Pengabdian Emma Lazarus terhadap Amerika Serikat Melalui Karya Puisi

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dilahirkan di New York, Amerika Serikat, sebagai putri sebuah keluarga kaya raya, penyair Emma Lazarus tumbuh dengan dikelilingi oleh sastra dan seni murni sejak ia masih kecil. Hal itulah yang membuat Emma Lazarus memiliki bakat yang luar biasa pada penciptaan karya-karya puisi, terutama pada pemilihan katanya.
Hasil karyanya yang pertama, “Admetus and Other Poems”, dipersembahkan untuk mentornya, Ralph Waldo Emerson. Ia menerbitkan karyanya itu pada 1866, ketika usianya baru 17 tahun. Ia menulis sejumlah artikel yang diterbitkan di dalam majalah-majalah ternama. Tahun 1874 ia menulis sebuah buku berjudul “Alide”, dan tahun 1881 ia nmenerbitkan bukunya yang lain, berjudul “Poems and Ballads of Heinrich Heine”.
Emma Lazarus dikenal sebagai peganut aliran Zion yang sangat keras, karena kemarahannya atas perlakuan kejam terhadap kaum Yahudi Rusia pada tahun 1800-an. Ia kemudian menerbitkan “Song of a Semite” pada 1882, sebagai reaksi untuk membangkitkan semangat mengangkat senjata.
Ia juga membuat sebuah drama religius, The Dance of Death, yang dilandaskan pada tuduhan kepada kaum Yahudi sebagai penyebab terjadinya “Black Death” di Eropa pada Abad Pertengahan. Emma Lazarus marah karena mereka dituduh telah meracuni air sumur saat peristiwa itu terjadi.

Tak hanya itu, Emma Lazarus juga terkenal atas karyanya, “The New Colossus”, yang ia sumbangkan bagi pelelangan untuk mengumpulkan dana pembuatan Patung Liberty. Puisi Lazarus lalu diabadikan di atas lembaran tanah liat di dekat dasar Patung Liberty saat pembangunannya selesai dilakukan.
Sumbangannya terhadap pembangunan Patung Liberty sangat berharga, karena hadiah pemerintah Prancis itu telah menjadi simbol persahabatan antara Amerika dengan Prancis, dan Lazarus secara tidak langsung telah mewujudkan terjadinya hal tersebut.
Emma Lazarus meninggal di New York pada 1887, ketika usianya baru 38 tahun. Namun karya-karyanya terus diwariskan, dan tetap hidup, mengungkapkan keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah tempat berlindung yang aman bagi kaum tertindas.
Salah satu karya Emma Lazarus yang sangat terkanal tentang Amerika Serikat :
Berikan kepadamu keletihanku, kemiskinanmu,
Massa yang meringkuk yang mendamba bernapas bebas,
Penolakan yang menyedihkan oleh pantaimu yang penuh sesak,
Kirimkan kaum tunawisma yang diguncang prahara ini kepadaku,
Aku nyalakan lampuku di samping pintu emas!
Sumber: Rolka, Gail Meyer. 2005. 100 Wanita yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang : Karisma
