Konten dari Pengguna

Lucius Tarquinius, Kaisar Terakhir Peradaban Kuno Romawi

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lucius Tarquinus, raja terakhir Kerajaan Romawi Kuno (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Lucius Tarquinus, raja terakhir Kerajaan Romawi Kuno (Foto: Wikimedia Commons)

Lucius Tarquinius Superbus, dikenal juga sebagai “Tarquin yang Angkuh”, merupakan raja ketujuh sekaligus raja terakhir Kekaisaran Romawi dari peradaban kuno. Ia memiliki ambisi yang sangat besar untuk menguasai takhta Roma. Tarquin tidak segan melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuannya itu.

Ketika raja Tarquinius Piscus, kakek Tarquin, terbunuh pada 579 M, takhta kerajaan Roma diserahkan kepada Servius Tullius, yang menjadi pewaris terkuat kerajaan tersebut.

Keinginan Tarquin untuk menguasai takhta Romawi semakin besar, dan tidak terbendung. Akhirnya ia merencanakan pembunuhan kepada kaisar dan keluarganya. Tahun 534 M, Tarquin membunuh Tullius, istrinya, dan saudaranya yang memiliki hak lebih besar untuk memperoleh takhta.

Kemudian Tarquin menjadikan dirinya sebagai kaisar Romawi, dan menikahi istri yang ditinggalkan saudaranya. Tarquin benar-benar menjadi pemimpin yang sangat kejam. Kediktatorannya bahkan sampai menimbulkan kekacauan di dalam pemerintahan Romawi. Ia menghukum mati banyak senator yang tidak menyutujui kebijakan-kebijakan yang dibuatnya.

Selama pemerintahannya, Tarquin mencoba mencari simpati rakyat Romawi dengan cara memerangi banyak suku di sekitar wilayah kekuasaannya, yang telah lama menimbulkan keresahan. Ia melakukan banyak pertempuran, dan mengusir cukup banyak suku-suku asing dari wilayah Roma.

Lucius Tarquinius, Kaisar Terakhir Peradaban Kuno Romawi (1)
zoom-in-whitePerbesar

Foto: commons.wikimedia.org

Tetapi walau demikian, usahanya itu terasa sia-sia karena banyak rakyat Roma yang membenci dirinya. Mereka merasa sejumlah kebijakan yang dibuat oleh kaisar sangat membebani kehidupan mereka, di samping karena Tarquin berasal dari suku Etruscan, sebagai minoritas di Romawi. Sehingga Tarquin pun tidak mampu menjaga pemerintahannya.

Selama masa-masa terakhir pemerintahannya, kesalahan demi kesalahan terus dilakukan, termasuk peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh anak Tarquin, Sextus, kepada seorang bangsawan bernama Lucretia pada 509 SM.

Kejadian itu membuat orang Roma marah besar terhadap Tarquin dan keluarganya, yang berimbas pada pemberontakan rakyat melawan pemerintahannya. Dipimpin oleh keluarga Brutus, orang-orang Roma berhasil menghabisi semua keluarga Tarquinian.

Kaisar Tarquin melarikan diri ke Etruria, dan meminta pertolongan untuk mengembalikan kembali takhtanya. Penguasa Etruria kemudian memberikan bantuan kekuatan untuk menyerang wilayah Roma. Dipimpin oleh Lars Porsena, pasukan Etruria berhasil menduduki Roma.

Namun keberhasilan menstabilkan keadaan di Roma tidak serta-merta membuat dinasti Tarquin kembali berkuasa. Rakyat Roma menolak untuk menegakkan kembali monarki, dan selama 500 tahun kemudian, Roma berubah menjadi republik, yang diatur oleh para pemimpin terpilih, bukan dari keturunan raja.

Sumber : Luka, Monsanto. 2008. Tangan Besi : 100 Tiran Penguasa Dunia. Yogyakarta : Galang Press