2 Contoh Artikel Pendidikan Singkat beserta Ciri-cirinya

Ragam Info
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mempelajari ciri-ciri artikel rasanya belum lengkap jika belum mengetahui tentang contoh artikel pendidikan. Dengan mengetahui contoh artikel tentang pendidikan, diharapkan akan lebih terbayang seperti apa bentuk artikel pendidikan yang baik dan benar.
Artikel pendidikan merupakan tulisan atau esai yang memuat materi seputar pendidikan. Layaknya artikel materi lain, artikel pendidikan juga diperuntukkan untuk dipublikasikan di berbagai media, mulai dari media cetak, seperti koran dan buletin, hingga media daring.
Ciri-ciri Artikel Pendidikan
Sebelum mengetahui lebih lanjut mengenai contoh artikel pendidikan, sebaiknya ketahui lebih dulu tentang artikel beserta ciri-cirinya.
Dikutip dari buku Artikel, Rahayu dkk., (2020:7), artikel adalah sebuah esai yang lengkap dengan panjang tertentu yang dibuat untuk dipublikasikan. Artikel bertujuan untuk menyajikan ide-ide serta fakta-fakta yang dapat meyakinkan, mendidik, dan mengihibur.
Ciri-ciri artikel pendidikan pada dasarnya hampir sama dengan jenis artikel lainnya. Namun, karena materinya memuat seputar pendidikan, terdapat sejumlah ciri-ciri yang menjadikan artikel pendidikan berbeda. Berikut di antaranya.
Isi artikel membahas seputar dunia pendidikan.
Tulisannya singkat, padat, jelas, serta mudah dipahami banyak orang.
Isi artikel menggunakan bahasa yang baku, halus, dan sopan.
Isi artikel menginformasikan hal yang sudah valid dan nyata.
Terdapat pembahasan khusus untuk pembelajaran dan hal lain seputar pendidikan.
Baca juga: 2 Contoh Artikel Penelitian Sederhana dan Efektif
2 Contoh Artikel Pendidikan Singkat
Dikutip dari buku Kumpulan Artikel Pendidikan, Gichara, (2021:129-130, 136-138), berikut 2 contoh artikel pendidikan singkat yang dapat meningkatkan pemahaman seputar artikel pendidikan.
1. Kekerasan pada Anak, Kita Semua Harus Peduli
Sejak menyeruak kasus pelecehan seksual di salah satu sekolah internasional di Jakarta, banyak orang tua menelepon ke seloah tempak anak mereka dididik. Mereka mulai mencemaskan keberadaan anak mereka di sekolah.
Bila rumah menjadi tempat yag tidak aman karena anak-anak ditinggal bekerja oleh orang tua, sekolah akan menjadi pilihan pertama. Tapi bila sekolah kini juga menjadi tempat yang tidak nyaman lagi bagi para siswa, lalu ke mana lagi mereka akan dipercayakan orang tua?
Umumnya, pelaku pelecehan seksual yang disebut parafilia (paraphilic disorder) ini sulit dideteksi ciri-cirinya karena mereka sering tampil sebagai orang yang baik hati dan ramah pada setiap orang.
Gangguan yang dimilikinya bisa terjadi karena berbagai faktor, salah satunya karena faktor genetik. Tindakan itu sebenarnya tidak berbahaya sepanjang tidak dilakukan pada orang lain (hanya berupa fantasi untuk dirinya sendiri).
Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja. Sebagai institusi pendidikan, sekolah seharusnya melakukan tindakan pencegahan untuk mencegah kegelisahan orang tua dan siswa.
Sekolah sebaiknya lebih proaktif melakukan tindakan untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi kekerasan seksual pada anak di lingkungannya.
2. Kendala Mengajar Bahasa Indonesia
Pengalaman mengajar bahasa Indonesia di berbagai level membuat saya berpikir bagaimana supaya anak-anak dapat memahami dan mencintai bahasanya sendiri. Memang tidak mudah mengajar mata pelajaran di tengah berbaga situasi dan kemajuan teknologi yang semakin menggoda.
Faktanya, anak-anak sekolah tetap saja lebih tertarik dengan bahasa asing sehingga menjadi kurang paham dengan bahasanya sendiri. Di sisi lain, hal itu membanggakan karena orang tua tidak perlu memberikan kursus bahasa asing untuk putra-putrinya, karena akhirnya mereka bisa belajar secara otodidak.
Namun, yang kelabakan adalah gurunya karena bahasa Indonesia menjadi bahasa yang menyulitkan di sekolah. Para guru harus bekerja keras mengajarkan bahasa Indonesia kepada para siswa yang umumnya adalah orang Indonesia. Cukup miris, bukan?
Guru bahasa setidaknya harus berjuang lagi untuk memikirkan strategi belajar bahasa sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada bahasa Indonesia.
Setelah menyaksikan dan berbincang-bincang dengan beberapa siswa yang berbeda tingkat kelas, saya menemukan beberapa masalah utama yang timbul saat pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, di antaranya ketidaksiapan siswa, kesulitan literasi, serta kesulitan pemahaman kosakata.
Jika kita ingin mempertahankan bahasa kita, tak ada jalan lain kecuali kembali mencintai bahasa Indonesia tanpa syarat. Akhirnya, saya tutup dengan satu kalimat: Selamat mencintai bahasa Indonesia sebagai kebanggaan dan alat pemersatu bangsa!
Sekian ulasan mengenai 2 contoh artikel pendidikan singkat beserta ciri-cirinya. Semoga uraian ini dapat menjadi referensi dalam memperdalam pemahaman seputar artikel pendidikan. (YAS)
