Konten dari Pengguna

Low-Maintenance Friendship: Jarang Chat, Tapi Tetap Merasa Dekat

Rafina Aulia

Rafina Aulia

Mahasiswa universitas pamulang

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafina Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pertemanan yang tetap terasa dekat meski tidak selalu berkomunikasi atau bertemu setiap hari. Sumber: Canva.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pertemanan yang tetap terasa dekat meski tidak selalu berkomunikasi atau bertemu setiap hari. Sumber: Canva.

Dulu, hampir setiap hari selalu ada cerita yang dibagikan kepada teman. Mulai dari hal kecil, tugas sekolah, sampai cerita yang sebenarnya tidak terlalu penting. Namun, semakin dewasa, keadaan mulai berubah. Kesibukan membuat komunikasi yang dulu rutin perlahan menjadi semakin jarang.

Bukan karena bertengkar atau sengaja menjauh. Hanya saja, masing-masing mulai sibuk dengan kehidupan sendiri.

Ada yang kuliah, bekerja, mengurus keluarga, atau memiliki kesibukan lain. Chat yang dulu dibalas dalam hitungan menit bahkan detik, sekarang baru bisa dibalas beberapa hari kemudian. Anehnya, ketika akhirnya bertemu, rasanya tetap sama.

Obrolan masih nyambung, candaan lama masih bisa muncul, dan suasananya terasa seperti tidak pernah benar-benar berjauhan.

Fenomena seperti ini dikenal sebagai low-maintenance friendship, yaitu pertemanan yang tidak membutuhkan komunikasi atau pertemuan secara terus-menerus untuk tetap terasa dekat.

Tidak Harus Selalu Saling Berkabar

Kita sering menganggap teman dekat sebagai orang yang selalu ada setiap hari. Padahal, kedekatan tidak selalu harus dibuktikan dengan seberapa sering kita mengirim pesan atau bertemu.

Dalam low-maintenance friendship, ada rasa saling memahami bahwa setiap orang memiliki kesibukan masing-masing. Ketika teman tidak membalas pesan atau sulit diajak bertemu, hal tersebut tidak langsung dianggap sebagai tanda bahwa hubungan sudah berubah.

Ada kepercayaan bahwa meskipun jarang berkomunikasi, hubungan tetap ada. Inilah yang membuat pertemanan terasa nyaman. Tidak ada tuntutan untuk selalu hadir, tetapi ketika dibutuhkan, tetap ada keinginan untuk saling mendukung.

Jarang Bertemu Bukan Berarti Sudah Tidak Dekat

Semakin bertambah usia, mungkin kita tidak lagi punya banyak waktu untuk berkumpul seperti dulu. Circle pertemanan juga bisa berubah karena lingkungan, pekerjaan, pendidikan, maupun kesibukan masing-masing.

Namun, perubahan intensitas komunikasi tidak selalu berarti hubungan tersebut berakhir. Ada teman yang mungkin hanya ditemui beberapa bulan sekali, tetapi ketika bertemu tetap bisa berbicara dengan nyaman. Justru dari situ kita bisa menyadari bahwa kedekatan tidak selalu ditentukan oleh frekuensi pertemuan.

Pada akhirnya, setiap pertemanan memiliki caranya sendiri untuk bertahan. Mungkin kita memang sudah tidak sering berbicara seperti dulu. Tetapi selama masih ada rasa nyaman, saling memahami, dan tidak merasa harus memaksakan hubungan, jarak dan kesibukan tidak selalu menjadi alasan sebuah pertemanan harus berakhir.

Sebab, terkadang teman yang benar-benar dekat bukanlah mereka yang selalu ada setiap hari, melainkan mereka yang ketika akhirnya bertemu kembali, membuat kita merasa seperti tidak pernah pergi.