Konten dari Pengguna

Berdampak Kepada Masyarakat dari Generasi Terbaru: Bukan Hanya di Akar Rumput

Muhammad Rafie Akbar

Muhammad Rafie Akbar

Sarjana Hukum (USU), Sarjana Pendidikan (UNPAB). Aktif dalam Forum Studi Hukum Pendidikan. Pernah pertukaran mahasiswa Ilmu Hukum ke Universiti Teknologi MARA, Malaysia (2023).

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Rafie Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aktivisme generasi muda masa kini. Gambar oleh Vilius Kukanauskas dari Pixabay.
zoom-in-whitePerbesar
Aktivisme generasi muda masa kini. Gambar oleh Vilius Kukanauskas dari Pixabay.

Dalam percakapan sehari-hari tentang perubahan sosial, sering terdengar anggapan bahwa seseorang baru bisa disebut “berdampak” jika karyanya menyentuh masyarakat akar rumput. Seolah-olah dampak sosial hanya sah jika diwujudkan dalam bentuk kegiatan langsung di lapangan: mengajar di desa, membantu kelompok rentan, atau menggerakkan program sosial di masyarakat bawah.

Di sisi lain, muncul pula stereotip terhadap generasi muda masa kini, yakni generasi yang dianggap lebih sibuk menciptakan konten dan membangun citra diri di media sosial ketimbang bekerja nyata. Pandangan seperti ini sering kali datang dari generasi yang lebih dulu hadir di masyarakat, bahkan dari mereka yang hanya berbeda beberapa tahun saja. Padahal, cara memberi dampak tidak pernah tunggal; ia selalu berubah seiring dengan zamannya.

Setiap Generasi Memiliki “Bahasa” Dampaknya Sendiri

Generasi terdahulu hidup di masa ketika perubahan sosial identik dengan gerakan fisik dan kehadiran nyata di lapangan. Pada masa itu, kerja sosial dipahami sebagai kegiatan yang harus menyentuh langsung masyarakat. Keberhasilannya diukur dari seberapa konkret hasilnya dapat dilihat.

Namun generasi hari ini hidup dalam dunia yang berbeda — dunia digital, dunia keterhubungan tanpa batas. Cara berkontribusi pun ikut berevolusi. Aktivisme kini tak hanya berada di jalanan atau ruang rapat komunitas, tapi juga di ruang maya: di timeline media sosial, podcast, kanal YouTube, hingga postingan pencapaian di LinkedIn.

Siapa yang mampu mempengaruhi percakapan dan opini publik di ruang digital, dialah yang turut membentuk arah perubahan sosial. Dalam konteks ini, menjadi aktif di media sosial bukan sekadar “pencitraan”, tapi bagian dari perjuangan membangun kesadaran publik dengan cara yang relevan dengan zamannya.

“Pasar Dampak” dan Porsi Peran yang Berbeda

Sering kali kita lupa bahwa setiap orang memiliki “pasar dampaknya” sendiri, yaitu ruang sosial tempat pengaruhnya paling efektif dan sesuai dengan kapasitasnya. Seorang pendidik mungkin memberikan dampak paling besar di ruang kelas. Seorang peneliti memberi sumbangsih lewat publikasi ilmiah yang mengubah kebijakan. Seorang kreator digital menginspirasi ribuan orang lewat ide dan narasi yang dibagikannya secara daring.

Kontribusi terbesar seseorang sering muncul ketika ia bekerja dalam wilayah kekuatannya — bukan ketika ia memaksakan diri untuk melakukan hal yang “terlihat mulia” tetapi tidak sesuai dengan kapasitasnya. Dengan kata lain, kebermaknaan sosial tidak bisa diseragamkan.

Generasi muda yang memilih untuk bergerak melalui teknologi, seni, atau ruang digital bukan berarti abai terhadap masyarakat bawah. Mereka justru memperluas cakrawala dampak melalui bentuk-bentuk baru: edukasi daring, kampanye kesadaran publik, atau inisiatif digital yang menjembatani jarak antara berbagai lapisan sosial.

Dedikasi Masa Kini: Menyebar Inspirasi dengan Cara Kekinian

Aktivitas di media sosial sering dianggap dangkal, padahal banyak inisiatif sosial masa kini justru tumbuh dari sana. Berbagai gerakan dimulai dari unggahan sederhana, yang kemudian bertransformasi menjadi gerakan besar yang melibatkan ribuan orang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital kini menjadi “tanah lapang baru” bagi partisipasi sosial. Generasi muda tak lagi dibatasi oleh lokasi geografis; mereka bisa menginspirasi orang di tempat lain hanya dengan satu postingan, satu ide, atau satu karya kreatif.

Dengan cara ini, “dedikasi masa kini” bukan hanya bekerja di lapangan, tetapi juga membangun kesadaran publik dengan bahasa yang dipahami oleh generasinya. Hal ini bukan berarti meninggalkan pendekatan akar rumput, melainkan memperluasnya: dari satu ruang kecil di desa menjadi jaringan kesadaran global.

Kesimpulan: Ukuran Dampak Bukan di Mana, Tapi Bagaimana

Perdebatan tentang siapa yang paling berdampak seharusnya tidak lagi berfokus pada di mana seseorang bekerja, melainkan bagaimana ia bekerja. Selama ada niat tulus, kesungguhan, dan hasil yang menginspirasi, setiap bentuk kontribusi memiliki nilai.

Dalam dunia yang semakin terhubung, kerja lapangan dan kerja digital bukanlah dua hal yang berlawanan, melainkan dua sisi dari koin yang sama: keduanya saling melengkapi untuk menciptakan perubahan yang lebih luas.

Generasi terdahulu telah meletakkan dasar perubahan melalui tindakan langsung. Generasi baru melanjutkannya melalui gagasan, narasi, dan teknologi. Semua memiliki tempat dan makna. Karena pada akhirnya, seperti kata Mahatma Gandhi:

“The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.”

Bentuk pengabdian dan pelayanannya mungkin berbeda, tapi semangatnya tetap sama, yakni memberi makna dan menyalakan cahaya, di ruang dan zaman masing-masing.