Pengaruh Paul Signac dalam Perkembangan Seni Aliran Neo-imperialisme

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat
Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terlahir sebagai putra seorang pemilik toko pelana, Paul Signac menjadi salah satu pelukis paling berpengaruh di dunia. Dilahirkan pada 11 November 1863, ia merupakan pelukis terkemuka dalam aliran neo-imperialisme, yang dikenal dengan teknik pointilisme.
Signac pertama kali tertarik pada seni lukis ketika masih duduk di bangku sekolah. Saat itu, ia banyak mengunjungi galeri seni yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan Signac kecil sudah dapat meniru sebuah lukisan karya Edgar Degas dalam bentuk sketsa. Namun, akibat tindakannya itu, ia dilarang untuk mengunjungi galeri seni selama beberapa waktu.
Signac memiliki ketertarikan yang tinggi untuk mempelajari lukisan model impresionisme –melukis langsung dari alam dengan menampilkan warna-warna cerah.
Menurut pandangan Signac, seorang pelukis impresionis memiliki kualitas seni yang baik. Mereka adalah orang-orang yang revolusioner, non-komfromis, dan mampu mengambil manfaat dari kehidupan.

Pada 1884, ia bertemu dengan sahabatnya, seorang pelukis yang sama-sama berfokus pada teknik pointilisme, Georges Seurat. Mereka lalu berpartisipasi dalam pendirian Salon des Independants, sebuah kegiatan karya para seniman yang pernah ditolak mengikuti pameran resmi terbesar di Prancis, Salon.
Akhir abad ke-19 menjadi cobaan berat bagi Signac. Kematian sahabatnya, Seurat, pada 1891, menjadi pukulan besar bagi Signac. Ia selalu menganggap Seurat sebagai mentor, sekaligus pendorongnya dalam berkarya.
Peristiwa kematian itu menjadi keadaan paling serius dalam hidup Signac. Ia bahkan sempat berpikir untuk melupakan perjuangan para impresionis, dan seniman lain yang telah menggantungkan karirnya dalam Salon des Independants.

Setelah beberapa tahun, akhirnya Signac kembali pulih, dan sebagai tanda kebangkitannya, ia menerbitkan sebuah buku berjudul “Dari DeLacroix ke Neo-Impresionisme”. Buku yang diterbitkan tahun 1899 itu berisi pandangan Signac mengenai dunia seni yang sedang dan akan berkembang di dunia.
Paul Signac kemudian terpilih sebagai presiden Salon des Independants dari tahun 1908 sampai 1934. Pada masa kepemimpinannya, pameran Salon de Independants banyak menampilkan karya-karya para pelukis aliran kubisme dan para pelukis kontroversial yang “fauves” –suatu istilah yang memiliki makna “hewan liar” yang merujuk pada penggunaan warna-warna cerah.
Sepanjang hidupnya, Signac melakukan pertentangan-pertentangan terhadap aturan-aturan yang bersifat tradisional hingga kematiannya pada 15 Agustus 1935. Menurutnya hal itu dapat menurunkan kualitas seorang seniman.
Sumber: Krystal, Barbara. 2010. 100 Seniman yang Membentuk Sejarah Dunia. Bandung: Sinergi
Foto: commons.wikimedia.org

