Konten dari Pengguna

Maarten von Tromp, Penguasa Kekuatan Laut Belanda Abad ke-17

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Laksamana terbesar Angkatan Laut Belanda abad ke-17, Maarten Harpertszoon von Tromp, dilahirkan di Breille, Belanda, pada 1597, sebagai putra dari seorang kapten kapal Belanda.

Saat Tromp tumbuh dewasa, Persatuan Provinsi Belanda--kelak membentuk negeri Belanda-- sedang memperjuangkan kemerdekaan dari pemerintahan Spanyol, yang telah cukup lama memerintah di negerinya.

Tromp beserta ayahnya melakukan sebuah pelayaran penting dalam upaya membebaskan negerinya. Namun, di tengah perjalanan, kapal mereka dihadang oleh bajak laut dari Inggris, dan ayahnya tewas dalam serangan tersebut. Tromp yang selamat bersumpah akan membalas kematian ayahnya, termasuk semua musuh negaranya.

Setelah berlayar bersama armada dagang Belanda, Tromp bergabung dengan Angkatan Laut Belanda pada 1624. Dengan cepat, Tromp memperoleh posisi sebagai kapten di sebuah kapal frigate (sejenis kapal perang ukuran sedang).

Berbagai prestasi yang ditunjukan Tromp dalam setiap misi yang diberikan kerajaan Belanda kepadanya, membuat ia dengan cepat naik pangkat. Pada 1637, ia diangkat menjadi seorang “lieutenant admiral” (asisten laksamana).

Pada 18 Februari 1639, Tromp dan armadanya bertempur melawan pasukan Spanyol di Laut Utara Gravelines, lepas pantai Belanda, dan berhasil memenangkannya. Akhir tahun 1639, Spanyol kembali mengirimkan pasukannya dalam jumlah yang sangat besar untuk melawan kekuatan Belanda.

Tromp lalu dipercaya untuk mengamankan pertahanan Belanda di sepanjang pantai yang akan menjadi target pasukan Spanyol. Ia mengepalai 31 kapal perang, dan bertempur melawan 67 kapal besar milik Spanyol. Salah satu kekuatan Tromp, yang membuatnya sangat dihormati, adalah mampu mengendalikan kapal “Mater Theresa” –kapal perang terbesar di dunia kala itu.

Maarten von Tromp (Foto: picryl)

Tidak ingin terus bertahan, ia kemudian memimpin sebuah serangan pada malam hari ke wilayah pertahanan Spanyol. Serangan dadakan itu berhasil membuat bingung pasukan Spanyol, hingga akhirnya mereka tidak mampu menyerang karena panik.

Beberapa kapal Spanyol yang selamat, memilih untuk berlindung di balik bukit pasir di wilayah pantai Inggris. Untuk mencari pertolongan, armada Spanyol berusaha sekuat tenaga mencapai pelabuahan Dunkirk.

Setelah melakukan pengejaran, Tromp dan pasukannya terlibat dalam Pertempuran Downs melawan sisa pasukan Spanyol. Armada laut Belanda berhasil memberikan pukulan telak, dan menenggelamkan hampir seluruh kapal perang Spanyol.

Saat terlibat perang dengan Inggris pada musim dingin tahun 1652, Tromp meraih kemenangan besar atas Laksamana Inggris, Robert Blake. Kemenangan itu memberikan kekuasaan sementara Belanda atas Terusan Inggris.

Tahun 1653, Laksamana Inggris, George Monck, bertempur dengan Tromp di lepas pantai pulau Textel di dekat pantai Scheveningen, daerah milik kerajaan Belanda. Kedua belah pihak membawa sekitar 120 kapal perang, dan membuat formasi sepanjang 26 kilometer dari Laut Utara.

Pertempuran Textel I itu masih dianggap sebagai pertempuran laut terbesar dalam sejarah manusia. Kedua pasukan bertempur habis-habisan tanpa hasil yang jelas. Kerusakan yang sangat besar dialami oleh keduanya, namun Belanda harus menerima kekalahan setelah Monck meminta bantuan kapal perang yang lebih besar.

Dalam pertempuran itu, Tromp gugur setelah tertembak senapan musket di dadanya. Armada Belanda kehilang 20 kapal dari 100 kapal yang ikut berperang. Dengan gugurnya komandan besar mereka, Angkatan Laut Belanda kehilangan semangatnya untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Inggris.

Sumber: Crompton, Samuel Willard. 2005. 100 Pemimpin Militer yang Berpemgaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang: Karisma

Foto: commons.wikimedia.org