Gap Year vs Stigma Masyarakat

Mahasiswi Unpad yang suka mengeksplor tempat-tempat hidden gem di setiap sudut kota
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Putri Kunaefi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertengahan tahun menjadi momen yang paling ditunggu bagi mereka yang sedang memperjuangkan mimpi menuju perguruan tinggi. Menjelang pengumuman UTBK-SNBT 2023 beredar twit yang sempat viral beberapa hari yang lalu di akun base @sbmptnfess.
Twit tersebut mengunggah screenshoot salah satu komen yang berbicara mengenai betapa nahasnya jika seseorang memilih gap year. Lebih dari 4 ribu likes dan 2 ribu komen, twit ini menjadi perbincangan hangat oleh netizen.
Lantas, apa yang membuat orang memandang gap year sebagai sebuah kesalahan atau sesuatu yang seharusnya dihindari?
Dilansir dari situs indeed.com, gap year adalah waktu di mana seseorang terlibat dalam aktivitas non-akademik. Biasanya terjadi saat seseorang sebelum melanjutkan pendidikan.
Istilah ini juga tidak hanya merujuk ke kegiatan akademik, tetapi juga di dunia kerja. Diistilahkan sebagai tahun istirahat, di mana seseorang dapat melakukan aktivitas yang diinginkannya, misal travelling, menjadi sukarelawan, mendalami hobi, atau aktivitas lainnya.
Masyarakat Indonesia kerap menganggap gap year sebagai suatu hal yang membuang-buang waktu atau kasarnya menghabiskan umur. Sebab, ada yang namanya pandangan tidak tertulis pada masyarakat Indonesia yang selalu menganggap kehidupan layaknya arena balap.
Misalnya, setelah lulus SMA langsung kuliah kemudian lanjut kerja dan menikah. Bahkan, sampai menikah pun tetap diburu dengan pertanyaan kapan punya anak.
Tentu arena balap kehidupan ini menjadi tekanan tersendiri, apalagi bagi mereka yang sedang berjuang ujian masuk perguruan tinggi.
Twit tersebut semakin ramai saat selebtwit Aurelia Viza dengan akunnya @senjatanuklir yang memiliki lebih dari 200 ribu followers ikut mengomentari,
“After spending few years abroad, I realize that our conception of time is so limited, as if our life ends at the twenties. Nikah umur 20an, kuliah harus lgsg abis lulus SMA, orang gap year 1-2 tahun dianggap tua banget. Padahal di luar byk yg BY CHOICE mulai S1 umur 25-28an.” tulis Aurel pada akun twitternya.
“Tapi gue jg maklum karena obsesi akan kemudaan ini jg eksis di dunia pekerjaan. Mungkin orang-orang takut gap year padahal cuma 1-2 tahun karena worry cepet gak menarik lg dan dianggap ketuaan sama recruiters. Padahal kadang ga masuk akal juga maks umurnya,” lanjut Aurel.
Hal yang dikatakan Aurel memang mencerminkan apa yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Masyarakat kita akan cepat menganggap bahwa yang muda lah yang ‘laku’.
Sehingga, patokan umur ini menjadi tekanan tersendiri bagi mereka yang memilih gap year. Padahal, setiap orang merencanakan hal berbeda-beda dalam hidupnya. Mereka tidak perlu dikejar oleh stigma umur yang sayangnya masih kental di masyarakat kita.
Bahkan sekelas Harvard University pun, universitas dengan terbaik ranking 5 di dunia menurut QS World University Rankings 2023, menyarankan seseorang untuk gap year sebelum memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya.
Hal itu ditulis pada laman situs mereka bahwa We encourage admitted students to defer enrollment for one year to travel, purse a special project or activity, work, or spend time in another meaningful way - provided they do not enroll in a degree-granting program at another college.
Salah satu pejuang PTN, Ridwan Luhur Pambudi (21) mengungkap pendapatnya soal pandangan masyarakat Indonesia tentang gap year. Yang mana dirinya pun sempat mengambil keputusan gap year saat sedang mengejar jurusan impian.
“Stigma masyarakat tentang gap year ini cenderung negatif ya karena dianggap gap year adalah anak-anak bodoh yang gagal. Padahal, nyatanya, anak-anak ini nilainya bagus tetapi tidak lolos seleksi. Di sisi lain anak-anak yang nilainya lebih rendah akan terlalu sombong karena berhasil lolos seleksi. Sebab, sistem UTBK-SBMPTN atau seleksi mandiri lainnya berdasarkan pilihan jurusan, bukan keseluruhan peserta yang mendaftar,” kata Ridwan.
Meski begitu, tidak semua masyarakat kita menganggap gap year sebelah mata. Apalagi bagi orang yang dapat berempati karena tahu bahwa proses masuk perguruan tinggi itu tidak semudah yang dibayangkan dan dapat merasakan bahwa berat rasanya untuk memilih keputusan gap year di tengah stigma masyarakat.
“Gap year gak berarti gagal sih, start orang berbeda-beda. Mau startnya lebih dulu atau belakangan kalau memang bersungguh-sungguh ya pasti nyampe juga,” ucap Rakin (20), seorang mahasiswa yang tidak merasakan gap year tetapi berempati terhadap mereka yang gap year.
Setiap pilihan pasti ada baik-buruknya, ada risiko dan tanggung jawabnya. Akan tetapi, bukan berarti gap year menjadi pilihan yang mutlak salah.
Melalui gap year, seseorang dapat mempelajari hal atau skill baru yang sebelumnya tidak pernah dicoba, dapat beristirahat sejenak dari segala kerumitan, dan dapat memahami diri lebih mendalam. Gap year dapat menjadi pilihan yang bijak jika seseorang dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
