Konten dari Pengguna

Takut Quarter Life Crisis? Yuk, Berani Hadapi Kenyataan Pahit!

Rachel Amalia Putri

Rachel Amalia Putri

Mahasiswa Psikologi

·waktu baca 4 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rachel Amalia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar: Pexels.com/Joanne Adela Low
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: Pexels.com/Joanne Adela Low

Ekspektasi Diri di Masa Kecil

Hampir semua dari kita pasti pernah menerima pertanyaan seperti, “Mau jadi apa kalau sudah besar?,” atau pernyataan seperti, “Kalau sudah besar nanti. Jadi pilot, ya!”. Selintas, mungkin tidak ada yang salah dari kedua hal tersebut. Adapun penelitian yang mendukung menurut Shane Owens, seorang psikolog perilaku dan kognitif mengatakan bahwa orang tua yang dapat menyempatkan waktu untuk berbicara tentang apa cita-cita anak, maka orang tua dapat membantu anak untuk mempersiapkan kehidupan anak kedepannya (Fimela, 2018).

Namun, lagi-lagi pada kenyataannya bahwa tidak ada yang dapat memastikan hidup kita akan sesuai dengan rencana atau justru sebaliknya. Banyaknya hambatan, seperti lingkungan yang tidak mendukung, kemampuan yang tidak mumpuni, atau bahkan finansial yang tidak kunjung membaik menjadi alasan diri yang mau tidak mau harus mengeliminasi satu demi satu ekspektasi yang sudah dibangun sejak kecil. Ketidaksesuaian ekspektasi dengan kenyataan ini menciptakan suatu ‘masalah’ baru bagi remaja.

Menangkap Kenyataan Hari Ini

Masa remaja merupakan suatu masa krisis terus-menerus yang diselingi beberapa masa reda dengan pengalaman yang menegangkan, stres, badai, bahkan tekanan sosial yang memuncak (Wright, 2019). Krisis juga didefinisikan sebagai “A turning point in the course of anything" artinya, "Suatu titik balik dalam sesuatu". Bagi mereka yang terbiasa hidup bergantung dengan orang tua harus mulai belajar bergantung pada diri sendiri sebagai bentuk proses pendewasaan.

Proses pendewasaan tidak semudah apalagi se-fairytale snapgram orang. Dari mulai pendidikan, karier, hingga asmara yang terlihat mulus seringkali menjadi bahan komparasi diri. Sudah menjadi pengetahuan umum jika hal tersebut mendorong stres, cemas berlebih, atau bahkan sampai mengalami depresi bagi remaja. Berdasarkan laporan dari Riset Kesehatan bahwa terdapat lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi (Riskesdas, 2018).

Berkenalan Lebih Dekat dengan Kenyataan Pahit

Quarter life crisis merupakan masa yang tidak dapat dielak dan harus dihadapi. Krisis dapat didorong oleh tekanan yang dihadapi baik dari diri sendiri maupun lingkungan, merasa belum memiliki tujuan hidup yang jelas dan yang sesuai dengan nilai yang diyakini, serta banyak pilihan dan kemungkinan sehingga banyak remaja mengalami kebingungan untuk memilih (Tirto.id, 2020). Masa krisis juga di cap sebagai masa penuh bencana. Oleh karena itu, perlunya penerimaan diri terhadap kenyataan pahit menjadi dewasa, seperti halnya:

  1. Sadarilah bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkanmu, kecuali dirimu sendiri Sekarang mungkin kamu masih mempunyai orang yang dapat menyelamatkanmu, tetapi percayalah. Jika ada yang mengatakan akan terus selamanya bersamamu, itu sudah pasti omong kosong. Dan dirimu adalah satu-satunya orang yang dapat mengubahmu lebih baik atau justru sebaliknya.

  2. Berhenti menyalahkan faktor eksternal mengenai masalah yang sudah terjadi padamu. Hal tersebut tidak akan ada gunanya.

  1. Emosi dan perasaanmu sepenuhnya menjadi tanggung jawabmu Dengan adanya kesadaran akan tanggung jawab ini, kamu terdorong untuk dapat mengontrol emosi dan berusaha mencari health coping mechanism yang sesuai dengan dirimu. Contohnya, dengan membaca, journaling, atau bahkan mendengarkan musik.

  2. Bangun resiliensi diri atau kemampuan beradaptasi dengan keadaan sulit Desmita (2013) mengungkapkan bahwa tanpa adanya resiliensi tidak akan ada keberanian, ketekunan, tidak ada rasionalitas, serta tidak ada insight. Selain itu, resiliensi tentunya sangat dibutuhkan agar diri kita terlatih untuk melihat nilai positif dari berbagai bentuk kesulitan.

Tidak peduli betapa sakitnya hatimu hari ini, hancurnya kamu hari ini karena pada kenyataannya dunia akan terus berjalan dan berpihak kepada orang yang memenangkan waktunya. Pada sejatinya, tiap orang akan ada waktunya dan tiap waktu pasti ada orangnya. Tidak perlu bersedih hati karena in the end of the day semua akan menjadi pemenang di hidup masing-masing. Nikmatilah proses pendewasaanmu. Karena dengan begitu, kamu bisa lebih menghargai hidupmu hari ini.

Sumber Gambar: Pexels.com/Eva Elijas

Daftar Pustaka

Fimela, 2018. Ketahui Pentingnya Menanyakan Cita-cita Pada Si Kecil. https://www.fimela.com/parenting/read/3809349/ketahui-pentingnya-menanyakan-cita-cita-pada-si-kecil

Kirnandita, P. (2020) Quarter Life Crisis: Kehidupan Dewasa Datang, Krisis pun menghadang. https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU

Mir’atannisa, I. M., Rusmana, N., & Budiman, N. (2019). Kemampuan Adaptasi Positif Melalui Resiliensi. Journal of Innovative Counseling: Theory, Practice, and Research, 3(02), 70-75.

Peter, R. (2013). Memahami dan Mengatasi Krisis Menjadi Peluang. Humaniora, 4(2), 1055-1063.

Peter, R. (2015). Peran Orangtua dalam Krisis Remaja. Humaniora, 6(4), 453-460.

Rokom, 2021. Kemenkes Bebeberkan Masalah Permasalahan Kesehatan Jiwa Di Indonesia. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20211007/1338675/kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-kesehatan-jiwa-di-indonesia/