Konten dari Pengguna

98,6 persen Eksekutif di Perusahaan Menginginkan Budaya Berbasis Data

SBM ITB

SBM ITBverified-green

School of Business and Management ITB

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SBM ITB tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Muhamad Fajrin Rasyid, Direktur Digital Business Telkom saat memparkan tentang penerapan big data di Telkom
zoom-in-whitePerbesar
Muhamad Fajrin Rasyid, Direktur Digital Business Telkom saat memparkan tentang penerapan big data di Telkom

SBM ITB kembali menggelar webinar series ke 8 dengan tema yang menarik yaitu "Improving Decision Making Process with Data" pada Sabtu, 19 September.

Dalam dunia yang semakin digital, perusahaan dihadapkan pada perubahan konstan dan cepat yang membutuhkan tindakan dan keputusan strategis yang juga harus cepat.

Tidak heran mengapa, baru-baru ini dilaporkan, 98,6 persen eksekutif menunjukkan bahwa perusahaan mereka menginginkan budaya yang berbasis data, tetapi hanya 32,4 persen yang melaporkan keberhasilannya (NewVantage Partners, 2018).

Banyak tekanan yang dihadapi perusahaan akibat kemajuan teknologi ini, yang dilain pihak, kemajuan teknologi ini juga dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif. Untuk itu, perusahaan perlu meningkatkan cara mereka membuat keputusan, didukung bukti dan memanfaatkan keahlian manusia dan data dengan baik.

"Pada era digital ini, data harus menjadi inti pengambilan keputusan strategis dalam bisnis, apakah itu perusahaan multinasional besar atau kecil bahkan yang hanya berupa bisnis keluarga. Data dapat memberikan wawasan (insight) yang membantu perusahaan menjawab pertanyaan bisnis utamanya seperti 'Bagaimana saya dapat meningkatkan kepuasan pelanggan? Data mengarah ke pembentukan wawasan; pemilik dan manajer bisnis dapat mengubah wawasan tersebut menjadi keputusan dan tindakan yang menumbuhkan bisnis.”

Dekan SBM ITB Utomo Sarjono Putro dalam Webinar SBM ITB menjelaskan tentang pentingnya Data dalam pengambilan keputusan Strategis

Hal itu disampaikan Dekan SBM ITB Utomo Sarjono Putro dalam Webinar SBM ITB: Pentingnya Data dalam pengambilan keputusan Strategis, Sabtu (20/9/2020).

Director Big Data & Business Analytics Lab SBM ITB, Manahan Siallagan, Ph. D mengangkat tantangna perusahaan agar dapat bekerja dengan data

Director Big Data & Business Analytics Lab SBM ITB, Manahan Siallagan, Ph. D, mengungkapkan, tantangan selanjutnya yang dimiliki banyak perusahaan adalah bagaimana perusahaan dapat bekerja dengan data.

Era digital membawakan perubahan yang sangat berarti terhadap keberadaan data. Jumlah data yang dihasilkan bukan hanya lebih besar, tetapi juga lebih kompleks. Hal ini mempersulit perusahaan untuk mengelola dan menganalisis data mereka.

Sebuah studi IDC 2018 juga mencatat bahwa organisasi telah menginvestasikan triliunan dolar untuk memodernisasi bisnis mereka, tetapi 70 persen dari inisiatif ini gagal karena mereka memprioritaskan investasi teknologi tanpa membangun budaya data untuk mendukungnya.

Webinar ini juga menghadirkan para pembicara andal seperti Muhamad Fajrin Rasyid, Direktur Digital Business Telkom; Heru Wiryanto, People Analytics and HR Data Science Enthusiast; Nugraha Priya Utama, P.hD, Lecturer of KK Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI ITB).

Dalam pemaparannya, Direktur Digital Business Telkom, Muhamad Fajrin Rasyid menjelaskan bagaimana big data bisa dimanfaatkan untuk menavigasi perubahan bisnis yang sangat cepat.

Fajrin mengungkapkan, "Big data adalah salah satu yang bisa kita manfaatkan untuk menavigasi bisnis yang terjadi begitu cepat, sekarang kita dalam kondisi penuh dengan ketidakpastian, kalau kita bisa menawarkan sebuah kepastian, bisnis kita akan unggul, kepastian itu bisa didapatkan dengan data".

Salah satu industri yang sudah memanfaatkan big data adalah perbankan. Seperti fintech di China. Ketika ia meng-apply aplikasi fintech tersebut, hanya membutuhkan waktu proses 7 detik untuk approval. Bila diapprove, uang akan langsung masuk ke rekening. Big data juga bisa merekam perilaku atau behaviour yang bisa dimanfaatkan perusahaan untuk mendapatkan kredit skoring dan mengambil keputusan terbaik.

Di Indonesia, bank bekerjasama dengan e-commerce untuk melihat kinerja UMKM dengan big data. Pemanfaatan big data juga membantu merekrut pelanggan dengan digital hingga tercipta open banking atau digital banking.

“Anda tidak harus datang ke bank untuk membuka rekening baru. Proses validasi, memanfaatkan big data. Perbankan adalah industri yang cukup maju dalam big data,” ungkap dia.

Ke depan, pertumbuhan bisnis infrastruktur Telkom tidak akan sebesar sekarang. Untuk itu, pihaknya akan ekspansi bisnis ke arah digital platform dan digital services, salah satunya big data. Contoh yang dikembangkan Telkom adalah Bigbox untuk mengolah data yang dimiliki.

People Analytics and HR Data Science Enthusiast, Heru Wiryanto menjelaskan bagaimana peranan people analytics saat ini. Seperti beberapa waktu lalu, pihaknya mengembangkan alat untuk merekam the human brain dan nervous system. Bahkan di salah satu kementerian, pihaknya mengukur integritas para pembuat komitmen.

“Misalnya sistem ini bisa mengidentifikasi kecenderungan pornografi dan tindakan asosial lainnya,” tutur dia.

Heru mengungkapkan, ada beberapa hal yang harus dimiliki jika ingin bergerak di people analytics. Di antaranya harus miliki big data, kemampuan story telling, visualisasi, dan psicological skill. Sebab percuma jika memiliki data tapi tidak bisa menceritakan dan menggambarkannya.

“Data tanpa story telling hanya akan menjadi tumpukan data,” ungkap dia.

Nugraha Priya Utama, Ph.D, STEI ITB saat memaparkan inovasi big data apa saja yang sudah dilakukan oleh ITB

Sementara itu, Pengajar pada Kelompok Keahlian Informatika STEI ITB Nugraha Priya Utama, Ph.D. menjelaskan pengorganisasia data berupa gambar dan video. Manusia, sambung dia, memahami sekitarnya dengan data yang diterima panca indera, kemudian disimpan di otak dan disimpan untuk menambah pengetahuan yang akhirnya akan digunakan untuk memutuskan sesuatu dan beraksi.

Dalam gambar dan video, data yang bisa diolah di antaranya background berupa lokasi, waktu, cuaca. Kemudian face berupa usia, gender, ekspresi, identitas, menghadap kemana. Lalu body terdiri dari pakaian, gestur, aktivitas, hair style, behaviourdan lainnya.

Dengan menggunakan big data, hal ini bisa dimanfaatkan banyak hal. Misal vaidasi data saat seseorang diminta memotret dirinya dengan KTP untuk mendaftar sesuatu. Sistem ini akan membantu mencocokkan data tersebut.

Hal ini pun telah diujicoba di ITB dengan memanfaatkan CCTV untuk melihat people counting and social distancing. Hal ini pun dimanfaatkan untuk melihat illegal parking detection hingga maping perkebunan.

Made Ariya Sanjaya, CEO Kazee Digital memaparkan dukungan puncak pimpinan tertinggi (CEO) sangat penting untuk komitmen penerapan budaya big data di perusahaan.

SBM ITB juga menghadirkan coaching pada siang harinya, yang memberikan tahapan penerapan pengolahan data di perusahaan, dengan para coach yang dihadirkan I Made Ariya Sanjaya, CEO Kazee Digital, Bey Arief Budiman, Yelowfin Indonesia, dan Muhammad Apriandito, Programmer Big Data & Business Analytics Laboratory (Datalab) SBM ITB.