Konten dari Pengguna

Menyelami Samudra Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Quran Buddy Indonesia

Quran Buddy Indonesia

Your Buddy for Exploring the Miracle of Quran

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Quran Buddy Indonesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berdoa. Dok: REUTERS/Waseem Khan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berdoa. Dok: REUTERS/Waseem Khan

Setiap kali hendak membaca sebuah surah di dalam Al-Qur'an, maka kita akan mengawalinya dengan membaca lafaz basmalah, yang berbunyi:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Bismillahirrahmanirrahim

Ada 99 nama indah yang Allah miliki dan kita bisa mengetahuinya, juga ada nama-nama Allah yang indah namun Dia merahasiakannya dari para hamba-Nya. Ketika seseorang mengucapkan atau mendengar kata “Allah” maka yang terlintas dibenaknya adalah segala sifat kesempurnaan. Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Maha Kaya, Maha Pengampun, Maha Suci dan masih banyak lagi.

Begitu banyak sifat Allah yang diperkenalkan kepada hamba-Nya, namun yang tepilih dalam lafaz basmalah hanya dua sifat, Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Dan betapa banyak lembaran-lembaran Al-Qur’an yang menyebut dua nama indah tersebut.

Agaknya kedua sifat itulah di antara yang paling dominan bagi-Nya. Sebagaimana dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tatkala Allah menciptakan para makhluk, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisinya-Nya di atas ‘Arsy, “sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” [HR. Bukhari No. 6855]

Ar-Rahman dan Ar-Rahim, kita memaknainya “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, lantas apakah Allah juga melimpahkan kasih sayangnya kepada makhluknya yang tidak mau taat kepada-Nya?

Ilustrasi Membaca Al-Quran. Dok: Iqbal Firdaus/kumparan

Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Meskipun keduanya berasal dari asal kata yang sama (yaitu Rahmah), akan tetapi keduanya memiliki makna yang berbeda

Ar-Rahman merupakan nama di antara nama-nama Allah dan menunjukkan makna rahmat yang luas. Sedangkan, Ar-Rahim merupakan nama bagi Allah yang menunjukkan makna pemilik rahmat yang senantiasa melimpahkannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Allah telah menegaskan luasnya rahmat dan kasih sayang-Nya dalam firmanNya:

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat (kasih sayang) Ku meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’raf : 156)

As-Sa’di -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata

“Dan rahamat-Ku meliputi segala sesuatu” yaitu meliputi seluruh makhluk yang di atas dan yang dibawah, meliputi orang baik dan orang fajir, orang mukmin dan orang kafir. Tidak ada satu makhlukpun kecuali rahmat Allah telah sampai kepadanya, Allah mencurahkan karunia dan anugrahnya kepadanya” (Taisi Ar-Rahman Fii Tafsiri Al-Qur’an, hal. 585)

Kasih Sayang Allah untuk Hamba-Nya yang Penuh Dosa

Allah memerintahkan melalui lisan Rasulullah yang mulia shallallahu ‘alahi wa sallam agar umatnya ketika hendak melakukan suatu hal kebaikan maka awalilah dengan ucapkanlah “bismillahirrahmanirrahim”. Di antara hikmahnya adalah untuk senantiasa mengingatkan kepada kita bahwa kasih sayang Allah sangatlah luas bagi semua makhluknya, jauh lebih luas dibanding samudra di mana pun.

Di sebuah perusahaan, ada seorang karyawan yang selalu melanggar aturan-aturan yang ada. Mulai dari tidak tepat waktu, mengambil hak orang, dan sering sekali berbohong mencari alasan. Kehadirannya banyak membawa dampak negatif bagi sekitarnya. Rasanya wajar sekali jika majikannya memarahinya, dan bahkan mengeluarkannya dari perusahaan tersebut.

Jika kita coba merenunginya, sejatinya kita tidak jauh berbeda dengan karyawan tersebut. Bagaimana tidak, kita adalah seorang hamba yang diciptakan untuk mengabdi hanya kepada-Nya. Namun, pasti kita semua menyadarinya bahwa ada banyaknya aturan-aturan Allah yang belum kita indahkan, dari hal yang terkecil hingga besar.

Ilustrasi Muadzin. Dok: Reuters/Ammar Awad

Misalnya, ketika Allah memanggil untuk salat, mungkin kita masih sibuk dengan ini dan itu seolah-olah kita tidak mendengar panggilan tersebut. Dan tentunya banyak sekali bentuk dosa lain yang pernah kita lakukan kepada-Nya.

Meski begitu, Allah tetap melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita, diantaranya:

Pertama: Allah menutupi semua dosa dan aib yang pernah kita lakukan dan tidak ada yang tahu kecuali diri kita dengan Allah. Sungguh ini merupakan kasih sayang Allah yang sangat besar. Karena sejatinya ketika kita mendapat rasa sayang dan hormat dari seseorang, hal itu bukan karena kita adalah seseorang yang layak mendapatkannya melainkan Allah telah menutupi aib-aib yang pernah dilakukan.

Seandainya satu dua aib kita dibongkar oleh Allah maka tak satu pun orang yang akan memandang baik kepada kita.

Sebagaimana perkataan Muhammad bin Wasi’ rahimahullah: “Kalau seandainya dosa-dosa itu ada baunya, niscaya tidak seorangpun yang akan duduk dekat denganku.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/120)

Berkata pula seorang penyair: “Demi Allah seandainya mereka mengetahui hakekat rahasiaku tatkala aku bersendirian, maka setiap orang yang bertemu denganku tidak akan mau memberi salam kepadaku.” (Nuniyah Al-Qahthany)

kumparan post embed

Kedua: Allah tidak mengazab pelaku maksiat ketika dia sedangkan melakukan maksiat tersebut. Apalah arti semua kebahagiaan di dunia jika pada akhirnya ia mati dan menghadap Allah dalam keadaan bermaksiaat kepada-Nya. Karena kasih sayang-Nya maka Dia terus memberi waktu dan kesempatan agar kita bisa bertaubat kepadanya.

Ketiga: Allah membuka pintu yang sebesar-besarnya bagi siapa saja yang ingin bertaubat, sebanyak apapun dosa yang ia pernah perbuat. Melalui firman-Nya Allah menyampaikan kasih sayang-Nya:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Az-Zumar : 53)

Ilustrasi Ibu dan Anak. DOk Shutterstock/kumparan.

Muhammad Ali Adam al-Etsyubi menuturkan sebuah cerita dalam kitabnya:

Ada seorang pemuda sahabat Dzin Nuun yang berjalan tak tentu arah seraya berseru, “Aduuuh, dimana hatiku? Siapakah yang menemukan hatiku?"

Maka suatu hari ia melewati sebuah gang yang mana disana ia mendapati seorang anak kecil yang sedang menangis sementara ibunya memukulinya. Lalu ibunya mengeluarkan anak tersebut dari rumah dan mengunci pintu rumah. Sang anak pun hanya bisa melihat ke kanan dan ke kiri, ia tidak tahu harus kemana pergi, kemana ia harus menuju.

Dengan sedikit berlari lalu ia pun kembali ke pintu rumah, dengan air matanya mulai meleleh seraya berkata, “Wahai ibu, siapakah yang akan membuka kan pintu jika engkau telah menguncinya? Siapa yang mendekatiku jika engkau telah mengusirku? Siapakah yang mendekatiku jika engkau telah marah kepadaku?"

Mendengar hal itu ibunya pun menjadi iba kepadanya. Lalu sang ibu melihat dari celah-celah pintu, maka ia mendapati anaknya sedang mengalirkan derasnya air mata hingga membasahi pipinya sambil menghamparkannya ke tanah.

kumparan post embed

Maka sang ibupun membukakan pintu lalu mengambil sang anak dan meletakannya di pangkuannya lalu menciumnya dan berkata, “Wahai buah hatiku, wahai sayangku, engkaulah yang menjadikan ibu melakukan ini semua, engkau yang menyebabkan ini menimpamu. Kalau engkau taat kepadaku tentulah aku tidak akan melakukan ini kepadamu nak."

Setelah melihat kejadian tersebut maka pemuda ini pun seperti mendapatkan sesuatu, lalu ia berdiri dan berteriak, “Sungguh aku telah menemukan hatiku, sungguh aku telah menemukan hatiku” (Dzahiratu Al-’Uqba Fii Syarh Al-Mujtaba, juz 40 hal. 409-410)

“Demi Allah, kasih sayang Allah kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.”

=====

Penulis: Biruni Dzalfa, mahasiswa LIPIA Jakarta.

=====

  • Taisi Ar-Rahman Fii Tafsiri Al-Qur’an, karya Syaihk ‘Abdurrahman bin Nashir bin Sa’di, hal. 585 jilid 3

  • Syarh Tsalatsatul ushul, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, hal. 18 (cetakan kedua tahun 1326H/2005M, penerbit darul tsariya)

  • Dzahiratu Al-’Uqba Fii Syarhi Al-Mujtaba, karya Muhammad bin Asy-Syaikh Al-’Allamah ‘Ali bin Adam Al-Etyubi, juz 40 hal. 409-410 (cetakan pertma tahun 1424H/2003M, penerbit Dar Ali Burum Lin Nasyri Wat Tauzi’)

  • Luasnya Rahmat Allah Bahkan kepada Pelaku Maksiat

  • Mulailah dengan Bismillah

=====

Walaupun #dirumahaja karena wabah virus Corona, kita harus tetap semangat belajar Al-Quran yaa! #kuatbersama

Yuk like, follow dan share akun ini jika kamu ingin belajar dan mendalami Al-Quran bersama Quran Buddy. Kamu juga bisa loh mengikuti @quranbuddy.id di Instagram.