Saat Kita Lebih Memilih Curhat ke Orang daripada Muhasabah

Saya hanya lulusan SMA, pernah berkuliah selama hampir tujuh tahun di Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon namun tidak sampai selesai. Berprofesi sebagai wirausahawan. Hobi belajar dan menulis, memiliki minat terhadap dunia filsafat dan psikologi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Putra Nuzul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak dari kita lebih memilih curhat kepada teman, sahabat, keluarga atau siapa pun yang kita anggap mau mendengarkan dan mengerti apa yang sedang kita hadapi. Kita memang tidak terbiasa untuk ber-muhasabah, mengevaluasi segala keputusan, tindakan dan pikiran kita sendiri. Tapi bagaimana semua itu bisa terjadi? Bukankah curhat kepada orang yang salah akan sangat berisiko?
Pernahkah kamu merasa ingin sekali mengungkapkan segala unek-unek yang sudah lama kamu pendam? atau kamu justru sering bergantung kepada dukungan, perhatian, dan pendapat orang lain? Oleh sebab itu maka kamu cenderung memilih curhat. Sebab kamu hanya akan mendapat sekadar "kesadaran" jika kamu memilih untuk ber-muhasabah.
Keseharianmu sudah sangat sibuk untuk menyelesaikan tugas pekerjaan, berusaha segera lulus dari jenjang pendidikan yang sedang di tempuh, atau mencari cara untuk mendapatkan uang lebih banyak, dan berusaha tampil sebagai orang yang di hargai mahal.
Kamu tidak punya cukup ruang, waktu dan energi untuk mencari jawaban tentang resah di dalam hatimu, tentang kenangan pahit di ingatanmu yang kerap menjelma seperti hantu, atau tentang segala tanya yang terus bermunculan di kepalamu.
Kenapa? Apa? Bagaimana? Di mana? Ke mana? Kapan? Siapa? Semua tanya yang selalu tertuju kepada dirimu sendiri, bahkan tak sanggup untuk kamu jawab sendiri.
Keluargamu utuh, penghasilanmu jelas, pekerjaanmu terpandang, kamu juga mencintai dan dicintai. Tetapi kamu kerap kali tertawa untuk sesuatu yang tidak lucu, kamu juga sering menangis untuk sesuatu yang kamu sendiri tidak mengerti.
Semua terasa baik-baik saja dan berjalan seperti seharusnya saat kamu menjalani keseharian di tempat kerja, di sekolah atau di tempat ibadah. Tetapi saat menjelang tidur, pikiranmu kerap kali bertanya sesuatu yang tidak terjawab.
Kamu terkadang menginginkan sesuatu yang tidak ada di dalam dirimu. Kamu juga sering membayangkan hal-hal indah yang ingin kamu nikmati suatu saat nanti.
Hal-hal itu cukup mampu untuk membuat rasa kantukmu datang terlambat. Kamu merasa terbebani dan berpikir untuk membagikan ceritamu dengan orang yang kamu sayangi. Berharap ia bisa membantumu keluar dari kemelut itu.
Saat akhir pekan datang, kamu segera menyempatkan waktu menghubungi seseorang, memintanya menemanimu pergi ke suatu tempat untuk sekadar mendengarkan cerita darimu.
Kamu berpikir untuk membuang unek-unek itu dan berharap semuanya berlalu agar kamu dapat kembali menikmati hari-harimu seperti saat remaja dulu. Kamu lalu bersiap pergi bersamanya, menghela napas panjang dan berdoa di dalam hati.
“Semoga hari ini indah,” gumammu penuh harap.
Roda pun mulai berputar, pemandangan di sekitar terus berubah dan obrolan di antara kalian mulai mengalir perlahan, seperti aliran air di antara padi yang menghijau.
Ia mulai bertanya keseharianmu, tapi kamu menjawabnya dengan singkat. Suasana sempat agak kaku tetapi ia lalu berusaha mengajakmu membicarakan tempat yang kalian tuju. Menceritakan pengalaman saat berkunjung ke tempat yang serupa.
Mengenang beberapa kejadian lucu dan tentang indahnya masa lalu yang pernah kalian lalui bersama, benar-benar telah mampu mengalihkan duniamu. Kamu sungguh merasa beruntung memiliki hubungan yang seindah itu bersama orang yang sangat kamu cintai.
Selang waktu berjalan, kamu kembali dengan rutinitas pekerjaan yang berulang. Kamu juga mulai memusingkan beberapa target yang gagal kamu dapatkan. Kamu merasa lelah, sedih dan kecewa seolah kamu adalah orang paling menderita di dunia ini.
Sesegera mungkin kamu mulai mencarinya. Berharap dia selalu ada dan selalu bersedia untuk mengerti segala yang sedang kamu derita.
Tapi tiba-tiba dia tak dapat di hubungi, ia nampak mulai acuh terhadapmu. Ia bilang, ia lelah menjadi badut yang senantiasa harus menghiburmu. Ia juga lelah untuk mendengarkan keluhanmu yang itu-itu saja. Lantas Ia memberitahumu, jika semua orang juga punya masalah. Ia bilang semua orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
“Masalah itu milikmu! Kamu yang bikin, dan aku sama sekali gak berhubungan dengan semua yang kamu keluhkan. Mulai sekarang kamu urus diri kamu sendiri!” ucapnya lewat sebuah pesan singkat.
Sejak saat itu kamu sadar tentang tak semua hal dapat kamu bagi, bahkan dengan seseorang yang sangat mengerti dan peduli denganmu. Kamu juga mulai belajar tentang cara mengetahui dirimu sendiri tanpa mengandalkan pendapat dan saran dari orang lain.
Kamu tertawa lepas sendirian, menertawakan sikap kekanak-kanakanmu yang selalu merepotkan orang lain. Kamu juga menangis tersedu sendirian, menyadari betapa orang-orang sudah sangat baik untuk bersedia memikirkan masalah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan diri mereka.
Kamu sekarang tahu betapa kamu terlalu banyak membeli barang yang tidak terpakai. Membayar terlalu mahal hanya untuk menyenangkan diri sendiri, dan meminta terlalu banyak perhatian dan apresiasi hanya untuk meyakinkan ragumu tentang perasaan orang-orang yang mencintaimu.
Terkadang kamu masih sulit untuk tidur, tapi sekarang kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sebelum tidur. “Bermuhasabah di dalam sepi lebih baik ketimbang curhat demi sebuah perhatian,” ucapmu selepas beribadah.
Mungkin yang selama ini kita kira sebagai “curhat” sebenarnya adalah curahan syahwat dan nafsu diri kita sendiri, atas sesuatu hal yang tidak menemukan tempat untuk dilampiaskan, bukan soal curahan hati yang selama ini kita sangka. Sebab hati hakikatnya lembut, penuh kasih sayang dan cinta. Bukan berisi tuntutan!
