Cegah Kanker Serviks, Menkes Butuh USD 1,4 Miliar untuk Vaksin HPV

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
 Ilustrasi Kanker Serviks. Foto: Chinnapong/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kanker Serviks. Foto: Chinnapong/Shutterstock

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pemerintah membutuhkan dana sekitar USD 1,4 miliar untuk program vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) bagi sekitar 10 juta anak perempuan di usia 10-11 tahun.

Hal itu disampaikan Budi dalam paparannya pada Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (15/9).

Budi menjelaskan bahwa kanker serviks menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan banyak kematian pada perempuan Indonesia. Berdasarkan paparannya, kanker serviks menyebabkan sekitar 21.000–24.000 kematian setiap tahun.

Menurut Budi, kanker serviks dapat dicegah melalui vaksinasi HPV. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia telah meluncurkan kampanye vaksinasi HPV secara nasional sejak 2022.

Ia pun membandingkan harga vaksin HPV dengan biaya pengobatan kanker serviks yang jauh lebih mahal. Kata dia, satu dosis vaksin HPV dibanderol sekitar USD 120–140 dan dapat memberikan perlindungan seumur hidup.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat ditemui wartawan usai agenda Indonesia Health Partners Meeting (IHPM) ke-4 tahun 2026 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

“Jadi, harga satu dosis vaksin HPV sekitar USD 120 hingga 140 sekali saja, dan dapat melindungi Anda seumur hidup,” kata Budi.

“Jika Anda tidak melakukannya dan terkena kanker serviks, Anda harus ke rumah sakit untuk menjalani kemoterapi, radioterapi, dan pengobatan lainnya. Biayanya dengan mudah mencapai USD 20 ribu, bahkan mungkin USD 100 ribu,” lanjutnya.

Saat ini, vaksinasi HPV menyasar anak perempuan usia 10-11 tahun. Budi menghitung, kelompok usia tersebut mencakup sekitar 10 juta anak.

“10 juta dikalikan USD 140, saya membutuhkan USD 1,4 miliar. Saya membutuhkan USD 1,4 miliar untuk memvaksinasi kelompok usia ini,” paparnya.

Selain itu, Budi mengatakan pemerintah juga ingin memperluas vaksinasi HPV ke kelompok usia 15-16 tahun dan 20-21 tahun agar seluruh perempuan Indonesia terlindungi dari kanker serviks.

“Dan sekarang saya ingin lebih agresif masuk ke usia 15 dan 16 tahun, lalu 20 hingga 21 tahun, sehingga seluruh perempuan Indonesia terlindungi, dan tidak ada lagi perempuan Indonesia yang meninggal karena kanker serviks,” tegasnya.

Karena itu, Budi pun meminta dukungan donor untuk membantu menutup kebutuhan anggaran vaksinasi tersebut apabila anggaran dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) belum mencukupi.

“Kalau saya tidak mendapatkannya dari Kementerian Keuangan, atau Kementerian Keuangan hanya memberi saya 1 miliar atau 1,2 miliar dolar AS, saya bisa meminta bantuan Anda semua untuk menutupi sisanya,” imbuh Budi.