Optimalisasi Peran Konselor Laktasi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fasilitas pelayanan kesehatan primer, seperti puskesmas, klinik pratama dan praktik mandiri tenaga kesehatan, merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Di tingkat inilah ibu hamil dan menyusui paling sering berinteraksi dengan sistem kesehatan. Namun, keberhasilan program ASI eksklusif dan keberlanjutan menyusui masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan waktu pelayanan hingga kurangnya pendampingan menyusui yang komprehensif. Oleh karena itu, optimalisasi peran konselor laktasi di layanan primer menjadi kebutuhan yang mendesak.
Konselor laktasi memiliki peran penting dalam mendukung praktik menyusui berbasis bukti ilmiah. Mereka tidak hanya memberikan edukasi teknis mengenai laktasi, tetapi juga membantu ibu mengatasi permasalahan menyusui yang sering muncul pada masa awal pascapersalinan. Di fasilitas kesehatan primer, konselor laktasi dapat berperan dalam skrining dini masalah menyusui, konseling individual, serta edukasi keluarga agar tercipta lingkungan yang mendukung ibu menyusui. Pendekatan ini memperkuat kualitas pelayanan yang bersifat promotif dan preventif.
Optimalisasi peran konselor laktasi juga berdampak luas pada upaya pencegahan stunting dan peningkatan status gizi bayi. ASI merupakan intervensi gizi paling efektif dan ekonomis, namun manfaatnya hanya dapat dicapai apabila praktik menyusui berjalan dengan benar dan berkesinambungan. Integrasi konselor laktasi dalam sistem pelayanan kesehatan primer memungkinkan adanya kesinambungan pendampingan sejak masa kehamilan hingga periode menyusui. Hal ini menunjukkan bahwa konselor laktasi merupakan bagian integral dari strategi kesehatan masyarakat, bukan sekadar layanan tambahan.
Menurut dr. Hayin Naila, selaku konselor laktasi dari HA-Medika Kendal, optimalisasi peran konselor laktasi di fasilitas kesehatan primer akan meningkatkan kualitas pelayanan ibu dan anak secara signifikan. Ia menyampaikan bahwa banyak ibu sebenarnya memiliki potensi besar untuk berhasil menyusui, asalkan mendapatkan pendampingan yang tepat sejak awal. Konseling laktasi di layanan primer harus dilakukan secara berkelanjutan dan dengan pendekatan empati, sehingga ibu merasa didukung dan percaya diri dalam proses menyusui. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara konselor laktasi dan tenaga kesehatan lain dalam satu sistem pelayanan.
Sebagai kesimpulan, optimalisasi peran konselor laktasi di fasilitas pelayanan kesehatan primer merupakan langkah strategis dalam meningkatkan keberhasilan menyusui dan kualitas kesehatan ibu serta anak. Penguatan layanan konseling laktasi melalui integrasi sistem, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan dukungan kebijakan menjadi kunci utama keberhasilan. Dengan demikian, pelayanan kesehatan primer dapat berfungsi secara maksimal sebagai fondasi pembangunan kesehatan masyarakat.
