Konten dari Pengguna

Sejarah Pusara Para Raja Mataram di Imogiri

Potongan Nostalgia

Potongan Nostalgia

#PotonganNostalgia || Mari bernostalgia! Menjelajah apa yang sudah mulai terlupakan, atau bahkan belum sempat diingat

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Potongan Nostalgia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Pusara Para Raja Mataram di Imogiri
zoom-in-whitePerbesar

Makam Raja-Raja Imogiri atau biasa dikenal Pasarean Imogiri, yang terletak di Karang Kulon, Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih menjadi daya tarik tersendiri bagi para peziarah maupun wisatawan sampai saat ini. Pembangunan pasarean ini diprakarsai oleh Raja Mataram Islam ke-3 yang bergelar Sri Paduka Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo yang merupakan putra mahkota dari Sultan Hanyokrowati dan cucu dari Raden Sutawijaya (Kanjeng Panembahan Senopati) pada tahun 1632. Lama pembangunan memakan waktu 13 tahun, sampai dengan tahun 1645.

Sejarah pendirian pasarean bermula ketika Sultan Agung yang merupakan salah satu waliyullah di tanah Jawa dan juga murid dari Raden Said (Sunan Kalijaga), memiliki kebiasaan di setiap hari Jumat menjalankan ibadah salat Jumat di tanah suci Makkah.

Kala itu, Sultan Agung menyampaikan keinginannya kepada sang guru bahwa apabila suatu hari nanti beliau wafat berharap dapat dimakamkan di dekat pusara Nabi Muhammad SAW. Namun, Sunan Kalijaga berpesan apabila muridnya tersebut membuat makam di Makkah atau dalam artian di luar Bumi Nusantara khusunya pulau Jawa, nantinya tidak ada sosok raja di tanah Jawa yang dimuliakan dan diagungkan. Selain itu, Sang Guru juga menyampaikan bahwa di pulau Jawa terdapat tanah yang mirip seperti tanah suci Makkah yang nantinya dapat dipergunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir sampai anak cucunya.

Kemudian Sultan Agung pun diutus oleh Sunan Kalijaga untuk mengambil batu yang berukuran kecil dan melemparkannya. Batu tersebut kemudian jatuh di perbukitan Merak yang kala itu masih berselimut kabut sehingga penamaannya menjadi makam suci Imogiri. Imogiri berasal dari kata Imo yang berarti kabut atau sejuk dan Giri yang berarti bukit; perbukitan yang berkabut.

Tangga menuju pemakaman. Dok: Wikimedia

Sisi lain dari sejarah berdirinya Pasarean Imogiri adalah jumlah anak tangga yang terdapat di dalam kompleks pasarean dengan makna atau filosofinya masing-masing. Jumlah keseluruhan anak tangga yang terdapat di dalam kompleks pasarean, terdapat 1555 anak tangga yang memiliki makna yaitu tahun berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Anak tangga tingkat pertama berjumlah 32 yang bermakna tahun berdirinya Pasarean Imogiri. Anak tangga tingkat selanjutnya berjumlah 13 yang berarti lama pembangunan Pasarean Imogiri, yang apabila dua tingkat tersebut dijumlah terdapat 45 anak tangga yang berarti tahun wafatnya Sultan Agung, yaitu pada tahun 1645. Selanjutnya terdapat 9 tingkatan anak tangga yang berjumlah 409 yang memiliki filosofi 4 merupakan kitab, kemudian 0 merupakan suci, dan 9 merupakan wali sembilan (Wali songo). Kemudian terdapat 99 anak tangga lagi menuju ke batu nisan atau komplek utama dengan melewati 5 pintu yang memiliki filosofi rukun Islam.

Kendi Nyai Danumurti. Dok: Youtube/ocumentary TV Official

Selain itu, terdapat juga tempayan (kendi; dalam bahasa Jawa) yang berjumlah 4 di dalam komplek Pasarean Imogiri. Keempat tempayan tersebut merupakan cendera mata dari 4 kerajaan yang diberikan kepada Sultan Agung semasa memerintah. Tempayan pertama merupakan cendera mata dari kerajaan Sriwijaya (Palembang) yang diberi nama Nyai Danumurti. Tempayan kedua merupakan cendera mata dari Kerajaan Samudera Pasai (Aceh) yang diberi nama Kyai Danumaya. Tempayan ketiga bernama Kyai Mendung yang berasal dari kerajaan Ngerum (Turki). Tempayan keempat bernama Nyai Siyam yang berasal dari kerajaan Siam (Thailand). Sejak wafatnya Sultan Agung, sampai saat ini air dalam tempayan tersebut dikeramatkan karena konon air tersebut adalah air yang telah didoakan dan memiliki tuah.

Sumber:

Youtube Documentary TV Official

Dok: Youtube/Berbagi Tahu