10 Dialog Negosiasi 2 Orang Singkat dengan Berbagai Tema

Ragam Info
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Negosiasi adalah salah kegiatan yang sering kali dilakukan oleh kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan negosiasi juga menjadi salah satu materi dalam pelajaran bahasa Indonesia. Itulah mengapa, tak heran jika sepuluh dialog negosiasi 2 orang singkat kerap dicari.
Pada dasarnya, teks negosiasi ini tidak hanya terbatas pada kegiatan jual-beli saja. Dengan kata lain, negosiasi juga bisa terjadi pada sektor kehidupan lainnya.
10 Dialog Negosiasi 2 Orang Singkat dari Berbagai Tema yang Bisa Menjadi Referensi
Mengutip dari buku Perilaku Organisasi (Organizational Behaviour), Muhammad Hasan, Ujang Enas, dan Angga Ranggana Putra (2022:127), negosiasi adalah sebuah proses yang terjadi antara dua pihak atau lebih yang pada mulanya memiliki pemikiran berbeda hingga akhirnya mencapai kesepakatn.
Berikut ini adalah sepuluh dialog negosiasi 2 orang singkat berbagai tema yang bisa menjadi referensi bagi siswa.
1. Perdagangan
Pembeli: “Berapa harga sekilo mangga ini, Bang?”
Penjual : “Tiga puluh ribu, Bu. Murah.”
Pembeli: “Boleh kurang ‘kan, Bang?”
Penjual : “Belum boleh, Bu. Barangnya bagus lo, Bu. Ini bukan karbitan. Matang pohon.”
Pembeli: “Iya, Bang, tapi harganya boleh kurang ‘kan? Kan lagi musim, Bang. Rp20.000 saja, ya?”
Penjual : “Belum boleh, Bu. Rp28.000 ya, Bu. Biar saya dapat untung, Bu.”
Pembeli: “Baiklah, tapi saya boleh milih sendiri, ya Bang?”
Penjual : “Asal jangan pilih yang besar-besar, Bu. Nanti saya bisa rugi.”
Pembeli: “Iya, Bang, yang penting saya dapat mangga yang bagus.”
Penjual : “Saya jamin, Bu. Kalau ada yang busuk boleh ditukarkan.”
Pembeli: “Baiklah, saya ambil 3 kilo, ya, Bang.”
Akhirnya, penjual mempersilakan pembeli untuk memilih dan menimbang sendiri mangga yang dibelinya.
2. Penawaran Produk
Penjual: “Selamat siang, pak. Saya ingin menawarkan produk kami kepada Anda.”
Calon pembeli: “Siang. Produk apa ya, mbak?”
Penjual: “Produk kami adalah cairan pembersih lantai yang efisien menghilangkan jamur dan kerak membandel. Cairan ini bisa dipakai untuk membersihkan lantai kamar mandi, dapur, maupun area berbahan keramik yang banyak keraknya, pak. Ada harga spesial juga untuk pelanggan baru sebesar Rp75.000, gratis sikat pembersihnya juga.”
Calon pembeli: “Satu botol ini, isi berapa mili, mbak? Apa ada diskon tambahan juga jika saya membeli lebih dari satu?”
Penjual: “Per botolnya isi 850 ml, pak. Kami bisa memberikan diskon tambahan sebesar 10% jika Bapak membeli lebih dari 3 botol.”
Calon pembeli: “Baik, saya coba beli 1 botol dulu ya, mbak. Nanti kalau terbukti ampuh, saya akan beli lagi.”
Penjual: “Baik, terima kasih, pak.”
Calon Pembeli: “Sama-sama, mbak.”
3. Negosiasi Harga di Pasar
Pembeli: “Bu, tomatnya segar-segar ya. Ini baru datang?”
Penjual: “Iya, Dek. Baru datang pagi ini, masih fresh dari kebun. Silakan pilih yang mana saja.”
Pembeli: “Berapa harganya per kilo, Bu?”
Penjual: “Rp15.000 per kilogram. Dijamin manis dan tahan lama.”
Pembeli: (berpikir sejenak sambil membolak-balik tomat di tangannya) “Kalau saya beli 3 kilo, bisa nggak harganya jadi Rp12.000 per kilo?”
Penjual: “Wah, kalau segitu saya rugi, Dek. Modalnya saja sudah hampir segitu. Tapi saya kasih harga spesial deh, Rp13.000 per kilo, tapi harus ambil 4 kilo.”
Pembeli: “Hmm, saya memang butuh tomat banyak sih untuk masak di rumah. Baiklah, saya ambil 4 kilo.”
Penjual: “Wah, terima kasih, Dek! Ada lagi yang mau dibeli?”
Pembeli: “Iya, sekalian saya mau beli cabai. Cabai rawit merah berapa per kilo, Bu?”
Penjual: “Cabai rawit merah Rp40.000 per kilo, Dek. Pedasnya mantap!”
Pembeli: “Aduh, mahal ya. Bisa kurang nggak kalau saya beli setengah kilo?”
Penjual: “Boleh deh, Rp19.000 buat setengah kilo.”
Pembeli: “Oke, saya ambil setengah kilo cabai rawit juga, Bu. Jadi totalnya berapa?”
Penjual: (menghitung dengan cepat) “4 kilo tomat jadi Rp52.000, terus cabainya Rp19.000. Totalnya Rp71.000, saya bulatkan jadi Rp70.000 saja, deh.”
Pembeli: “Wah, makasih banyak, Bu! Jadi makin semangat masak hari ini.”
Penjual: “Sama-sama, Dek. Semoga masakannya enak ya! Jangan lupa mampir lagi besok.”
Pembeli: “Pasti, Bu. Terima kasih!”
4. Negosiasi dengan Guru
Siswa: “Selamat siang, Bu. Maaf mengganggu, saya ingin meminta izin untuk mengumpulkan tugas besok. Saya kemarin sakit dan belum sempat menyelesaikannya.”
Guru: “Selamat siang. Tugas ini harus dikumpulkan kemarin, dan kamu tahu itu, kan? Semua teman-temanmu sudah mengumpulkannya tepat waktu.”
Siswa: “Iya, Bu, saya sangat menyadari itu. Tapi saya benar-benar sakit sejak dua hari lalu dan tidak bisa fokus untuk mengerjakan tugasnya. Saya juga punya surat keterangan dokter sebagai bukti.”
(Siswa mengeluarkan surat dokter dari tasnya dan menyerahkannya kepada guru.)
Guru: (Membaca surat dokter sejenak, lalu menghela napas.) “Baik, saya bisa memahami kondisimu. Tapi, seharusnya kamu menghubungi saya sebelumnya untuk memberitahu kondisi ini.”
Siswa: “Saya benar-benar minta maaf, Bu. Saya tidak ingin mengabaikan tugas ini, tapi kemarin saya benar-benar lemas dan tidak bisa mengerjakan apa pun. Saya janji akan segera menyelesaikannya secepat mungkin.”
Guru: “Oke, saya beri kesempatan sampai besok pagi. Tapi ini hanya berlaku untuk kali ini saja, ya. Jangan sampai kamu terlambat lagi di lain waktu.”
Siswa: (tersenyum lega) “Terima kasih banyak, Bu! Saya sangat menghargai pengertiannya. Saya akan langsung mengerjakan tugas ini begitu sampai di rumah.”
Guru: “Baik, saya tunggu hasilnya besok. Pastikan kamu mengerjakannya dengan serius, ya.”
Siswa: “Tentu, Bu. Sekali lagi, terima kasih!”
5. Pendidikan
Ayah: “Nak, ke sini. Ayah mau bicara.”
Anak: “Ada apa, Yah?”
Ayah: “Apa rencanamu ke depan setelah lulus SMP, Nak?”
Anak: “Oh, aku ingin masuk sekolah kejuruan, Yah.”
Ayah: “Kejuruan? Gak salah Nak? Kenapa gak ke SMA saja? Nanti kamu bisa kuliah dengan pilihan yang terbaik.”
Anak: “Aku ingin segera mengembangkan bakat mekanikku, Yah. Lagian setelah tamat SMK kan bisa kuliah juga.”
Ayah: “Iya, tapi nanti kamu akan kesulitan kalau mau kuliah karena jurusannya terbatas dan kemampuan akademiknya juga kurang siap. Jadi, Ayah sarankan ke SMA saja, ya!”
Anak: “Waduh, Ayah gimana, sih. Emangnya Ayah yang mau sekolah? Lagian kalo nanti gak kuliah, aku langsung bisa kerja di perusahaan otomotif.”
Ayah: “Masa, zaman sekarang tidak kuliah? Apa kata orang?”
Anak: “Ayah tenang saja, semuanya sudah aku pikirkan. Ayah doakan saja biar aku mudah meraih cita-cita.”
Ayah: “Ya, sudahlah kalau itu mau kamu, tapi nanti malam kamu pikirkan lagi, ya.”
Anak: “Iya, yah.”
6. Sosial
Calon penghuni kost: “Setelah saya lihat-lihat kamarnya, saya rasa cocok, Bu.”
Ibu kost: “Baik, jadi harga per bulannya satu juta rupiah dan minimal sewanya tiga bulan.”
Calon penghuni kost: “Kalau sewa satu bulan dulu apa tidak boleh, Bu?”
Ibu kost: “Wah, belum bisa tuh, Mbak. Aturan memang sudah seperti itu.”
Calon penghuni kost: “Saya berniat bersama dua teman saya mau pindah ke kost ini, Bu. Tapi kalau ternyata tidak bisa per bulan sewanya ya tidak jadi.”
Ibu kost: “Begini saja, sewa pertama langsung tiga bulan. Nanti setelah itu baru boleh per bulan bayar sewanya. Bagaimana?”
Calon penghuni kost: “Sejujurnya saya sudah sangat cocok dengan kost ini dan semua fasilitasnya. Tapi agaknya berat kalau langsung tiga bulan, Bu. Kan saya juga bawa dua teman saya lainnya. Pasti akan lebih menguntungkan Ibu, hehe.”
(hening sebentar)
Ibu kost: “Yasudah begini saja. Saya beri penawaran boleh bayar sewanya boleh dua bulan dulu. Kalau satu bulan belum boleh karena waktunya terlalu sebentar. Kalau untuk penghuni lain belum boleh loh, Mbak. Ini karena Mbaknya bawa dua teman jadi saya perbolehkan. Bagaimana?”
Calon penghuni kost: “Boleh deh, Bu. Dua bulan tidak apa-apa.”
Ibu kost: “Berarti deal, ya?”
Calon penghuni kost: “Iya, Bu. Ini saya kabari dulu teman-teman saya.”
Ibu kost: “Nanti proses pembayarannya diurus pas sudah mau masuk, ya.”
Calon penghuni kost: “Iya, Bu. Terima kasih.”
7. Liburan Keluarga
Ayah: “Bagaimana bu rencana liburan kita ke Puncak? Apakah anak-anak setuju?”
Ibu: “Ibu sudah bicara ke anak-anak, yah. Cuma kakak usul liburannya diganti ke pantai saja. Soalnya kita sudah sering liburan ke puncak. Tapi, adik minta jalan-jalan ke taman bermain.”
Ayah: “Aduh, bagaimana ya? Dua-duanya minta jalan-jalan ke tempat yang berbeda. Ayah jadi bingung.”
Ibu: “Hmm… Begini saja yah, bagaimana kalau kita cari lokasi taman bermain yang dekat pantai.”
Ayah: “Betul juga, bu. Kalau kita liburan ke Dufan bagaimana? Lokasinya lumayan dekat dengan pantai Ancol.”
Ibu: “Boleh, yah. Coba nanti ibu sampaikan ke anak-anak ya, mereka setuju atau tidak.”
Ayah: “Oke, bu.”
8. Beli Kerudung
Mbak, mau beli kerudung untuk ibu saya."
Penjual: "Cari yang modelnya bagaimana, Mas?"
Calon pembeli: "Yang biasa saja, Mbak."
Penjual: "Silakan, Mas, ke sini."
Calon pembeli: "Saya suka yang hijau, Mbak, kalo dilihat segar.
Penjual: "Iya, Mas. Cocok kalo dipakai oleh ibu, Mas."
Calon pembeli: "Ini berapa, Mbak?"
Penjual: "Rp50.000."
Calon pembeli: "Wah, kok, mahal, Mbak? Rp30.000 tidak boleh?"
Penjual: "Tidak boleh, Mas. Itu bahannya bagus soalnya."
Calon pembeli: "Tidak bisa kurang, Mbak?"
Penjual: "Rp45.000 boleh, Mas."
Calon pembeli: "Rp40.000, ya, Mbak? Ini untuk oleh-oleh ibu saya."
Penjual: "Benar-benar tidak boleh, Mas. Nanti toko saya bisa bangkrut."
Calon pembeli: "Ya sudah, Mbak, Rp45.000 saya ambil yang ini."
Penjual: "Mau beli apa lagi, Mas?"
Calon pembeli: "Itu saja, Mbak. Ini uangnya, Mbak."
Penjual: "Uangnya Rp50.000, kembaliannya Rp5.000. Terima kasih, Mas."
Calon pembeli: "Iya, Mbak. Sama-sama."
9. Beli Motor
Penjual: "Ini, Mas Hendro, Honda Supra X tahun 2022 yang sampean taksir."
Pembeli: "Iya, Mas Danu. Masih mulus, ya, bodinya?"
Penjual: "Iya, Mas Hendro, soalnya saya sering dinas di luar kota, maklum prajurit. Jadi paling motor ini sesekali dipakai pembantu saya."
Pembeli: "Jujur saya tertarik dengan motor ini, Mas Danu. Tapi tolonglah harganya dikurangi dari yang kemarin."
Penjual: "Iya kemarin saya banderol Rp5.000.000 karena disesuaikan dengan kondisinya saat ini. Bodi mulus mesin halus."
Pembeli: "Saya tawar Rp3.500.000, ya, Mas Danu."
Penjual: "Waduh kalau segitu, saya berat melepasnya, Mas Hendro."
Pembeli: "Daripada jarang sampean pakai, Mas Danu, mending saya yang rawat, Mas Danu. Haha."
Penjual: "Ya sudah, Rp4.500.000 ya, Mas Hendro?"
Pembeli: "Oke deh, Mas Danu. Saya bayar via transfer bank, ya, Mas."
10. Tukang Becak
Calon penumpang: "Bang, ke Pasar Sentral berapa?"
Tukang becak: "Rp10.000, Mbak."
Calon penumpang: "Yah, kok mahal banget Bang, Rp5.000 aja."
Tukang becak: "Aduh, kemurahan Mbak. Pasar Sentral kan jauh."
Calon penumpang: "Iya deh, saya tambah jadi Rp7.000, gimana?"
Tukang becak: "Naikin dikit Mbak, jadi Rp8.000."
Calon penumpang: "Baiklah Bang, saya setuju. Antar ke Pasar Sentral ya, Bang."
Tukang Becak: "Baik, silakan naik, Mbak."
Itulah sepuluh dialog negosiasi 2 orang singkat dengan berbagai tema. Semoga bermanfaat. (Anne)
Baca Juga: Contoh Dialog Sidang Perceraian di Pengadilan Agama
