Skrining Ada, Tapi Belum Merata: Tantangan Deteksi Dini di Masyarakat

Peneliti Kesehatan Masyarakat dan Pemilik Klinik HA-Medika
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Skrining tumbuh kembang anak merupakan salah satu langkah penting dalam memastikan anak berkembang sesuai dengan tahapan usianya. Melalui skrining, potensi keterlambatan perkembangan dapat dideteksi sejak dini sehingga intervensi dapat segera dilakukan. Berbagai program pemerintah sebenarnya telah mendorong pelaksanaan skrining di tingkat pelayanan kesehatan dasar, seperti posyandu dan puskesmas. Namun, implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait pemerataan akses dan kualitas layanan.
Secara konsep, skrining tumbuh kembang bukanlah prosedur yang rumit. Alat ukur seperti KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) telah disusun secara sederhana agar dapat digunakan oleh tenaga kesehatan maupun kader terlatih. Akan tetapi, dalam praktiknya, tidak semua wilayah memiliki sumber daya manusia yang memadai untuk melaksanakan skrining secara rutin. Selain itu, keterbatasan pelatihan, beban kerja tenaga kesehatan, serta kurangnya pemahaman masyarakat turut menjadi hambatan dalam optimalisasi program ini.
Di sisi lain, kesadaran orang tua terhadap pentingnya skrining tumbuh kembang juga masih bervariasi. Banyak yang baru mencari bantuan ketika anak menunjukkan tanda-tanda keterlambatan yang cukup jelas. Padahal, sejumlah gangguan perkembangan seperti keterlambatan bicara, gangguan spektrum autisme, maupun gangguan motorik seringkali membutuhkan deteksi sejak dini untuk mendapatkan hasil intervensi yang optimal. Ketimpangan informasi ini menyebabkan adanya kesenjangan antara anak-anak yang mendapatkan layanan skrining dengan yang tidak.
Menurut dr. Hayin Naila, praktisi tumbuh kembang anak dari HA-Medika Kendal, permasalahan utama bukan pada ketiadaan program, melainkan pada distribusi dan konsistensi pelaksanaannya. Dokter Hayin menekankan bahwa skrining seharusnya menjadi kegiatan rutin yang terintegrasi dalam layanan kesehatan anak. Di beberapa wilayah, skrining sudah berjalan baik, tetapi di tempat lain masih sangat terbatas. Padahal, setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan deteksi dini. Perlu ada penguatan pada edukasi orang tua dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan agar skrining dapat dilakukan secara merata.
Dengan demikian, tantangan utama dalam skrining tumbuh kembang di Indonesia bukan lagi pada konsep atau alat, melainkan pada pemerataan akses dan implementasi yang berkelanjutan. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, mendapatkan kesempatan yang sama dalam tumbuh dan berkembang secara optimal. Tanpa upaya tersebut, skrining hanya akan menjadi program yang ada di atas kertas, namun belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat.
