15 Contoh Bocah Sukerta Nama dalam Bahasa Jawa

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam masyarakat Jawa, terdapat istilah anak sukerta, yaitu anak yang sejak lahir dipercaya akan membawa dan memiliki nasib sial. Untuk menghindari kesialan tersebut, maka dalam tradisi Jawa anak sukerta harus diruwat. Untuk mengenal istilah bocah sukerta, maka perlu mengetahui contoh bocah sukerta nama dalam bahasa Jawa.
Bentuk ruwatan dalam tradisi Jawa biasanya akan dilakukan acara wayang kulit dengan lakon Murwakala dan Purwakala. Tradisi ruwatan tersebut dikakukan sebagai bentuk permohonan agar manusia diselamatkan dari berbagai gangguan.
Kumpulan Contoh Bocah Sukerta Nama dalam Bahasa Jawa
Bocah sukerta menurut adat Jawa adalah anak yang dipercaya akan menghadapi kesusahan atau mempunyai nasib sial di masa mendatang. Oleh karena itu, untuk menghindari kondisi tersebut, bocah sukerta harus diruwat.
Ruwat atau ruwatan merupakan tradisi Jawa yang dijadikan sebagai sarana untuk menghilangkan bala (bencana) terhadap seorang anak. Di mana dalam tradisi ruwatan biasanya akan dilakukan pagelaran wayang kulit dengan lakon tertentu dan dimainkan oleh seorang dalang.
Untuk lebih mengenal siapa saja yang tergolong bocah sukerta menurut tradisi Jawa, berikut beberapa contoh bocah sukerta nama dalam bahasa Jawa yang dikutip dari buku Budaya Dermayu: Nilai-nilai Historis, Estetis, dan Transendental, Supali Kasim (2012:62).
Ontang-anting (anak laki-laki tunggal).
Gedhana-gendhini (anak dua, laki-laki dan perempuan).
Dhampit (dua anak lahir secara bersamaan dalam satu hari, kembar, tetapi laki-laki dan perempuan).
Gondang kasih (anak kembar, satu bule dan satu hitam).
Tiba ungker (anak lahir dililit usus atau lahir dengan tidak menangis).
Jempina (anak lahir belum waktunya, misalnya, usia kandungan masih 7 bulan atau 8 bulan).
Julungwangi (anak lahir pada saat matahari terbit).
Julung sungsang (anak lahir tengah hari atau siang hari).
Julung sarab (anak lahir ketika matahari tenggelam atau pada saat senja di sore hari).
Sendhang kapir pancuran (tiga anak terdiri dari laki-laki, perempuan, kemudian laki-laki).
Pancuran kapit sendhang (tiga anak terdiri dari perempuan, laki-laki, kemudian perempuan).
Panca laputra (lima anak laki-laki semua).
Pipilan (lima anak terdiri dari empat perempuan dan satu laki-laki).
Padangan (lima anak terdiri dari empat laki-laki dan satu perempuan).
Siwah (anak yang mempunyai kelainan fisik ataupun mental).
Dari contoh bocah sukerta menurut tradisi Jawa diharapkan dapat memberikan wawasan baru kepada pembaca. Pada intinya, tradisi yang ada di Indonesia selalu memiliki perbedaan berdasarkan daerah masing-masing. (PAM)
Baca Juga: 50 Contoh Sandhangan Wyanjana dalam Huruf Bahasa Jawa
