Freud dan Oedipus Complex-nya

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sigmund Freud dikenal sebagai Bapak Psikologi Modern di ranah dunia psikologi.
Teorinya tentang psikoanalisis dan kepribadian menjadi rujukan utama dalam perkembangan ilmu psikologi di dunia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Freud terkenal dengan teorinya yang diberi nama Oedipus Complex.
Nama ini sendiri diambil dari nama tokoh mitologi Yunani, Oedipus. Oedipus membunuh ayahnya dan mengawini ibunya sendiri. Mitos ini menjadi judul sandiwara karya Sophokles dengan judul Oedipus Tyrannos. Di Indonesia, ada mitos yang mirip dengan cerita Oedipus ini, yakni Sangkuriang (Semiun 2006: 45).

Oedipus Complex dalam pandangan Freud ialah suatu gejala psikologis ketika seorang anak laki-laki menginginkan ibunya, dan secara tak sadar mau menggantikan posisi ayahnya. Namun, karena mengetahui ayahnya kuat, ia takut akan hukuman kastrasi (castration anxiety).
Kecemasan akan kastrasi ditambah dengan Oedipus Complex dipecahkan dengan menekan perasaan-perasaan seksual terhadap ibunya, berhenti bersaing dengan ayahnya, dan mulai mengidentifikasikan diri dengannya (ayahnya).
Apabila pemecahan dalam tahap ini tidak sempurna atau positif (+), anak laki-laki tersebut akan semakin membenci ayahnya dan menggeneralisasikan perasaan ini kepada semua figur autoritas.
“The masses have never thirsted after truth. They demand illusions, and cannot do without them. They constantly give what is unreal precedence over what is real; they are almost as strongly influcenced by what is untrue as by what is true. They have an evident tendency not to distinguish by the two”.
