Konten dari Pengguna

Mobilitas yang Membahagiakan

Pupung Arifin

Pupung Arifin

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pupung Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mobilitas di perkotaan. Foto: Magnific AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mobilitas di perkotaan. Foto: Magnific AI

Selama ini, komunikasi kota sering dipahami terlalu sempit. Sebuah kota dianggap komunikatif bila pemerintahnya rajin "muncul" di media, aktif menjawab aduan warga, memperbarui media sosial, memasang papan informasi, atau mempercepat layanan administrasi seperti KTP, kartu keluarga, dan perizinan usaha. Semua itu penting, tapi apakah sudah membuat warganya lebih bahagia?

Perlu dipahami bahwa sebuah kota juga berbicara melalui cara ia mengatur hidup sehari-hari warganya. Ia berbicara melalui jalan yang mudah dilintasi, trotoar yang nyaman, halte yang teduh, rute angkutan yang jelas, stasiun yang saling terhubung, dan ruang publik yang membuat orang ingin singgah. Kota yang baik bukan hanya kota yang memberi informasi, melainkan juga yang membuat warganya bahagia dan merasa dimengerti.

Di sinilah transportasi publik dapat menjadi salah satu ruang komunikasi tersebut. Bukan komunikasi dalam arti kampanye agar warga meninggalkan kendaraan pribadi atau sekadar informasi tentang rute dan pembangunan infrastruktur. Transportasi publik adalah bentuk komunikasi kota yang paling sehari-hari. Setiap pagi dan sore, warga membaca kotanya melalui pengalaman bergerak.

Berbagai pertanyaan reflektif barangkali menjadi penting untuk mengukur ruang komunikasi tersebut. Apakah perjalanan itu membuat cemas atau tenang? Apakah rutenya membingungkan atau mudah dipahami? Apakah perpindahan moda membuat lelah atau justru terasa wajar? Apakah kota memaksa setiap orang bertarung sendiri di jalan raya, atau memberi ruang bagi warga untuk bergerak bersama?

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (16/3). Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Mobilitas yang membahagiakan bukan perkara sepele. Di banyak kota, macet tidak hanya membuang waktu, tetapi juga menguras emosi. Orang berangkat kerja dengan tegang, pulang dengan letih, lalu membawa sisa stres itu ke rumah. Waktu untuk keluarga berkurang, dan energi sosial makin menipis. Kota akhirnya tidak hanya padat kendaraan, tetapi juga padat kejengkelan. Dalam situasi seperti itu, kendaraan pribadi yang semula dianggap simbol kebebasan justru berubah menjadi ruang individual yang memisahkan manusia satu sama lain.

Transportasi publik yang nyaman dan saling terkoneksi menawarkan pengalaman berbeda. Warga tidak lagi sepenuhnya terikat pada kendaraan pribadi. Mereka dapat berjalan kaki ke halte, berpindah ke MRT, melanjutkan perjalanan dengan BRT, KRL, LRT, atau ojek daring. Pilihan moda membuat kota terasa lebih terbuka. Warga tidak harus membawa kendaraan untuk hadir di ruang kota. Mereka percaya bahwa sistem akan membawanya ke tujuan masing-masing.

Di dalam pengalaman itu, komunikasi terjadi tidak selalu verbal, tetapi dalam bentuk yang lebih halus. Orang belajar mengantre, menahan suara agar tidak mengganggu penumpang lain, memberi tempat duduk kepada lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, atau penumpang yang lebih membutuhkan. Orang belajar berdiri rapat tanpa saling menyerobot dan belajar membaca gerak tubuh orang lain. Di ruang transportasi publik, warga kota dilatih untuk hidup bersama.

Karena itu, transportasi publik bukan hanya infrastruktur mobilitas, melainkan juga infrastruktur sosial. Ia mempertemukan warga dari berbagai kelas sosial dalam ruang yang sama. Pegawai kantor, mahasiswa, pekerja informal, pelaku kreatif, wisatawan, pelajar, dan keluarga muda dapat berbagi kereta, halte, koridor, dan trotoar.

Ilustrasi mobilitas di perkotaan. Foto Magnific AI

Dalam kendaraan pribadi, manusia kota sering terpisah oleh kaca, kelas, dan kepentingan masing-masing. Dalam transportasi publik, perbedaan itu tetap ada, tetapi tubuh warga saling berdekatan. Mereka menjadi bagian dari ritme kolektif kota.

Fenomena Blok M di Jakarta setidaknya dapat menjadi living lab bersama. Kawasan itu semakin hidup bukan semata karena ada gedung, toko, atau restoran baru. Blok M hidup karena mudah dicapai. MRT membuat kawasan itu terbaca kembali. Integrasi dengan moda lain, jalur pejalan kaki, ruang makan, pusat belanja, taman kota, dan ruang nongkrong membuat Blok M menjadi tempat yang enak didatangi tanpa kendaraan pribadi. Warga dari berbagai daerah datang tidak hanya untuk berpindah tempat, tetapi juga untuk hadir, bertemu, makan, berkomunitas, berjalan kaki, menunggu teman, dan atau sekadar menikmati suasana kota.

Nongkrong di Blok M akhirnya menjadi praktik komunikasi keseharian. Orang membangun identitas urban melalui tempat yang mereka datangi, makanan yang mereka pilih, foto yang mereka unggah, dan pertemuan yang mereka rayakan. Kota bukan lagi sekadar latar belakang. Kota menjadi medium pengalaman. Blok M berbicara kepada warganya dengan cara yang sederhana. Datanglah, berjalanlah, bertemulah, kamu tidak harus membawa mobil untuk merasa menjadi bagian dari kota ini.

Contoh lain juga bisa dilihat dari Dukuh Atas, Jakarta. Kawasan itu tidak hanya menjadi titik transit. Dukuh Atas pernah menjadi ruang performatif yang sangat kuat ketika fenomena Citayam Fashion Week muncul pada 2022. Anak muda dari wilayah penyangga datang ke pusat kota, tampil, dilihat, melihat, duduk, bercanda, dan menjadikan ruang transit sebagai panggung ekspresi. Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai keramaian belaka. Namun, dari perspektif komunikasi, peristiwa itu menunjukkan demokratisasi kehadiran di ruang kota.

Ilustrasi transportasi publik. Foto: Shutterstock

Transportasi publik memungkinkan warga dari pinggiran menjangkau pusat kota dengan lebih mudah. Ruang yang dahulu terasa milik pekerja kantoran dan kelas menengah perkotaan menjadi lebih cair. Anak muda dari berbagai latar dapat masuk, mengambil tempat, dan memproduksi makna. Dukuh Atas menjadi bukan hanya simpul MRT, KRL, LRT, Transjakarta, dan KA Bandara. Ia menjadi ruang sosial tempat kota memperlihatkan siapa saja yang boleh hadir di dalamnya.

Dalam konteks keberlanjutan dan SDGs, pembacaan ini penting. Transportasi publik memang berkaitan dengan pengurangan emisi, penurunan kemacetan, dan efisiensi energi. Namun, kontribusinya tidak berhenti pada angka lingkungan. Transportasi publik juga menyentuh SDG 11 tentang kota berkelanjutan, SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, serta agenda inklusi sosial. Kota yang berkelanjutan bukan hanya kota yang rendah karbon. Kota yang berkelanjutan adalah kota yang membuat warganya lebih waras, lebih terhubung, dan lebih punya waktu untuk hidup.

Maka, ukuran komunikasi kota perlu diperluas. Jangan hanya menilai kota dari seberapa banyak konten media sosial yang dibuat oleh pemimpinnya. Lihat juga apakah warganya dapat bergerak tanpa stres. Lihat apakah anak muda bisa berkumpul tanpa harus membawa kendaraan pribadi. Lihat apakah pekerja bisa tiba di rumah tanpa kelelahan yang berlebihan, dan lihat apakah orang dari pinggiran dapat hadir di pusat kota tanpa merasa asing.

Kota yang berbicara dengan baik bukan hanya kota yang pandai menyampaikan pesan. Kota yang berbicara dengan baik adalah kota yang memberi pengalaman hidup yang mudah dipahami. Transportasi publik yang terkoneksi, nyaman, dan manusiawi adalah salah satu bahasa paling penting dari kota modern. Melalui mobilitas yang membahagiakan, warga tidak hanya sampai ke tujuan. Mereka merasa kembali menjadi bagian dari sebuah kota.