Perempuan Muda Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Nama: Putri Wardani Alamat: Subang profesi: pelajar/ mahasiswa Institusi: Universitas Pamulang
Tulisan dari Putri Wardani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan berkeluarga mempunyai peran yang berbeda-beda baik itu perempuan maupun laki-laki. Setiap gender mempunyai fungsinya masing-masing. Namun, berhubungan dengan peran ini dianggap hanya sebuah tanggung jawab yang sebagai wajib.
Namun, pada dasarnya laki-laki itu sudah ciri khasnya sebagai tanggung jawab dalam keluarga dan sebagai pemimpin kepala keluarga. Namun, tanpa kita sadari perempuan juga bisa tanggung jawab keluarga atau bisa dibilang tulang punggung keluarga dengan disebabkan beberapa hal.
Menurut saya, diperbolehkan seorang perempuan sebagai tulang punggung keluarga dengan alasan menginginkan dan mengurangi beban suaminya. Perempuan untuk sebagai tulang puggung keluarga tidak memandang usia, dengan adanya perempuan diperbolehkan sebagai Tulang punggung keluarga yang ada dipikiran kita hanya mencari uang untuk menghidupkan keluarga.
Alasan pertama perempuan sebagai tulang punggung keluarga, yaitu dikarenakan suami yang sudah meninggal yang sudah sebagai faktor sering terjadinya di kalangan masyarakat. Alasan yang kedua adalah sebagai tulang punggung keluarga, yaitu yang sudah bercerai dari suami. meskipun keduanya sudah berpisah mereka tetap kompak dan menyampingkan egonya dengan alasan ada seorang anak dari suami tetap memberikan nafkah untuk anaknya. Ada juga ketika mereka berpisah dengan alasan masing-masing secara otomatis istri menggantikan peran sebagai seorang istri atau ibu bagi anaknya. Dan alasan yang ketiga adalah sebagai tulang punggung keluarga, yaitu seorang anak perempuan yang sudah ditinggalkan oleh orang tua meninggal dunia sehingga anak perempuan tersebut yang harus menggantikan posisi orangtuanya. Dan alasan yang terakhir sebagai tulang punggung keluarga adalah dikarenakan suami yang mulai malas-malasan bekerja sehingga secara otomatis seorang istri yang harus menggantikan peran sebagai suami untuk sebagai tulang punggu keluarga.
Dari beberapa alasan di atas, saya berpikir bahwa seorang perempuan mampu sebagai tulang punggung keluarga untuk menggantikan seseorang laki-laki, terlebih khususnya bagi anak perempuan yang sudah ditinggalkan oleh orang tuanya meninggal dunia atau sebagai anak pertama di dalam keluarga yang di mana ia harus mampu membangun rumah tangga, tanpa adanya bantuan dari orang tua.
Ia merasa situasi dan keadaan tiap orang berbeda satu sama lain, ada yang terlahir serba berkecukupan dan bisa menikmati banyak hal dengan mudah tanpa harus bekerja keras, ada juga yang harus bekerja lebih keras karena harus memenuhi kebutuhan keluarga. Bagi perempuan yang harus memenuhi kebutuhan keluarga dan sebagai tulang punggung keluarga jelas tidak mudah untuk menghadapi berbagai tekanan yang ada sebagai perempuan pencari nafkah utama di keluarga kita harus menghadapi banyak tekanan dan cibiran meskipun begitu kita punya sejumlah kelebihan dan kehebatan sendiri.
Maka dari itu membuat perempuan muda tersebut tidak mengenal lelah untuk mencari nafkah karena hidup itu pilihan kalau tidak suka dengan suatu keadaan ubahlah keadaan itu, jika tidak bisa diubah keluarlah dari keadaan itu jangan mau sebagai beban orang lain jangan mau sebagai sapi perah, biasanya orang yang suka membebani tidak akan berhenti begitu saja, karena itu akan berjalan yang akan berkelanjutan sampai seumur hidup.
Pada satu tahun lalu bapak presiden Joko Widodo mengadakan PSBB (Pembatasan Sosial Berkala Besar) di mana masa saat itu, DKI jakarta yang pertama mengadakan PSBB. Sehingga para masyarakat merasa kesulitan untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya terutama bagi para perempuan tulang punggung keluarga, akan tetapi sebagai tulang punggung keluarga tidak boleh mengenal yang namanya menyerah. Pada saat pandemi banyak perusahaan yang melalukan restrukturisasi karyawan yang lama saat itu banyak karyawan banyak di PHK.
Kemandirian adalah merupakan sikap atau perilaku individu yang ingin membuat kebebasan tanpa adanya terkait aturan untuk melalukan sebuah keinginan pada diri sendiri untuk memenuhi suatu kebutuhan, atau meraih perentasi dengan penuh ketekanan, mampu melakukan suatu pekerjaan tanpa meminta bantuan kepada orang lain, mampu berfikir dan bertindak secara rasional, namun berfikir secara kreatif dan memiliki inisiatif dan memiliki rasa percaya diri terhadap kemampuan sediri dan dapat diandalkan banyak orang.
Berdasarkan data yang saya temukan, yang pertama pemuda miskin yang masih dalam pertumbuhan telah sebagai tulang punggung keluarga. Badan pusat statistik (BPS) melaporkan mencapai 11,21% pemuda merupakan sebagai kepala rumah tangga pada tahun 2021.Di dalam undang-undang No. 40 tahun 2009 adalah warga negara indonesia yang berusia 16-30tahun. Dalam usia ini merupakan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan. Dilihat dari jenis kelamin, 2,23% merupakan perempuan. Status ekonomi, pemuda kepala rumah tangga yang memiliki status ekonomi 20% teratas sebesar 17,92% sementara 40% menengah sebanyak 10,44n 40% terbawah sebanyak 7,99%.
Berdasarkan data yang saya temukan di berbagai sumber, dibeberapa daerah di Indonesia meningkat secara signifikan tepatnya pada tahun lalu, dari masalah-masalah banyak perempuan yang harus mencari nafkah sendiri.
Ada juga wawancara saya dengan narasumber, A.S dia adalah seorang perempuan muda sebagai tulang punggung keluarga dengan alasan sebagai anak pertama dari 3 bersaudara dengan keadaan orang tuanya sudah meninggal yang mana dia harus sebagai tulang punggung keluarga. Ia bekerja keluar kota dan meninggalkan adik-adiknya yang ia titipkan kepada nenek dari almarhum ibunya, selain ia sebagai anak yatim piatu ia juga sebagai tulang punggung keluarga. Yang terakhir narasumber saya bernama S.I dia adalah seorang perempuan muda sebagai tulang punggung keluarga dengan alasan dia anak tunggal di keluarganya sendiri.
Dari hasil wawancara saya dengan dua narasumber, saya bisa membuat sebuah opini yang mana saya setuju aja jika perempuan menghasilkan uang sendiri dengan alasan ingin mengurangi beban orang tua atau menggantikan posisi orang tua sebagai pencari nafkah.
Dengan melihatnya berbagai masalah yang dihadapi narasumber saya memberikan gambaran tidak hanya laki-laki saja yang harus sebagai tulang punggung keluarga, perempuan pun bisa sebagai tulang punggung keluarga dan jangan pernah menyerah dalam mencari nafkah untuk kehidupan kita terlebih pentingnya yang sudah ditinggalkan orang tuanya meninggal dunia.
