Snowplow Parenting: Pola Asuh yang Membunuh Kedewasaan Sang Buah Hati

Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Putrianti VN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah gak sih Moms, terlalu ikut campur terhadap kehidupan sang buah hati hingga turun tangan untuk menghilangkan segala rintangan yang ada di depan anak? Hati-hati loh Moms, bisa jadi Moms menganut Snowplow parenting.
Snowplow parenting merupakan istilah yang merujuk pada pola asuh anak di mana orang tua ikut campur dalam menyingkirkan segala rintangan yang menghalangi anak untuk sukses. Sebelumnya, ada juga helikopter parenting, di mana orang tua terlalu mengawasi segala kegiatan anaknya, sehingga anak tumbuh berkembang tidak sesuai keinginannya.
Snowplow parenting ini bentuk pola asuh yang terlalu obsesif terhadap anak, karena bukan hanya menjadi pengawas, orang tua juga menjadi mesin untuk melancarkan jalan sang anak, sehingga anak tidak akan tahu bagaimana menggapai masa depan dengan cara dan perjuangan yang berat. Penelitian sebelumnya, dikatakan bahwa semakin banyak campur tangan orang tua terhadap anak, maka anak akan tumbuh menjadi tidak mandiri dan selalu bergantung kepada orang lain (Taylor, 2009).
Hati-hati, karena efek Snowplow parenting terhadap anak sangatlah buruk. Berikut beberapa efek yang ditimbulkan dari pola asuh ini:
Menjadikan anak malas dan lemah dalam problem solving
Moms, pernah gak sih ngerjain pekerjaan rumah sang buah hati agar mendapat nilai yang baik di sekolah? Ternyata, kebiasaan orang tua yang selalu membantu sang anak ketika berada di dalam fase sulit, akan menciptakan anak yang malas untuk mencari jalan keluar sehingga kemampuan untuk memecah masalah akan lemah. Apabila Mom terus melakukannya, anak akan selalu bergantung terhadap orang tua dan akhirnya tidak akan berusaha mencari jalan keluarnya sendiri.
Menjadikan anak tidak kreatif
Pernah gak sih Moms, merasa kalau kita lah yang merusak ide-ide kreatif sang anak karena terlalu ikut campur terhadap masalahnya. Hal ini karena, kesempatan sang anak untuk menggunakan ide-ide kreatif telah Moms ambil alih, sehingga anak tidak bisa menerapkannya.
Menurunkan rasa tanggung jawab
Sebagai orang tua, melakukan segala cara untuk menjadikan anak mendapatkan masa depan yang cerah merupakan hal yang lumrah. Namun apabila obsesinya terlalu berlebihan, akan berdampak kepada kepribadian sang buah hati yaitu menurunnya rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Menjadi orang tua yang terlalu obsesif itu gak baik ya Moms. Menurut Locke, Campbell, Kavanagh (2012), Dalam penelitiannya dikatakan bahwa terlalu banyak campur tangan orang tua terhadap sang anak, dapat menurunkan kemampuan bertahan hidup dan rasa tanggung jawab.
Menurunkan kemampuan resiliensi
Kita semua pasti tahu, bahwa setiap orang yang hidup pasti akan mati. Mom juga begitu, gak selamanya kalian tetap ada di sisi sang buah hati. Kemampuan resiliensi sangatlah dibutuhkan sang anak untuk untuk beradaptasi, menghadapi trauma dan bangkit dari masalah hidup. Kemampuan ini diperoleh kalau orang tua tidak terlalu ikut campur dalam mengatasi masalah hidup sang anak, sehingga anak akan belajar bagaimana bertahan dalam suatu masalah.
Menumbuhkan kepribadian narsistik
Ternyata pada penelitian sebelumnya, dikatakan bahwa keterlibatan orang tua yang berlebihan dapat menumbuhkan kepribadian narsistik (Hurley, 2017). Mom pasti sudah tahu kalau kepribadian ini akan menjadikan anak merasa superior, sombong dan unggul dari yang lain. Sehingga menganggap orang di sekitarnya rendah.
Namun, jangan khawatir Mom, karena ada beberapa cara untuk menghindari snowplow parenting:
Percaya terhadap kemampuan anak
Pertama memang sulit, sebagai orang tua pasti Moms ingin melihat sang buah hati terhindar dari masalah dan situasi yang sulit, Namun membiarkan anak untuk terjun dalam masalahnya akan lebih baik. Jadi, dari pada menjadi pengganti sang buah hati dalam menghadapi masalah, lebih baik Moms menjadi temannya dan menemaninya mengatasi masalah tersebut dan mempercayakan segala kemampuannya. Karena menurut pandangan saya sebagai anak, hal ini sangat meningkatkan kepercayaan diri kita terhadap kemampuan sendiri.
Mengapresiasi proses anak
Sebagai orang tua, Moms jangan terlalu fokus pada kelemahan anak dan menghakimi anak dengan mudahnya. Alangkah lebih baik jika Moms memberikan pujian secara spesifik. Contohnya, dari pada mengatakan "kamu sangat buruk dalam matematika" lebih baik mengatakan "kamu sudah berusaha dalam dalam ujian, dan itu sudah lebih baik dari kemarin".
Memberikan contoh
Hampir semua orang tua pasti sering melakukan ini, ketika mengajari sang anak bertindak sebagai individu yang menggantikan anak untuk mengerjakan tugas dari pada memberikan contoh. Dalam hal ini, Moms perlu membatasi diri dengan bersikap sebagai pendamping sekaligus pemberi contoh untuk sang buah hati. Sehingga anak dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang lebih maksimal.
Mendengarkan kemauan anak
Orang tua mana sih yang gak mau anaknya memiliki kehidupan yang sempurna di masa depan, tapi kadang banyak yang lupa kalau kesempurnaan yang diharapkan orang tua belum tentu sesuai dengan kemauan sang buah hati. Moms sebagai teman terdekat sang buah hati, harus mencoba mendengarkan kemauan sang anak, karena belum tentu kesempurnaan yang kita idamkan memberikan kebahagiaan pada anak nanti di masa depan.
Oleh karena itu, menurut saya, Snowplow parenting merupakan pola asuh yang tidak baik. Moms harus memberi kesempatan sang buah hati untuk maju melawan masalahnya sendiri, karena itu bukan suatu hal yang buruk dan mengkhawatirkan. Kehidupan masa depan sang buah hati, akan lebih baik jika merupakan hasil jerih payah anak itu sendiri. Karena hal ini akan mengajarkan anak keterampilan bertahan hidup dan bertanggung jawab.
Referensi:
Taylor, M. (2009). Meet the parents: Managing for student success. A collection of papers on self-study and institutional improvement. Chicago, IL: The Higher Learning Commission.
Locke, J. Y., Campbell, M. A., & Kavanagh, D. (2012). Can a parent do too much for their child? An examination by parenting professionals of the concept of overparenting. Journal of Psychologists and Counsellors in Schools, 22(2), 249-265.
Herrman, H., Stewart, D. E., Diaz-Granados, N., Berger, E. L., Jackson, B., & Yuen, T. (2011). What is resilience?. The Canadian Journal of Psychiatry, 56(5), 258-265.
Hurley, A. (2017). Her majesty the baby: Narcissistic states in babies and young children. Journal of Child Psychotherapy, 43(2), 192-207. doi:10.1080/0075417X.2017.1323942
