Konten dari Pengguna

Kurikulum Sekolah: Menuntut Anak yang Patuh ketimbang Membentuk yang Pintar

Raafi Arrasy

Raafi Arrasy

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raafi Arrasy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pixabay.com

Di dalam kelas, kita pasti sudah kenyang melihat pemandangan yang itu-itu saja, seperti anak yang duduk manis, diam, dan cuma modal manggut-manggut pas guru menjelaskan bakal langsung dapat stempel "anak baik". Sebaliknya, kalau ada murid yang kritis, hobi mempertanyakan aturan, atau punya isi kepala yang beda sendiri, malah sering dicap sebagai beban atau biang kerok yang bikin kelas jadi rusuh. Realitas receh di kelas ini sebenarnya melempar satu pertanyaan besar buat kita. Sistem sekolah kita ini sebenarnya lagi ngejar apa, sih? Apa sekolah beneran pengen bikin anak jadi pintar dan kritis, atau jangan-jangan, ruang kelas kita sengaja disetel cuma buat mencetak anak-anak yang manut?

Kalau kita bedah pakai kacamata sosiologi, sebenarnya malah bertolak belakang antara teori di atas kertas sama realitas di lapangan. Secara manifest, kurikulum dirancang untuk mencerdaskan bangsa, bikin anak kreatif, sampai melatih nalar kritis. Tapi pada kenyataanya, ada agenda terselubung yang biasa disebut hidden curriculum (kurikulum tersembunyi). Lewat aturan main yang gak tertulis inilah, sekolah diam-diam mencekoki kita aturan biar semuanya seragam, refleks buat selalu nurut, dan bikin kita takut setengah mati buat berbuat salah. Kita dipaksa seragam bukan cuma soal baju OSIS, tapi sampai ke cara berpikir dan cara menyelesaikan masalah.

Bukti kalau sekolah lebih mengutamakan kepatuhan itu kelihatan jelas dari cara mereka bagi-bagi nilai. Sistem ujian kita masih mengutamakan angka di atas kertas dan hafalan mati. Murid yang dianggap sukses adalah mereka yang paling pintar menebak kemauan pembuat soal, bukan mereka yang berani punya ide-ide segar di luar buku paket. Pas ruang diskusi di kelas malah ditutup dan guru cuma ceramah satu arah dari pagi sampai siang, sekolah sebenarnya lagi membunuh daya kritis kita pelan-pelan. Efeknya? Mentalitas "asal bapak senang" atau rasa takut buat speak up itu sebenarnya sudah dipupuk sejak kita masih pakai seragam sekolah.

Ujung-ujungnya, kita harus berani berkaca lagi soal esensi dari sekolah itu sendiri. Kalau sekolah cuma fokus menuntut murid untuk nurut tanpa boleh berfikir, ya lembaga pendidikan cuma bakal jadi alat buat melanggengkan status quo aja. Sekolah akhirnya cuma melahirkan "robot bernyawa" alias pekerja-pekerja penurut yang siap masuk ke industri, tapi langsung mati kutu kalau ketemu masalah nyata di masyarakat yang butuh solusi kreatif. Sudah saatnya sistem sekolah kita berubah total, gak perlu lagi menuntut anak buat selalu seragam dan manut, tapi kasih ruang yang luas untuk melahirkan generasi yang pintar, bebas, dan berani berpikir kritis.