Palang Merah dan Jalan Sunyi Henry Dunant

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jean Henry Dunant dilahirkan pada 8 Mei 1828 di Jenewa dari keluarga bangsawan terhormat di wilayahnya. Dengan status keluarganya yang tinggi, kehidupan Dunant terbilang cukup mudah. Ia memperoleh pendidikan yang tinggi dan sempat belajar di beberapa negara Eropa. Tetapi Dunant memilih hidup sederhana dan lebih banyak belajar mengenai arti kehidupan.
Pada 7 Oktober 1863, pemerintah Jenewa menunjuk suatu komite yang beranggotakan empat orang, termasuk Dunant. Komite itu ditugaskan untuk mempelajari berbagai kemungkinan membangun kesejahteraan sosial di beberapa negara di Eropa.
Dunant dan rekan-rekannya lalu mengadakan konferensi internasional mengenai perdamaian dan kesejahteraan. Hasil konferensi itu memprakarsai didirikannya 'Red Cross' atau Palang Merah.
Henry Dunant, sebagai salah satu inisiator terbentuknya Palang Merah, mencurahkan seluruh waktu dan hartanya untuk berkeliling ke berbagai negara di Eropa guna mencari dukungan pada gerakan yang akan dibangunnya. Negara-negara itu diharapkan dapat mendukung setiap kegiatan yang dilakukan Palang Merah.
Dia juga menjadi penggagas diadakannya Konvensi Jenewa pada 22 Agustus 1864, yang menjadi dasar tindakan yang akan dilakukan Palang Merah.
Sebagai pendiri Palang Merah, Dunant mulai membuat dasar-dasar kegiatan organisasi itu. Jika sebelumnya fokus Dunant hanya pada korban-korban perang di daratan saja, kini ia mulai memperluasnya jangkauan Palang Merah pada keadaan perang di laut. Selain itu, ia mulai fokus membantu masyarakat yang mengalami bencana alam, tidak hanya saat perang terjadi.
Tahun 1872, Henry Dunant mulai memfokuskan dirinya menangani permasalahan-permasalahan internasional, termasuk tawanan perang dan penyelesaian perselisihan antarnegara melalui pengadilan arbitrasi dibandingkan pengadilan perang.
Setelah tahun 1875, bisnis yang Dunant jalani mulai mengalami kemunduran, salah satu faktornya karena ia terlalu fokus menangani permasalahan kemanusiaan ketimbang bisnisnya. Keterpurukan Dunant semakin nyata ketika ia mulai tidak mendapat tempat di tanah kelahirannya, Jenewa.
Berbagai peristiwa telah membuat seorang Henry Dunant kehilangan kehormatannya sebagai seorang bangsawan. Bahkan jasa-jasanya dalam membentuk kedamaian dan keadilan seakan sia-sia ketika ia benar-benar hancur, serta tidak dihiraukan oleh masyarakat.
Selama bertahun-tahun Dunant hidup dalam kemiskinan dan kesepian. Setelah beberapa kali tinggal sementara di berbagai tempat, Dunant akhirnya menetap di Heiden, sebuah desa kecil di Swiss.
Pada 1890, ketika berada di Heiden, seorang guru bernama Wilhelm Sonderegger mengenal sosok Dunant dan mengabarkan pada dunia bahwa sang pahlawan keadilan masih hidup. Namun tidak ada yang begitu menghiraukannya dan ia tetap dibiarkan tinggal di desa kecil itu.
Kemiskinan, kepedihan, kesepian, mungkin gambaran yang tepat untuk menyebut keadaan Henry Dunant pada saat-saat terakhirnya. Saat kematiannya pun, tidak ada upacara penguburan secara resmi, bahkan iring-iringan yang mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir pun tidak ada.
Untuk terkahir kalinya, Henry Dunant membuktikan dirinya layak disebut 'Pahlawan Perdamaian'. Ia mewariskan seluruh hadiah yang diterimanya kepada orang-orang yang telah merawatnya di rumah sakit desa itu dan meninggalkan beberapa yayasan derma di Norwegia dan Swiss.
Pada tahun 1901, Henry Dunant menerima penghargaan Nobel Perdamaian pertama yang pernah dianugerahkan, atas perannya dalam mendirikan Gerakan Palang Merah Internasional dan mengawali proses terbentuknya Konvensi Jenewa.
***
Referensi:
