Konten dari Pengguna

A. Rafiq, Elvis Persley-nya Indonesia

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

A. Rafiq, Elvis Persley-nya Indonesia
zoom-in-whitePerbesar

Generasi 70-an tentunya tidak asing dengan penyanyi dangdut yang satu ini, ciri khas celana cutbray-nya menjadi salah satu ikon yang selalu melekat dan diingat.

Pria itu tak lain adalah A. Rafiq, penyanyi kelahiran Semarang pada 1949. Ia berasal dari keluarga religius keturunan Timur Tengah, India dan Turki. Sejak kecil A. Rafiq sudah mahir dalam seni membaca Al-Quran, sehingga ia menguasai teknik bernyanyi melayu.

Ketertarikannya untuk terjun ke dunia tarik suara, membawanya pergi ke Surabaya, untuk bergabung dengan Sinar Kemala, suatu orkes melayu kenamaan, meski pada saat itu ia ditentang oleh keluarganya.

Pada 1960-an, A.Rafiq kemudian membuat rekaman dengan Sinar Kemala, baru pada 1969, ia pindah ke Jakarta, dan memulai karir sebagai seorang bintang radio, fim, dan televisi. Ciri khas dari musik yang dibawakan A. Rafiq adalah memadukan gerakan dari film India, silat Cina, tari Melayu (zapin), dan rock ‘n’ roll Amerika.

Tak lupa dipadukan dengan kostum mencolok dan celana cutbray, ikon kebanggan A. Rafiq dimana pun ia tampil. Pembawaan dan lenggak-lenggok, serta ciri khas penampilannya tersebut menjadikan A. Rafiq diberi julukan ‘Elvis Presley’-nya Indonesia.

Lagu “Pandangan Pertama” yang sarat sekali dengan musik India merupakan salah satu contoh lagu ciptaannya yang masih terus diingat hingga saat ini. Pada 2007 “Pandangan Pertama” di recycle ulang oleh Slank, sekaligus sebagai soundtrack film Get Married 1. Ternyata lagu ciptaannya ini terinspirasai dari lagu “Cheda Mere Dil Ne” dalam salah satu film India kala itu.

Sepanjang dekade 70-an nama A.Rafiq terus menjulang dan naik daun, sebelum akhirnya musik melayu banyak berubah haluan pada masa Orde Baru.

Sumber : Weintraub, Andrew N.2012. Dangdut: Musik.Identitas, dan Budaya Indonesia. Jakarta: PT Gramedia