Joseph Goebbels, The Malicious Dwarf dalam Partai Nazi

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekecewaan yang selama ini selalu dirasakan oleh Joseph Goebbels akibat bentuk tubuhnya yang tidak sempurna, dan ketakutannya akan anggapan orang-orang mengenai kepintarannya, memaksanya untuk bergabung dengan NSDAP atau Partai Nazi pada 1923. Kontak pertamanya dengan Partai Nazi terjadi saat ia melakukan demonstrasi melawan Prancis yang menduduki wilayah Ruhr pada 1923.
Dr. Joseph Goebbels sangat membenci manusia. Kebenciannya itu merupakan ekspresi dari kompleksitas reaksi atas kecatatannya, terutama penghinaan-penghinaan yang selama ini ia terima, serta keinginannya untuk menghancurkan segala sesuatu yang dianggap suci oleh idealismenya. Ketika bersekolah, ia dapat mencurahkan rasa kemarahannya pada kegiatan-kegiatan kesenian.
Namun ketika selesai, ia tidak lagi memiliki tempat untuk menyalurkan emosinya itu. Baru di partai Nazi lah, Goebbels menemukan tempat penyaluran kecerdasan, bakat orasi, kebiasaan, ideologi, dan emosi alaminya. Joseph Goebbels telah berkembang sangat pesat di partai ini.

Goebbels sempat keluar dari Partai Nazi setelah Hitler dipenjara, tetapi pada 1924 ia kembali bergabung ke partai ini. Goebbels adalah pendukung utama Hitler, sekaligus pendukung gerakan anti-semit. Pada 1925, ia ditunjuk sebagai manajer bisnis di daerah Ruhr, bekerja bersama Gregor Strasser, pemimpin paham revolusi sosialis di bagian utara Jerman.
Gregor Strasser memiliki paham sosialis yang lebih tinggi dibanding petinggi Nazi lainnya, bahkan Hitler sekalipun. Setelah beberapa waktu bekerja dengan Strasser, Goebbels sangat terpengaruh oleh pemikiran ekstrem sosialis.
Pada 1926, ketika Hitler berpidato di depan para anggota Nazi dalam rangka perkenalan program dan visinya setelah ia berkuasa, Goebbels menjadi sangat kecewa dengan sosok Hitler, yang dianggapnya tidak sesuai dengan paham sosialisnya. Namun Hitler yang cukup terkesan dengan sosok Goebbels, mencoba untuk merekrutnya menjadi bagian dari rencananya itu.
Hitler menganggap Goebbels terlalu sosialis, mungkin hal itu karena pengaruh dari Strasser. Akhirnya Hitler mengambil tindakan yaitu menjadikan Goebbels salah seorang Gaulitier, pemimpin Nazi di Distrik Berlin-Bradenburg. Ia berharap Goebbels dapat mengubah sikapnya jika diberi jabatan penting, yang tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun kecuali Hitler.
Ia ditempatkan di daerah penuh konflik dan berhasil mengendalikan keadaan, bahkan ia berhasil melemahkan supremasi Strasser, yang dianggap telah melakukan pemberontakan.
Goebbels menjadi pengagum paham yang dibawa oleh Hitler, dan menjadi orang kepercayaan Hitler. Dalam kepemimpinannya, ia melakukan banyak kekerasan, terutama pertempuran jalanan untuk meredam tindakan-tindakan yang bertentangan dengan paham Partai Nazi seperti dominasi Partai Sosial Demokrat dan Partai Komunis.
Pada 1927, ketika terjadi banyak konflik di wilayah Jerman, yang dikenal sebagai masa Depresi Jerman, Goebbels berhasil membangun semangat pasukannya dan membasmi perlawanan-perlawanan demi terbangunnya nasionalisme di Jerman. Targetnya itu untuk mempercepat proses penghancuran dan pengusiran kaum Yahudi yang menjadi salah satu tujuan Partai Nazi.
Sumber: Ballack, Luger. 2007. 7 Tokoh Kuncu Nazi. Jakarta: Visimedia
Foto: elperiodico.cat

