Saya Ingin Lebih Baik dari Simpanse
Lifeatkumparan
Tulisan dari User Dinonaktifkan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hans Rosling menebar belasan pertanyaan soal kondisi dunia kepada para ahli, jurnalis, aktivis, sampai pemangku jabatan penting di sejumlah negara. Namun hanya segelintir orang yang bisa menjawab benar seluruhnya. Kebanyakan hanya bisa menjawab tak lebih dari 30 persen. Angka itu tak lebih baik dari kemampuan menjawab simpanse yang bisa mencapai rata-rata 33 persen.
Kenapa bisa begitu? Dalam buku Factfulness yang ditulisnya, Rosling mengeluarkan sejumlah fakta yang membuka mata saya. Terutama tentang cara saya memandang dunia. Lewat data.
Mari kita lihat dua dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan oleh Rosling:
1. How many of the world’s 1-year-old children today have been vaccinated against some diseases?
a. 20 percent
b. 50 percent
c. 80 percent
2. Worldwide, 30-year-old men have spent 10 years in school, on average. How many years have women of the same age spent in school?
a. 9 years
b. 6 years
c. 3 years
Apa jawabanmu? Jawaban saya dua-duanya salah. Saya memilih 20 persen untuk pertanyaan nomor satu dan menjawab enam tahun untuk pertanyaan nomor dua. Insting saya sebagai jurnalis cenderung melihat dunia dari sisi negatif.
Melihat berita penolakan vaksin Rubella di Indonesia, saya sok-sokan membuat asumsi bahwa di belahan dunia lain bakal ada pandangan seperti itu. Melihat banyak negara yang laki-lakinya sok macho terhadap perempuan, saya berasumsi akan mempengaruhi tingkat pendidikannya. Saya salah. Begitu juga orang-orang lainnya. Saya tak jauh lebih baik dari simpanse ternyata.
Faktanya, berdasarkan data PBB dan Bank Dunia dan lembaga riset lainnya, dunia kita bergerak ke arah yang lebih baik. Sudah lebih dari 80 persen anak di dunia ini yang divaksin. Jauh lebih baik dari kondisi beberapa puluhan tahun lalu. Lalu akses pendidikan yang didapatkan para perempuan di dunia ini juga jauh lebih baik dari 100 tahun lalu. Mereka bisa bersekolah sampai 9 tahun.
Dari pertanyaan, Rosling memberi jawaban lewat data. Setelah itu, dia menawarkan konsep tindakan hingga pola pikir berbeda dalam memandang persoalan. Termasuk untuk saya, yang bekerja sebagai wartawan.
Lewat data, Rosling mengajak para wartawan untuk berusaha melihat persoalan tidak hanya dari sepatu saja. Namun juga melihat sesuatu dari bagian tubuh yang lain, mulai dari kepala, lengan, hingga paha. Sepatu di sini diibaratkan sebuah persoalan yang memang selama ini didefinisikan oleh jurnalis sebagai news value, wow factor, dan sebagainya. Istilah jadulnya bad news is good news. Padahal sesungguhnya, bila ditarik rentang waktu yang lama, persoalan di sepatu itu adalah titik kecil dibandingkan dengan keberhasilan yang dihasilkan tubuh lainnya.
Ini bukan sesuatu yang salah. Rosling juga menyadari hal itu. Tak mungkin media melepaskan begitu saja unsur drama dan keunikan dalam berita. Lalu digantikan seutuhnya dengan berita biasa yang membosankan.Tapi dia meminta para wartawan untuk lebih memperhatikan data historis sebagai konteks penyajian berita. Tujuannya tak lain agar masyarakat sebagai pembaca tidak panik, putus asa, dan melihat persoalan hanya pada satu titik saja. Siap Pak Rosling!
Sebagai contoh nyata, saya ingin mengaitkan konsep Rosling ke dalam konteks berita sehari-hari di Indonesia.
1. Fokus pada mayoritas
Rosling mengajarkan bahwa dunia tidak bisa dibelah dua begitu saja jadi milik si miskin dan si kaya. Berdasarkan data, justru mayoritas masyarakat dunia tidak hidup di keduanya, tapi di tengah-tengah. Kelas menengah-lah yang menguasai dunia. Artinya untuk kebijakan, pergerakan bisnis, dan lainnya bisa fokus pada kelas yang memang mayoritas ini. Sambil tentu saja membenahi kehidupan mereka yang masih hidup di garis kemiskinan tadi.
Mari kita kaitkan dengan konteks di Indonesia. Saya dalam sebuah acara pernah mendengar pernyataan bahwa di Indonesia sekarang sudah terbelah menjadi dua, antara kubu Jokowi dan Prabowo. Sangat sulit untuk memberikan informasi berbasis fakta pada mereka, karena sudah telanjur cinta dengan kandidatnya masing-masing. Sehingga diberi materi apapun, maka sia-sia.
Menurut saya, fenomena kubu Jokowi dan Prabowo itu tidak sampai membuat Indonesia terbelah dua. Yang benar-benar militan mendukung mereka, apalagi yang aktif di dunia maya, tidak akan sampai ratusan juta orang. Sebagai contoh, kumparan bersama Drone Emprit pernah menganalisis percakapan soal tagar #2019gantipresiden di Twitter. Dalam sehari ada sekitar 63 ribu percakapan soal tagar itu pada tanggal 6 September 2018. Bila satu akun satu percakapan, maka ada 63 ribu akun yang mendukung Prabowo.
Angka 63 ribu dibandingkan dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 143 juta berdasarkan data APJII, jelas sangat jauh. Apalagi kalau dibandingkan dengan jumlah total penduduk Indonesia yang mencapai 262 juta jiwa. Artinya, masih lebih banyak orang yang belum terpapar sepenuhnya oleh kubu A atau kubu B.
Dengan demikian, merekalah yang dominan. Hipotesis bernada keputusasaan tentang sulitnya memberi informasi pada kedua kubu, saya rasa kurang tepat. Saya sebagai wartawan harusnya bisa terus memberi fakta dan data yang benar pada masyarakat, terutama bagi mereka yang memang belum menentukan sikap. Karena mereka yang dominan.

2. Berita Negatif
Dalam bukunya, Rosling mengajak masyarakat untuk mengantisipasi berita-berita di media dengan cara melihat dari sudut pandang berbeda. Mayoritas berita yang muncul di media adalah berita negatif, tapi Rosling meminta pembaca untuk melihat data historis di belakang berita negatif itu. Apakah sebenarnya kondisinya memburuk atau malah membaik secara global.
Sebagai contoh, peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT-610. Itu adalah sesuatu yang sangat kita sayangkan. Tentu saja jadi berita karena setelah sekian lama, dunia penerbangan kita harus kembali berduka.
Tapi, peristiwa itu jelas tidak bisa membuat kita jadi berhenti naik pesawat dan melihat semua maskapai dari kacamata yang sama. Hukuman bagi mereka yang salah, evaluasi berkala, dan rekomendasi perbaikan tetap perlu ada. Tapi kita jangan putus asa.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada korban dan keluarga yang berduka, saya ingin mengajak kita melihat data ke belakang. Faktanya, dunia penerbangan sekarang cenderung lebih baik daripada 50 tahun sebelumnya. Di tahun 2016, ada sekitar 40 juta penerbangan komersil mendarat dengan selamat di tempat tujuan. Dari jumlah itu, ada 10 penerbangan yang mengalami kecelakaan fatal. Sementara pada tahun 1930an, semua orang takut terbang karena saking tidak amannya.
Sebagai wartawan, saya bisa terus-terusan mengajak regulator dan maskapai untuk berbenah diri lewat berita, tapi di sisi yang sama saya juga harus menjaga harapan. Kita semua masih bisa naik pesawat ke tujuan dengan relatif aman dibandingkan 50 tahun lalu. Karena datanya berkata demikian.

——
Bill Gates memberikan buku ini secara cuma-cuma kepada para lulusan universitas di AS. Dia mempersilakan mereka untuk mengunduhnya secara gratis. Tak segan-segan, Gates menyebut buku ini sebagai salah satu buku terpenting yang pernah dia baca.
Rosling mengerjakan buku ini bersama anak dan cucunya. Mereka bahu membahu mencari data, menyajikannya dalam bentuk visualisasi menarik tanpa cela, hanya untuk kita. Supaya kita lebih baik dalam memahami dunia.
Saya, membaca buku ini sambil membayangkan wajah anak-anak saya dan masa depannya…