kelapa Menuju Pasar Ekspor (Foto: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan Pengabdian Masyarakat Telkom University: Edukasi Standarisasi Mutu Gula Kelapa Menuju Pasar Ekspor (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Banyumas, Jawa Tengah — Upaya pemberdayaan masyarakat desa terus menjadi perhatian dunia pendidikan tinggi, salah satunya dilakukan oleh Telkom University Kampus Purwokerto. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim dosen dari Program Studi S1 Teknologi Pangan menginisiasi kegiatan bertajuk “Edukasi Standarisasi Mutu dan Regulasi Produk bagi Pengrajin Gula Kelapa di Desa Pernasidi sebagai Strategi Perluasan Produk Menuju Pasar Global.”

Program ini berlangsung selama beberapa bulan dan berfokus pada peningkatan daya saing produk lokal—khususnya gula kelapa—yang menjadi komoditas unggulan di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Dalam pelaksanaannya, Telkom University menggandeng Kelompok Tani Gendis Asri sebagai mitra utama.

Ketua tim pengabdian, Nurul Latifasari, S.TP., M.P., menjelaskan bahwa program ini lahir dari keprihatinan terhadap potensi besar gula kelapa lokal yang belum diiringi dengan penerapan standar mutu internasional. “Selama ini, para pengrajin masih menggunakan metode tradisional dalam proses produksi, yang tentu berdampak pada kualitas dan keamanan produk. Padahal, pasar ekspor sangat memperhatikan aspek tersebut,” ungkapnya.

Sebagai langkah solutif, tim pengabdian menghadirkan berbagai materi pelatihan dan pendampingan teknis, antara lain terkait penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), serta pemahaman tentang Standar Nasional Indonesia (SNI). Tak hanya itu, para peserta juga diberikan edukasi seputar pentingnya sertifikasi halal, PIRT (Produk Industri Rumah Tangga), dan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Semua ini kami sampaikan agar para pengrajin memahami bahwa standar mutu bukan sekadar syarat administratif, tetapi merupakan kunci utama untuk menembus pasar global. Dengan standar yang baik, produk gula kelapa Desa Pernasidi punya peluang besar untuk dikenal di luar negeri,” tambah Nurul.

Menurut perwakilan Kelompok Tani Gendis Asri, program ini menjadi angin segar bagi pengrajin gula kelapa yang selama ini kesulitan mengakses informasi dan pendampingan terkait regulasi pangan. “Kami sangat terbantu, terutama soal sertifikasi dan bagaimana cara meningkatkan kualitas gula agar bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” ujar salah satu pengrajin.

Program ini menjadi wujud nyata sinergi antara dunia akademik dan masyarakat. Melalui pendekatan yang kolaboratif dan partisipatif, diharapkan produksi gula kelapa dari Banyumas tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga mampu tampil sebagai produk unggulan di pasar ekspor.

“Harapannya, pengabdian ini bukan hanya berakhir di pelatihan, tetapi menjadi awal dari proses jangka panjang dalam menciptakan ekosistem industri pangan lokal yang berdaya saing tinggi,” tutup Nurul.

Langkah ini menegaskan komitmen Telkom University untuk tidak hanya berperan dalam pendidikan formal, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal dan inovasi teknologi.