Konten dari Pengguna

Penyatuan Italia dan Kebesaran Hati Giuseppe Garibaldi

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Giuseppe Garibaldi. | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Giuseppe Garibaldi. | Wikimedia Commons

Secara politik, Italia belum bersatu menjadi sebuah negara tunggal sejak masa Kekaisaran Romawi. Hingga tahun 1848, Italia masih terbagi menjadi wilayah-wilayah feodal dari Kerajaan Sardinia, Dukedom dari Milan, negara Kepausan, dan Kerajaan Kedua Sisilia.

Terbaginya wilayah Italia oleh penguasa-penguasa dari kerajaan yang berbeda, membuat banyak terjadi ketimpangan di sana. Baik secara sosial maupun ekonomi. Bagian utara Italia menjadi daerah yang lebih makmur dibandingkan bagian selatannya. Hal itu memunculkan kelompok-kelompok yang ingin menyatukan Italia sebagai satu negara yang makmur, dan merata.

Dorongan ke arah penyatuan akhirnya datang dari pihak utara, di mana dua orang yang sangat berbeda menyerukan persatuan di Italia. Mereka adalah Camillo Benso, Pangeran dari Cavour (1810-1861), dan Giuseppe Garibaldi, petualang besar Italia (1807-1882).

Giuseppe Garibaldi | Wikimedia Commons

Camillo Benso merupakan Perdana Menteri Kerajaan Sadrinia, yang menjalin kerja sama dengan Kaisar Prancis, Napoleon III, untuk berperang bersama menghadapi Austria, yang saat itu menguasai politik dan ekonomi wilayah utara Italia.

Pilihan Cavour untuk meminta bantuan Prancis terbukti berhasil mengusir Austria dari wilayah utara Italia. Setelah terlepas dari pengaruh Italia, Camillo Benso mengeklaim bahwa wilayah utara Italia bersedia mengikuti kepemimpinan Raja Victor Emmanuel dari Kerajaan Sardinia.

Camillo Benso adalah seorang nasionalis praktis yang berusaha melakukan modernisasi dan industrialisasi di Italia. Sementara pesaingnya, Giuseppe Garibaldi adalah seorang nasionalis romantis yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berperang bagi kemerdekaan, baik di Italia maupun Amerika Tengah dan Selatan.

Kegagalan Revolusi 1848 untuk menyatukan Italia telah mengecewakan Garibaldi. Sehingga ia memilih mengasingkan diri. Namun ia kembali ke tanah airnya tahun 1859 untuk memimpin sebuah gerakan kemerdekaan baru bagi Italia. Ia mengorganisasi pasukan Baju Merah yang terkenal ke Pulau Sisilia pada tahun 1860.

Garibaldi dan pasukannya ketika memperjuangkan kemerdekaan dan pembebasan Italia. | Wikimedia Commons

Garibaldi mengumpulkan cukup banyak orang yang memiliki semangat tinggi untuk merdeka, walau mereka tidak memiliki senjata yang lengkap dan tidak memiliki pengalaman dalam peperangan. Setelah mendarat di Sisilia, Garibaldi dan pasukannya berhasil merebut hati penduduk setempat. Hanya dalam waktu 6 minggu, Garibaldi berhasil mengalahkan 25.000 tentara pemerintah Neapolitan yang saat itu menguasai Sisilia.

Setelah itu, pasukan Garibaldi bergerak ke utara Italia, menyusuri pesisir Italia. Di tengah perjalanannya itu, ia bertemu dengan Camilio Benso dan Raja Victor Emmanuel yang tengah bergerak ke selatan untuk mengambil keuntungan dari momentum keberhasilan Garibaldi menaklukkan Sisilia.

Bertemu dengan perdana menteri dan raja di sebuah jalan di selatan Naples, Garibaldi dengan besar hati menyerahkan hasil penaklukannya dan kedaulatan baru kepada Raja Sardinia tersebut. Dengan menerima sedikit kompensasi atas jerih payahnya, Garibaldi mundur dari “panggung sejarah”, walau sebenarnya ia sedang berada di puncak kejayaan yang akan membawanya pada ketenaran abadi di seluruh dunia.

Dalam catatan sejarah dunia, hanya ada sedikit teladan dari patriotisme tanpa pamrih yang bisa dibandingkan dengan teladan dari Giuseppe Garibaldi. Namanya akan selalu dikenang sebagai pejuang kemerdekaan paling besar, dengan hati yang sama besarnya. Italia pun akhirnya dapat bersatu pada tahun 1860.

***

Referensi:

  • britannica.com