Mary Kingsley dan Kisah Penyelamatan Suku Pedalaman Afrika

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penjelajah besar Inggris, Mary Kingsley, dilahirkan di Highgate, London, Inggris pada 1862. Mary merupakan putri dari seorang dokter terpandang yang sering berpergian untuk mengejar studi dalam bidang antropologi dan sejarah alam.
Pada 1892, orang tuanya meninggal dunia, dan saudara laki-lakinya pergi jauh dari rumah. Saat ditinggalkan sendirian untuk pertama kali di dalam hidupnya itu, Kingsley, yang saat itu berusia 29 tahun, memilih untuk menenangkan dirinya di Kepulauan Canary. Di sana ia mendengar banyak dongeng dari para pedagang tentang Afrika, yang akhirnya mengilhami Kingsley untuk melanjutkan penelitian ayahnya di bidang antropoligi dan sejarah.
Pada Agustus 1893, Kingsley berlayar dari Liverpool menggunakan kapal kargo kecil, bernama “Lagos”, untuk perjalanan pertamanya ke Afrika. Sebelumnya ia telah melakukan perjanjian dengan Museum Inggris untuk mengumpulkan spesimen ikan sungai Afrika. Saat kembali, ia membawa 65 contoh ikan, yang banyak di antaranya belum diidentifikasi, dan tiga spesien ikan diberi nama Kingsley oleh Museum Inggris.
Mary Kingsley mendasarkan ekspedisinya untuk kepentingan berdagang, dan membantu masyarakat Afrika. Ia memberi akses kepada suku-suku terpencil Afrika melalui pedagangan, dan menjadikan mereka mandiri secara finansial.
Ia cukup menyesalkan pengaruh Eropa di Afrika, terutama pengaruh para misionaris yang menganggap para penduduk asli Afrika sebagai orang liar yang tidak perlu diajarkan kebudayaan tinggi Eropa. Bagi Kingsley, para penduduk Afrika seharusnya dipandang sebagai manusia yang memiliki budaya unik sendiri yang pantas dihormati.
Dalam sudut pandang Kinsley, para pedagang memiliki kedudukan yang lebih terhormat dibandingkan para pejabat pemerintah, dan misionaris di Afrika. Karena para pedagang dapat menyediakan peluang pengembangan diri melalui bisnis bagi penduduk Afrika tanpa mencoba membentuk kembali budaya kompleks mereka sesuai model Eropa.
Saat menjelajahi Sungai Calabar dan Ogowe di negara Kongo, yang saat itu dijajah oleh Belgia, Kingsley hidup berbaur secara bebas dengan suku Fang, salah satu suku kanibal di Afrika. Ia memperoleh penghormatan tinggi dari mereka karena memperdagangkan tembakau, pisau lipat, dan saputangan warna-warni secara jujur.
Sebagai seorang petualang, Mary Kingsley adalah contoh dari sosok yang tangguh dan berani. Penjelajah dan pedagang lain sangat menghormatinya, dan tidak menganggap remeh Kingsley hanya karena ia seorang perempuan. Kingsley mampu bertahan hidup setelah jatuh ke dalam lubang perangkap yang penuh duri, berenang melewati sungai yang dipenuhi lintah, dan menjadi pemanjat kedua yang mencapai puncak Gunung Cameron, puncak tertinggi di Afrika Barat.
Saat kembali ke Inggris pada Desember 1897, Mary Kingsley dielu-elukan bak seorang selebriti. Karya pertamanya, Trevels in Afrika, yang diterbitkan pada 1897, menuai kesuksesan yang amat besar, dan diapresiasi oleh banyak akademisi sebagai karya yang sangat baik.
Buku kedua Mary Kingsley, berjudul West African Studies, menjadi buku yang sangat berpengaruh, yang menuduh kebijakan pemerintah Inggris di Afrika. Buku itu juga menjadi jalan pembentukan kerja sama antara budaya Eropa dan Afrika, berdasarkan penghormatan bersama.
Selama Perang Boer tahun 1899, Mary Kingsley pergi merawat para tahanan Boer di Simonstown, Afrika. Namun di sana ia terserang demam tifus dan meninggal pada usia 37 tahun. Sesuai permintaannya, Kingsley dimakamkan di laut.
***
Referensi:
