Beban Salah Jurusan: Saat Ekspektasi Orang Tua Tak Sejalan dengan Minat Anak

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Raafi Arrasy Trianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, dinamika penerimaan mahasiswa baru selalu diwarnai oleh kegembiraan sekaligus rasa cemas. Di balik senyum lega anak-anak muda yang memegang bukti kelulusan di perguruan tinggi, tersimpan sebuah kenyataan yang kerap kali luput dari perayaan. Tidak sedikit dari mereka yang melangkah ke jenjang kuliah dengan perasaan terasing. Mereka masuk ke sebuah program studi bukan karena dorongan cita-cita pribadi, melainkan demi memenuhi impian, arahan, atau bahkan tuntutan orang tua.
Pilihan untuk mengambil jurusan yang dianggap "aman" seperti kedokteran, hukum, atau teknik sering kali dipandang sebagai jalan tol menuju kepastian masa depan. Dalam benak banyak orang tua, mengarahkan anak ke jurusan-jurusan tersebut adalah bentuk kasih sayang dan perlindungan agar sang anak tidak kesulitan di kemudian hari. Namun, ketika pilihan tersebut diambil tanpa menyelaraskan dengan minat, bakat, dan karakter anak, langkah awal menuju perguruan tinggi ini justru berubah menjadi beban tersembunyi yang amat berat.
Jika dicermati lebih dalam, fenomena anak yang mengalah pada pilihan orang tua bukan sekadar urusan ketidakberanian menolak. Sosiolog ternama Émile Durkheim pernah menjelaskan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat struktur dan aturan di luar diri individu yang ia sebut sebagai struktur sosial atau fakta sosial yang memiliki kekuatan memaksa dan membentuk perilaku seseorang.
Dalam konteks ini, keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memegang peranan penting sebagai perantara tatanan sosial tersebut. Sejak kecil, anak dibesarkan dalam norma, nilai, dan standar keberhasilan yang diamini oleh lingkungannya. Pandangan masyarakat tentang profesi apa yang "terpandang", jurusan apa yang "menjamin masa depan", atau jalan hidup mana yang dianggap "benar" ditanamkan secara konsisten melalui interaksi sehari-hari di rumah.
Kepatuhan anak terhadap kehendak orang tua akhirnya terbentuk bukan selalu karena persetujuan, melainkan karena adanya rasa cemas akan kekecewaan keluarga. Ada ketakutan dicap sebagai anak yang tidak berbakti atau kegagalan memenuhi standar keberhasilan keluarga. Akibatnya, keputusan memilih jurusan kuliah kerap kali menjadi cerminan dari ekspektasi lingkungan sosialnya, bukan wujud dari kemauan anak itu sendiri.
Ketika proses belajar mulai berjalan, ketidaksesuaian antara minat anak dan jurusan yang dijalani akan memicu berbagai persoalan. Perkuliahan menuntut komitmen panjang, daya tahan mental, dan rasa ingin tahu yang kuat. Tanpa adanya keterikatan emosional dan ketertarikan pribadi terhadap bidang yang dipelajari, dinamika akademis yang berat dapat terasa amat menyiksa.
Beberapa dampak yang kerap ditemui pada mahasiswa yang merasa "salah jurusan" akibat dorongan eksternal meliputi:
Penurunan Motivasi dan Prestasi: Mahasiswa cenderung menjalani kuliah sekadar untuk gugur kewajiban. Rasa jenuh dan ketidakmampuan menikmati materi pelajaran berpotensi menurunkan performa akademis secara signifikan.
Beban Mental dan Kecemasan: Rasa tertekan yang berkepanjangan dapat memicu stres berat, rasa tidak berdaya, hingga gangguan kecemasan. Setiap ujian dan tugas akhir dirasakan sebagai beban, bukan tantangan untuk berkembang.
Hilangnya Rasa Kepemilikan (Sense of Ownership): Pendidikan yang sedang ditempuh terasa seperti milik orang lain. Anak merasa hanya menjadi pelaksana dari skenario hidup yang dituliskan oleh orang tuanya, sehingga kehilangan arah dan tujuan pribadi setelah lulus nanti.
Menyikapi persoalan ini, perlu ada perubahan cara pandang dalam memposisikan masa depan anak. Pendidikan tinggi sejatinya adalah ruang bagi individu untuk mengeksplorasi potensi, mengasah kedewasaan berpikir, dan menemukan identitas dirinya. Standarisasi harapan keluarga atas nama kepastian masa depan sering kali justru mematikan keunikan bakat yang dimiliki setiap anak.
Solusi dari dilema ini bertumpu pada komunikasi yang seimbang dan empati antara orang tua dan anak:
Membuka Ruang Dialog yang Setara: Orang tua perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan pandangan, kecenderungan, dan kekhawatiran anak tanpa langsung menghakiminya. Sebaliknya, anak juga perlu menyampaikan argumentasi dan rencananya secara dewasa dan terstruktur.
Memahami Bahwa Keberhasilan Itu Beragam: Dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat saat ini telah berkembang sangat pesat. Peluang keberhasilan tidak lagi terbatas pada beberapa profesi konvensional saja, melainkan terbuka luas di berbagai bidang kreatif, teknologi, dan sosial.
Mendukung Kepemilikan Masa Depan: Orang tua sebaiknya berperan sebagai pendamping dan pelindung, bukan penentu tunggal arah hidup anak. Memberikan kepercayaan kepada anak untuk memilih jalannya sendiri akan menumbuhkan rasa tanggung jawab atas pilihan tersebut.
Pada akhirnya, masa depan yang tangguh tidak dibangun di atas fondasi keterpaksaan. Ketika orang tua dan anak mampu saling memahami dan menyelaraskan harapan, pendidikan tidak lagi menjadi beban yang menghimpit, melainkan menjadi ruang yang membahagiakan bagi anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai potensi terbaiknya.
