Profil Buya Syafii, Ulama dan Cendekiawan Berpengaruh Asal Indonesia

Menyajikan informasi profil tokoh ternama dari Indonesia maupun mancanegara.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Profil Tokoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Profil Buya Syafii Maarif menggambarkan perjalanan intelektual dan spiritual seorang ulama dan cendekiawan Muslim yang dikenal luas karena pemikiran moderat serta keteladanannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Buya Syafi'i wafat di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta, pada hari Jumat, tanggal 27 Mei 2022, dan dimakamkan di Taman Makam Khusnul Khotimah Muhammadiyah di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Profil Buya Syafii Maarif, Mantan Ketua PP Muhammadiyah
Dikutip dari situs repository.radenfatah.ac.id, Buya Syafii diketahui bernama lengkap Ahmad Syafi'i Maarif, yang dilahirkan di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau pada hari Sabtu, tanggal 31 Mei 1935 dari pasangan Ma’rifah Rauf dan Fathiyah.
Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang terhormat dengan ayahnya sebagai kepala Suku Melayu dengan menyandang gelar Datuk Rajo Malayo yang dijabatnya hingga wafat.
Sejak kecil, dia tidak mempunyai cita-cita tinggi yang ingin diraihnya dan juga tidak ada angan-angan untuk menjadi apa atau siapa karena memang lingkungannya yang sempit dan sederhana itu tidak mendorong orang untuk melebihi sosok melebihi orang kampungnya.
Orang yang dekat dengannya sering memanggilnya dengan istilah ‘Buya’ karena dia dianggap pantas menyandang panggilan tersebut.
Karena ibunya meninggal ketika masih muda, Buya Syafii dititipkan ayahnya kepada bibinya, Bainah, yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahirannya. Dia menikah pada tanggal 5 Februari 1965 dengan Nurkhalifah.
Pernikahan keduanya dikaruniai beberapa anak, yakni Salman, Iwan, dan Mohammad Hafiz. Dia dikenal terbuka menerima tamu dari berbagai kalangan karena dia tidak mempunyai kepentingan pribadi apapun.
Selain itu, dia juga selalu menjaga jarak dengan urusan politik.
Baca juga: Profil Eddie Nalapraya, Sosok Bapak Pencak Silat yang Telah Berpulang
Pendidikan Buya Syafi'i
Buya Syafii memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat atau SR Sumpur Kudus. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus dan selesai pada tahun 1947.
Dari profil Buya Syafii diketahui dia mulai mengenal gerakan Islam yang bernama Muhammadiyah di madrasah tersebut. Setelah itu, dia meneruskan ke sekolah lanjutan Muhammadiyah dan lulus dari Madrasah Muallimin Muhammadiyah Lintau, Sumatera Barat.
Setelah lulus, dia kemudian hijrah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikannya di jenjang SMA tetapi dia tidak diperkenankan karena pendidikan mualliminnya di Sumatera Barat tidak diakui.
Oleh karena itu, dia meneruskan kembali pendidikannya ke Madrasah Muallimin yang ada di Yogyakarta milik organisasi Muhammadiyah.
Sejak usianya 18 tahun, dia telah merantau ke Yogyakarta, Lombok, dan Surakarta karena dia ditugaskan untuk mengajar di ketiga tempat tersebut. Dia kemudian kembali ke Yogyakarta untuk meneruskan kuliah di FKIS IKIP (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta).
Menempuh perkuliahannya sambil mengajar, dia mendapatkan gelar sarjana pada Agustus 1968 dengan skripsi yang berjudul ‘Gerakan Komunis di Vietnam (1930-1964).
Buya Syafii meneruskan studinya ke Amerika Serikat dengan mengunjungi 3 kampus, yakni Ohio University, Northern Illinois University, dan University of Chicago antara tahun 1972-1982.
Dia menempuh pendidikan sejarah di Northern Illinois University dan memperoleh gelar M. A. dalam ilmu sejarah dari Ohio University. Dia juga meraih gelar Ph. D. dalam bidang pemikiran Islam dari University of Chicago pada bulan Desember 1983.
Baca juga: Profil Janice Tjen, Juara ITF W35 Goyang
Rekam Jejak Buya Syafii
Selama menempuh perkuliahan, Buya Syafii sempat menggeluti beberapa pekerjaan. Dia pernah menjadi buruh dan guru mengaji sebelum diterima menjadi pelayan toko kain pada tahun 1958.
Setelah sekitar 1 tahun bekerja sebagai pelayan toko, dia membuka usaha dagang kecil-kecilan bersama dengan temannya. Dia juga sempat menjadi guru honorer di Solo dan Baturetno.
Selain itu, dia pernah menjadi redaktur Suara Muhammadiyah dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia. Buya terpilih sebagai ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1998 hingga tahun 2005.
Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah semakin dikenal sebagai organisasi yang berpengaruh di Indonesia. Setelah meninggalkan posisinya sebagai ketua umum PP Muhammadiyah, dia kemudian aktif dalam komunitas Maarif Institute.
Dia juga pernah menjabat sebagai presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP). Pada tahun 2008, dia mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina atas karya-karyanya.
Penghargaan lain yang didapatkannya adalah Habibie Award 2010 dari the Habibie Center. Bersama dengan Taufik Abdullah dan Nurcholish Madjid, Buya Syafii mendapatkan kesempatan langka mengajar di Institute of Islamic Studies, Mc. Gill University.
Selain itu, sejak tahun 2004, dia menjadi penulis tetap kolom ‘Resonansi’ pada Harian Umum Republika.
Dia juga aktif dalam gerakan moral anti korupsi bersama mendiang H. S. Dillon, K. H. A. Hasyim Muzadi, serta sejumlah tokoh masyarakat sipil di awal era reformasi.
Buya Syafii juga menjadi anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan guru besar ilmu sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) IKIP Yogyakarta (kini UNY). Mata kuliahnya yang banyak diminati adalah filsafat sejarah.
Menjadi sosok yang aktif menulis, puluhan buku telah diterbitkannya, di antaranya Islam dan Masalah Kenegaraan (Studi tentang Percaturan Dalam Konstituante) dan Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah, dan lain-lain.
Profil Buya Syafii bukan hanya mencerminkan kiprah seorang tokoh intelektual tetapi juga warisan nilai-nilai kebangsaan yang terus menginspirasi generasi penerus. (Mey)
Baca juga: Profil Eveline Sanita Injaya, Presiden Direktur PSBS Biak
