Konten dari Pengguna

Cerita Tentang “Njai Dasima”

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Njai Dasima merupakan sebuah cerita karangan G. Francis (Batavia, 1896) yang sangat populer di kalangan penduduk pada abad ke-19.

Beberapa sumber mengatakan bahwa cerita Njai Dasima atau Nyai Dasima adalah kisah nyata yang terjadi pada 1813 di Batavia, cerita ini kemudian cepat merambat terdengar dan kemudian populer di bicarakan penduduk, bahkan ceritanya juga banyak diangkat ke panggung sandiwara. Namun agaknya bukan hanya penduduk abad 19 saja yang mengagumi cerita Nyai Dasima, kita sebut saja Pramodya Ananta Toer dengan ‘Bumi Manusia’nya yang dikatakan terisnpirasi juga dari Nyai Dasima.

Diceritakan bahwa Dasima adalah Nyai atau isteri piaraan dari Edward William, seorang Inggris. Mereka telah memiliki putri kecil, Nancy dan hidup tenteram di sebuah rumah gedung yang menghadap tanah lapang Gambir dan membelakangi Kali Pejambon.

Samiun, tukang delman langganan Dasima, ksamaran pada perempuan muda kaya dan cantik ini. sedangkan Samiun sendiri sudah beristeri, Hayati. Samiun mengusahakan lewat dua jalan untuk mendapatkan Dasima. Pertama lewat jalan guna-guna, kedua dengan jalan menakut-nakuti Dasima bahwa ia telah melakukan dosa besar menurut agama Islam karena telah menjadi isteri piaraan, telah melakukan zina. Tugas belakangan ini lakukan oleh Mak Buyung, yang bisa menyusup ke gedung besar itu sebagai pedagang telor dan berlaku sebagai ibu tua yang baik.

Akhirnya Dasima bersedia lari ke tempat Samiun dengan membawa sebagian hartanya. Ia jadi isteri muda Samiun. Hayati tidak keberatan karena mengharapkan bisa mendapatkan sebagian harta Dasima. Hayati ini gila judi dan selalu kekurangan uang. Semakin hari Hayati memperlakukan Dasima semakin kejam, karena tidak segera mendapatkan harta Dasima. Dasima yang menyadari dirinya telah terperosok, semakin menjaga ketat sisa mas berlian miliknya. Maka Samiun terpaksa meminta bantuan seorang sahabatnya, Bang Puasa, seorang jagoan dan pemadat, untuk pura-pura merompok Dasima.

Tugas itu dilakukan oleh Puasa, ketika Nyai Dasima pada suatu malam sedang dalam perjalanan untuk mendengar pembacaan cerita Amir Hamzah di Kampung Ketapang. Ketika sedang menyebrangi sebuah jembatan di Kali Kwitang, yang alirannya lan sampai ke Pejambon, muncul bang Puasa. Dasima berteriak ketakutan. Bang Puasa jadi panik dan membunuhnya. Mayat Dasima tercebur ke sungai, dan kemudian tersangkut tepat di belakang rumah Edward William, bekas rumah Dasima.

Samiun dan Bang Puasa yang ditangkap sesudah melalui pengepungan seru, dijatuhi hukuman gantung.

Referensi : Biran, Misbach Yusa. 2009. Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa. Jakarta : Komunitas Bambu