SBY Minta Kampus Tetap Kritis: Jangan Takut Sampaikan Kebenaran

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi keynote speaker pada The 5th Biennial International Conference on International Relations (ICON-IR) yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Unpar pada Kamis (20/8/2026). Foto: YouTube/ Ngobrolin HI Unpar
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi keynote speaker pada The 5th Biennial International Conference on International Relations (ICON-IR) yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Unpar pada Kamis (20/8/2026). Foto: YouTube/ Ngobrolin HI Unpar

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta perguruan tinggi tetap menjadi ruang bagi pemikiran yang cerdas, kritis, dan independen. Menurutnya, kampus tidak cukup hanya melahirkan orang-orang pintar, tetapi juga harus membentuk pribadi yang bijaksana dan berkarakter.

Pesan tersebut disampaikan SBY saat memberikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-68 FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad), Selasa (13/10).

SBY menegaskan, civitas academica tidak perlu takut menyampaikan kebenaran selama didasarkan pada ilmu pengetahuan. Dia menilai, pandangan akademisi dan para ahli perlu mendapat tempat dalam proses pengambilan kebijakan, termasuk ketika berhadapan dengan kepentingan politik.

"Teruslah menjadi rumah bagi pemikiran yang cerdas, kritis dan independen, jangan takut. Jangan takut menyampaikan kebenaran berdasarkan ilmu pengetahuan," kata SBY.

Dia mencontohkan persoalan perubahan iklim yang kini berkembang menjadi krisis iklim. Menurutnya, pandangan para ahli, ilmuwan, dan inovator terkadang justru terbayangi oleh pemikiran para politisi atau pemimpin politik.

Dalam persoalan yang membutuhkan keahlian khusus, SBY menekankan pentingnya menempatkan ilmu pengetahuan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dia meminta para pemimpin politik bersedia mendengarkan masukan dari kalangan ilmiah.

"Kalau urusan itu serahkan pada ahlinya, politician must listen to scientists. Politics must follow science," ujarnya.

Meski demikian, SBY tidak memandang politik dan keahlian teknis sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Menurutnya, politisi memang memegang mandat untuk memimpin karena dipilih rakyat, tetapi pelaksanaan kebijakan perlu melibatkan teknokrat yang memiliki keahlian dan pengalaman.

"Jadi kita menjalankan misi itu, sang politisi, ajak bersama para teknokrat. Karena dia punya expertise, dia punya pengalaman, tidak perlu dipisahkan, must be one," katanya.

SBY juga mengingatkan agar sikap kritis tidak berhenti pada kecaman atau kritik tanpa menawarkan jalan keluar. Dia mendorong mahasiswa dan civitas academica Unpad menghadirkan gagasan serta rekomendasi yang dapat membantu menyelesaikan persoalan bangsa.

"Kalau mengecam, mengkritik, memaki-maki tanpa memberikan solusi, banyak. Tapi jadilah teman-teman Unpad bagian dari solusi dan progres, itu pahalanya tinggi sekali," tutur SBY.

Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan tidak sekadar menyalahkan pihak lain, tetapi juga disertai pemikiran yang konstruktif. Dengan begitu, kampus dapat berkontribusi langsung terhadap kemajuan masyarakat dan negara.

"Unpad harus memberi contoh, kami bukan hanya mengkritik menyalahkan, tapi ini rekomendasi dan solusi yang kami tawarkan," ujarnya.

Lebih jauh, SBY menilai keberhasilan perguruan tinggi tidak dapat diukur hanya dari kemampuannya menghasilkan lulusan dengan kecerdasan akademik. Pendidikan juga harus membangun karakter dan kebijaksanaan agar ilmu yang dimiliki dapat digunakan secara bertanggung jawab.

"Lantas perguruan tinggi Unpad harapan saya selaku mentor, tidak cukup hanya melahirkan orang-orang yang pintar, itu baru separuh berhasil. Lahirkan juga orang-orang yang bijaksana dan berkarakter, itu baru 100% itu," kata SBY.

Dia berharap mahasiswa mampu mengembangkan semangat pantang menyerah, memiliki tujuan hidup, serta memahami persoalan Indonesia dan dunia. SBY juga berpesan agar generasi muda tidak hanya menjadi bagian dari masalah, tetapi berusaha menghadirkan solusi.

"From now on sejak muda, mahasiswa, selalu ingin menjadi solusi, jangan senang menjadi bagian dari masalah, tambah repot Indonesia kita," ujarnya.

SBY menegaskan, kampus memiliki peran penting dalam membangun masa depan bangsa melalui pemikiran kritis yang berlandaskan ilmu pengetahuan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta kemampuan menawarkan solusi. Baginya, kecerdasan akademik perlu berjalan beriringan dengan kebijaksanaan dan karakter agar ilmu benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat.