SBY: Saya Sekarang Seniman, Tak Lagi Aktif Politik Praktis

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut dirinya kini telah jauh dari politik praktis dan tengah menekuni dunia seni serta olahraga. Ia mengaku sedang menjalani fase kehidupan baru setelah melewati perjalanan panjang di dunia militer dan pemerintahan.
Hal tersebut disampaikan SBY saat memberikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-68 Fisip Unpad, Selasa (13/10). Dalam kesempatan itu, SBY berbagi pengalaman perjalanan hidupnya sekaligus menyampaikan pandangan mengenai kepemimpinan dan masa depan Indonesia.
"Saya sekarang seniman, tidak lagi aktif di politik praktis, politik kekuasaan, apalagi day-to-day politics," kata SBY.
"Sudah ada generasi yang lebih muda. Orang tua, mentor, hanya memberikan dorongan, restu, blessing, agar mereka sukses dalam menjalankan misi politik," sambungnya.
Sebelum memulai orasinya, SBY menegaskan bahwa kehadirannya di lingkungan akademik Unpad bukan untuk menyampaikan orasi politik. Ia ingin berbagi pengalaman selama memimpin Indonesia dan menyampaikan sejumlah pemikiran kepada para dosen serta mahasiswa.
“Bapak Rektor, Bapak Dekan, Bapak Ibu hadirin sekalian yang saya cintai, sebelum saya menyampaikan orasi ilmiah, harus saya pastikan bukan orasi politik,” kata SBY.
SBY kemudian menceritakan perjalanan kariernya yang mengalami sejumlah perubahan. Ia mengawali pengabdian sebagai prajurit selama sekitar 30 tahun, kemudian menjalani tugas di pemerintahan sebelum akhirnya kembali ke tengah masyarakat.
Menurutnya, setiap fase kehidupan memberikan pengalaman dan pembelajaran tersendiri. Ia menyebut transformasi merupakan bagian dari perjalanan hidup yang juga harus dijalani oleh sebuah bangsa untuk mencapai kemajuan.
“Saya bertransformasi, anak desa dari Pacitan 20 tahun, transformasi menuju prajurit selama 30 tahun, transformasi lagi mengemban tugas di pemerintahan 15 tahun, sekarang saya kembali ke pangkuan masyarakat, bertransformasi dan saya sekarang menggeluti dunia seni dan olahraga,” tuturnya.
SBY juga mengungkapkan bahwa dirinya memiliki pengalaman di bidang pendidikan. Selain menjalani karier militer dan pemerintahan, ia pernah menjadi guru militer, dosen di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), hingga menjadi guru besar di Universitas Pertahanan.
“Saya juga punya karier sebagai guru, meskipun 30 tahun sebagai prajurit dan tugas saya berkutat menjaga keamanan nasional dan seterusnya, tapi saya juga pernah punya jenjang karier sebagai guru,” ujarnya.
Di hadapan civitas academica Unpad, SBY mengaku senang dapat kembali berada di lingkungan akademik. Ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membagikan pengalaman kepemimpinannya selama 10 tahun menjadi Presiden RI.
Ia mengatakan, pengalaman tersebut ingin dibagikan sebagai bentuk kontribusi kepada generasi muda yang kelak akan mengambil peran dalam kepemimpinan bangsa. Menurutnya, Indonesia membutuhkan generasi penerus yang memiliki kecerdasan sekaligus integritas.
“Doa saya tulus, negara memerlukan orang yang cerdas dan berintegritas,” kata SBY.
Lebih lanjut, SBY menekankan pentingnya integritas, inovasi, dan kolaborasi dalam membangun bangsa. Ia berharap perguruan tinggi, termasuk Unpad, dapat terus berperan dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi tantangan masa depan dan membawa Indonesia menuju kemajuan.
Melalui pengalamannya, SBY juga mengingatkan bahwa transformasi tidak hanya diperlukan dalam perjalanan individu, tetapi juga dalam pembangunan negara. Ia optimistis Indonesia dapat berkembang menjadi negara maju apabila memiliki visi yang jelas, perencanaan realistis, serta pemimpin yang mampu bekerja dengan integritas dan berkolaborasi.
