Konten dari Pengguna

Gaza dan Dunia: Kelaparan adalah Senjata yang Ampuh

Raden Ayu Shania Nurul Fadhilla

Raden Ayu Shania Nurul Fadhilla

Mahasiswi Hubungan Internasional

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raden Ayu Shania Nurul Fadhilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka menunggu makanan di Kamp Al-Shaboura, di pusat Rafah, Gaza, pada 17–18 Desember 2023. Kredit foto: WHO.
zoom-in-whitePerbesar
Orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka menunggu makanan di Kamp Al-Shaboura, di pusat Rafah, Gaza, pada 17–18 Desember 2023. Kredit foto: WHO.

Krisis kemanusiaan di Gaza memasuki babak paling gelap. Lebih dari dua juta warga sipil kini berjuang hanya untuk mendapatkan makanan. Setengah juta di antaranya menghadapi kelaparan akut, sebagian besar anak-anak tidur dengan perut kosong.

Bukan karena bencana alam. Bukan gagal panen. Ini akibat keputusan politik: menjadikan lapar sebagai senjata perang.

Sejak awal Maret 2025, bantuan pangan tertahan di perbatasan. Laporan FAO dan WFP menunjukkan konsumsi kalori warga Gaza berada jauh di bawah batas “bertahan hidup”. Dalam hukum humaniter internasional, menjadikan kelaparan sebagai strategi perang adalah kejahatan yang tak bisa dibenarkan.

Namun dunia tampak pasif. Banyak negara donor menunggu deklarasi resmi “bencana kelaparan” sebelum bertindak. Sementara itu, setiap hari anak-anak meninggal karena kurang gizi. Di ruang rapat diplomatik, empati sering kalah oleh prosedur.

“Perdamaian sejati hanya ada jika kebutuhan dasar manusia terpenuhi,” ujar Johan Galtung dalam konsep positive peace. Gaza kehilangan itu sepenuhnya. Tidak ada perdamaian bagi rakyat yang lapar.

Di banyak negara, solidaritas hanya berhenti pada spanduk dan unggahan media sosial. Padahal, solidaritas sejati seharusnya berarti memastikan rakyat Gaza bisa makan, bukan sekadar mengirim doa.

Situasi ini menjadi cermin dunia hari ini: kenyang, tapi kehilangan nurani. Jika dunia terus diam, maka kelaparan akan menjadi alat kekerasan yang dinormalisasi.

Gencatan senjata mungkin bisa menghentikan bom, tapi bukan penderitaan. Perdamaian baru akan lahir ketika dunia berani menolak kelaparan dijadikan senjata.