Konten dari Pengguna

Apa Itu Radar Cuaca dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Rafli Iqbal Taufiqi

Rafli Iqbal Taufiqi

Mahasiswa Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafli Iqbal Taufiqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Radar cuaca BMKG (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Radar cuaca BMKG (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pernah melihat bangunan dengan kubah putih besar di area bandara atau kantor BMKG? Dari luar bentuknya memang terlihat sederhana, tetapi di dalamnya terdapat salah satu alat terpenting untuk pemantauan cuaca, yaitu radar cuaca.

Alat ini bekerja sepanjang waktu untuk mengamati kondisi atmosfer di sekitarnya. Saat hujan mulai terbentuk, radar dapat mendeteksinya bahkan ketika hujan tersebut berada puluhan hingga ratusan kilometer dari lokasi kita. Karena itu, informasi hujan yang muncul di aplikasi cuaca atau yang digunakan dalam prakiraan cuaca sering kali berasal dari hasil pengamatan radar.

Apa Itu Radar Cuaca?

Radar adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi partikel di atmosfer. Nama radar sendiri berasal dari istilah Radio Detection and Ranging, yaitu teknologi yang memanfaatkan gelombang radio untuk mendeteksi objek dan mengetahui jaraknya.

Dalam meteorologi, objek yang diamati bukanlah pesawat atau kapal, melainkan partikel-partikel di atmosfer seperti tetesan hujan, butiran es, maupun awan yang mengandung air.

Melalui pengamatan tersebut, pengamat dan prakirawann cuaca dapat mengetahui di mana hujan sedang terjadi, seberapa luas wilayah yang terdampak, hingga bagaimana pergerakannya dari waktu ke waktu.

Cara Kerja Radar Cuaca

Ilustrasi cara kerja radar cuaca (Sumber : pribadi)

Cara kerja radar sebenarnya cukup sederhana. Radar memancarkan gelombang elektromagnetik ke atmosfer melalui antenanya. Ketika gelombang tersebut mengenai tetesan hujan, sebagian energinya akan dipantulkan kembali menuju radar.

Pantulan yang kembali ke radar inilah yang kemudian diolah menjadi berbagai informasi mengenai kondisi cuaca di atmosfer. Semakin lama gelombang kembali ke radar, semakin jauh letak hujan tersebut. Sementara itu, semakin kuat sinyal pantulannya, semakin besar pula jumlah atau ukuran partikel hujan yang terdeteksi.

Proses ini berlangsung sangat cepat dan dilakukan berulang kali sehingga radar dapat memberikan gambaran kondisi cuaca secara hampir real-time.

Citra radar cuaca WOFI BMKG Juanda (dapat diakses melalui : https://stamet-juanda.bmkg.go.id/radar/)

Pantulan yang diterima radar tidak langsung berubah menjadi peta cuaca. Data tersebut terlebih dahulu diolah dengan pengaturan sistem komputer tertentu sehingga akhirnya muncul sebagai citra radar yang biasa kita lihat di situs atau aplikasi cuaca.

Pada citra radar, area hujan ditampilkan dengan warna yang berbeda-beda. Semakin kuat pantulan yang diterima radar, warnanya biasanya akan semakin mencolok. Karena itu, wilayah dengan warna merah atau oranye sering kali menunjukkan hujan yang lebih lebat dibandingkan wilayah berwarna hijau atau biru.

Selain menunjukkan lokasi hujan, citra radar juga dapat memperlihatkan bagaimana hujan bergerak dari waktu ke waktu. Dari citra yang real-time, prakirawan cuaca dapat melihat apakah suatu awan hujan sedang berkembang, melemah, atau bergerak menuju wilayah tertentu.

Mengapa Radar Cuaca Dibutuhkan?

Radar cuaca memberikan gambaran yang jauh lebih luas. Dalam sekali pemindaian, radar dapat mengamati kondisi atmosfer hingga ratusan kilometer dari lokasinya. Hal ini membuat perkembangan awan hujan dapat dipantau lebih cepat dan lebih detail.

Kemampuan inilah yang menjadikan radar sebagai salah satu alat utama dalam pemantauan cuaca. Informasi radar digunakan untuk mendukung prakiraan cuaca, pemantauan intensitas hujan, hingga membantu penyampaian peringatan dini ketika terdapat potensi cuaca ekstrem.