Ketika Lingkar Pertemanan Justru Menghambat Proses Belajar Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi S1 Akutansi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Radhi Ryadhi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkuliahan merupakan ruang penting bagi mahasiswa untuk belajar, mengeksplorasi potensi diri, menemukan jati diri, sekaligus membangun jejaring sosial yang lebih luas. Di lingkungan pendidikan tinggi, proses belajar tidak hanya ditentukan oleh kualitas materi dan dosen, tetapi juga oleh motivasi internal mahasiswa serta pengaruh lingkungan sosial di sekitarnya, termasuk teman sebaya.
Dalam dinamika kehidupan kampus, mahasiswa terbiasa berada dalam satu alur aktivitas yang saling terhubung—diskusi kelas, kerja kelompok, presentasi, hingga interaksi sosial informal. Idealnya, relasi pertemanan dalam perkuliahan menjadi ruang saling mendukung untuk tumbuh bersama. Namun, realitasnya tidak selalu demikian. Dalam beberapa kasus, kelompok pertemanan justru dapat menjadi faktor penghambat bagi perkembangan akademik dan mental mahasiswa.
Salah satu sisi negatif yang kerap muncul adalah terbentuknya lingkungan pertemanan yang tidak sehat atau bersifat toksik. Perilaku ini dapat hadir dalam bentuk komentar meremehkan, ejekan, membodoh-bodohkan, hingga upaya menghambat prestasi individu lain. Dalam konteks akademik, sikap tersebut sering kali terlihat saat diskusi atau presentasi, misalnya dengan interupsi yang tidak etis, ekspresi merendahkan, atau respons yang tidak menghargai pendapat orang lain.
Lingkungan yang demikian secara perlahan dapat menurunkan kepercayaan diri mahasiswa dan memengaruhi motivasi belajar. Ketika ruang belajar tidak lagi terasa aman dan suportif, mahasiswa berisiko mengalami kelelahan mental, menarik diri dari diskusi, bahkan kehilangan semangat untuk berkembang. Padahal, pendidikan tinggi seharusnya menjadi tempat yang mendorong kebebasan berpikir dan keberanian berpendapat.
Menghadapi situasi tersebut, saya memilih untuk mengambil langkah yang tidak bersifat destruktif. Pertama, dengan menetapkan batasan yang jelas. Saya tetap menjaga relasi sosial secara wajar dalam konteks informal, namun mulai membatasi kolaborasi akademik yang berpotensi menghambat produktivitas dan fokus belajar. Kedua, saya menyesuaikan diri dengan membangun support system baru—berteman dengan individu yang sejalan dalam tujuan, nilai, dan semangat belajar, sehingga kolaborasi yang terbangun lebih sehat dan bermakna.
Ketiga, masukan negatif, termasuk yang bernuansa merendahkan, saya jadikan sebagai bahan refleksi sekaligus pemacu untuk berkembang. Alih-alih tenggelam dalam konflik, saya memilih membuktikan kapasitas diri melalui progres dan pencapaian akademik yang nyata. Sikap ini bukan untuk meniadakan masalah, melainkan sebagai bentuk pengelolaan diri agar tetap bertumbuh di tengah tantangan sosial.
Pada akhirnya, mahasiswa perlu menyadari bahwa memilih lingkungan pertemanan yang sehat merupakan bagian penting dari proses belajar. Relasi sosial yang suportif tidak hanya membantu pencapaian akademik, tetapi juga membentuk karakter, ketahanan mental, dan kematangan berpikir. Kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan ruang belajar tentang bagaimana bertumbuh sebagai manusia yang utuh.
