Konten dari Pengguna

Pendidikan Karakter Tidak Menjadi Prioritas di Era Digital?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sylvi Purwihermawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dampak komentar negatif di media sosial terhadap mental remaja. Sumber: Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dampak komentar negatif di media sosial terhadap mental remaja. Sumber: Pixabay.com

Kecerdasan tidak lagi bisa dikatakan cukup untuk mengukur keberhasilan pendidikan.

Maraknya konten digital dan budaya instan menjadikan pendidikan karakter menjadi bagian paling genting, tapi seringkali terabaikan. Nilai-nilai seperti empati, toleransi, dan tanggung jawab kerap kali disuarakan dalam kurikulum dan pidato pendidikan. Namun, dalam praktiknya nilai-nilai itu hanya berhenti di atas kertas, tidak ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter lebih dari sekadar pelengkap kurikulum. Pendidikan karakter adalah fondasi dari proses membentuk generasi yang beradab dan bertanggung jawab. Sayangnya, sebagai akibat dari globalisasi dan munculnya teknologi digital, kualitas karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati mulai terkikis dan sering kali diabaikan dalam proses pendidikan formal. Tidak sedikit siswa yang tumbuh menjadi siswa yang cerdas secara akademis, namun miskin karakter. Kasus perundungan, intoleransi, dan bahkan kecurangan dalam ujian merupakan contoh nyata bahwa sistem pendidikan kita terlalu berfokus pada kecerdasan kognitif dan melupakan pembentukan karakter.

Pada era yang serba cepat dan penuh dengan distraksi media sosial, bentuk interaksi manusia ikut berubah. Generasi Z dan Alpha, mereka tumbuh dalam dunia dengan akses informasi yang tidak terbatas. Hari-hari mereka selalu dipenuhi dengan media sosial dan dunia digital. Di tengah-tengah itu, ada komentar, konten viral yang bahkan tidak bernilai, dan perundungan berkedok humor sering terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karekter mulai kehilangan pijakan.

Sebagai contoh nyata, beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa berprestasi menjadi korban komentar kejam di media sosial. Bukannya mendapatkan dukungan dan pujian, mahasiswa ini justru mendapat kecaman, hinaan, dan menjadi bahan olok-olokan di media sosial, seakan penampilan lebih penting daripada prestasi. Peristiwa ini mungkin telah mereda. Namun, yang disorot disini adalah bentuk rasa kemanusiaan, empati, dan moral. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Indonesia belum benar-benar memahami pendidikan karakter dan pedoman moral dalam beretika di media sosial. Bahkan, bebrapa komentar juga berasal dari orang dewasa, bukan hanya siswa. Hal ini semakin menunjukkan bahwa kegagalan pendidikan karakter tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga dalam masyarakat luas.

Pembelajaran di sekolah dalam Krikulum Merdeka telah menerapkan P5 dan menekankan pada pendidikan karakter. Sayangnya, pendidikan karakter sering kali hanya menjadi slogan atau formalitas saja. Sekolah-sekolah mengajarkan teori dan prinsip-prinsip Pancasila, tetapi dalam praktiknya, siswa belum sepenuhnya mampu menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Siswa juga lebih banyak hidup di dunia digital daripada di dunia nyata.

Berdasarkan informasi dari situs datareportal.com, terdapat 143 juta identitas pengguna media sosial yang aktif pada awal tahun 2025. Jumlah ini setara dengan 50,2% dari banyaknya seluruh penduduk di Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari setengah masyarakat di Indonesia, termasuk para pelajar, hidup dan melakukan interaksi di ruang digital setiap hari. Namun, ruang digital ini masih dijadikan sebagai tempat berkembangnya perundungan, body shaming, ujaran kebencian, dan komentar kejam yang bahkan tidak pantas. Ketika di sekolah mereka diajarkan pentingnya pendidikan karakter, maka mereka perlu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia digital. Jika mereka tidak bisa menerapkanya, maka sekolah telah gagal membentuk manusia yang beradab.

Pendidikan karakter pada dasarnya tidak hanya diajarkan di sekolah saja. Peran orang tua dan keluarga sangatlah penting. Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Pembentukan karakter pada anak akan lebih efektif ketika terjadi sinergi antara sekolah dan keluarga. Guru bisa menanamkan nilai moral, tapi orang tualah yang membiasakannya dari kecil. Jika pendidikan karakter masih terus dipandang sebagai pelengkap, maka Indonesia ini akan kehilangan generasi yang gagal menjadi manusia seutuhnya. Jadi, pendidikan karakter harus dijadikan sebagai prioritas bagi semua pihak dan dijadikan bagian dari kehidupan mereka, bukan hanya sebagai pelengkap dalam kurikulum.

Sylvi Purwihermawati, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Tidar