2 Contoh Hikayat Beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Karya Sastra

Ragam Info
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada beberapa contoh hikayat beserta unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam karya sastra yang membangun keseluruhan cerita. Hikayat adalah salah satu bentuk sastra Melayu klasik yang berisi cerita tentang kehidupan tokoh-tokoh istana, pahlawan, atau dewa-dewi.
Hikayat sering kali mengandung unsur magis atau khayalan yang dilebih-lebihkan. Sebagai karya sastra, hikayat memiliki unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang membangun keseluruhan cerita.
Contoh Hikayat Beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik
Dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam hikayat, lebih mengapresiasi karya sastra klasik ini serta memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Berbagai hikayat mengandung pesan moral yang relevan dengan kehidupan sosial dan budaya masa itu.
Berikut ini adalah beberapa contoh hikayat beserta unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam karya sastra yang membangun keseluruhan cerita.
1. Contoh Hikayat: Hikayat Hang Tuah
Sinopsis Singkat: Hikayat Hang Tuah adalah cerita tentang seorang laksamana bernama Hang Tuah yang setia kepada raja Melaka. Dia terkenal karena keberanian, kecerdasan, dan kesetiaannya dalam membela raja. Salah satu bagian terkenal dari hikayat ini adalah ketika Hang Tuah dituduh berkhianat dan dijatuhi hukuman mati oleh raja. Namun, Hang Jebat, sahabatnya, marah karena ketidakadilan tersebut dan memberontak. Pada akhirnya, Hang Tuah dipanggil kembali oleh raja untuk membunuh Hang Jebat, dan meskipun sedih, Hang Tuah tetap mematuhi perintah tersebut.
Unsur Intrinsik
Tema: Tema utama dari Hikayat Hang Tuah adalah kesetiaan dan pengorbanan seorang hamba kepada rajanya. Hang Tuah menggambarkan tokoh yang sangat setia kepada rajanya meskipun harus melawan sahabatnya sendiri.
Tokoh dan Penokohan:
Hang Tuah: Tokoh utama yang digambarkan sebagai seorang pahlawan yang setia, kuat, cerdas, dan tidak pernah mempertanyakan perintah rajanya.
Hang Jebat: Sahabat Hang Tuah yang memberontak setelah mengetahui bahwa Hang Tuah dihukum tanpa alasan yang jelas. Hang Jebat menunjukkan sisi manusia yang membela keadilan.
Raja Melaka: Sosok pemimpin yang berkuasa, tetapi kadang membuat keputusan tidak adil.
Alur: Alur dalam hikayat ini adalah alur maju yang menggambarkan perjalanan Hang Tuah sebagai pahlawan, pengkhianatan yang dituduhkan padanya, pemberontakan Hang Jebat, dan akhirnya pertemuan tragis antara kedua sahabat.
Latar: Latar cerita ini sebagian besar berada di lingkungan istana Kerajaan Melaka, dengan latar waktu pada masa kejayaan Kerajaan Melaka.
Sudut Pandang: Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga serba tahu, di mana narator mengetahui semua peristiwa dan perasaan para tokoh.
Amanat: Amanat dari hikayat ini adalah pentingnya kesetiaan dan ketaatan, meskipun terkadang membawa konsekuensi yang berat. Namun, hikayat ini juga mengajarkan bahwa keadilan harus ditegakkan dengan benar.
Unsur Ekstrinsik
Nilai Sosial: Hikayat Hang Tuah mencerminkan nilai-nilai sosial pada masa Kerajaan Melaka, seperti kesetiaan mutlak kepada raja dan hormat kepada pemimpin sebagai wujud dari sistem hierarki yang kuat.
Nilai Budaya: Hikayat ini juga menggambarkan budaya Melayu yang kental, terutama dalam adat istiadat kerajaan, penghormatan kepada pemimpin, dan sikap keberanian dalam melindungi tanah air dari ancaman.
Nilai Religius: Dalam cerita ini, terlihat bagaimana agama Islam memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam keputusan-keputusan penting yang diambil oleh para tokoh.
2. Contoh Hikayat: Hikayat Si Miskin
Sinopsis Singkat: Hikayat Si Miskin menceritakan kisah seorang pemuda miskin yang hidup dalam kemiskinan bersama istrinya. Meskipun hidup sederhana, Si Miskin memiliki hati yang tulus dan sabar. Suatu hari, mereka menemukan sebutir telur ajaib. Ketika telur itu menetas, muncullah seekor ayam jantan yang dapat mengeluarkan emas dari mulutnya. Berkat ayam ini, Si Miskin menjadi kaya. Namun, seorang raja yang serakah mendengar cerita ini dan mencuri ayam tersebut. Meski kehilangan kekayaannya, Si Miskin tetap bersabar dan melanjutkan hidupnya tanpa dendam.
Unsur Intrinsik
Tema: Tema utama dari Hikayat Si Miskin adalah tentang kesabaran, keikhlasan, dan kekayaan batin. Cerita ini mengajarkan bahwa harta bukanlah satu-satunya hal yang membuat seseorang bahagia.
Tokoh dan Penokohan:
Si Miskin: Tokoh utama yang digambarkan sebagai pribadi yang sabar, rendah hati, dan tidak mudah tergoda oleh harta.
Istri Si Miskin: Wanita yang setia, baik hati, dan mendukung suaminya dalam keadaan apa pun.
Raja: Tokoh antagonis yang digambarkan sebagai sosok yang serakah dan tidak menghargai hak milik orang lain.
Alur: Alur dalam hikayat ini adalah alur maju yang menggambarkan kehidupan Si Miskin dari kemiskinan, kemakmuran sementara, hingga kehilangan kekayaan.
Latar: Latar tempat dalam hikayat ini berada di sebuah desa miskin dan istana kerajaan, dengan latar waktu yang tidak spesifik namun menunjukkan suasana zaman kerajaan di Nusantara.
Sudut Pandang: Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga serba tahu, di mana narator mengetahui semua kejadian dan perasaan tokoh.
Amanat: Amanat dari cerita ini adalah bahwa harta yang melimpah bukan jaminan kebahagiaan. Kesabaran dan keikhlasan adalah kunci kebahagiaan sejati.
Unsur Ekstrinsik
Nilai Sosial: Hikayat Si Miskin menggambarkan kehidupan sosial masyarakat pada masa itu, terutama mengenai kesenjangan antara rakyat biasa dan penguasa yang sering kali menyalahgunakan kekuasaan.
Nilai Budaya: Cerita ini mencerminkan budaya gotong royong dan rasa ikhlas yang dianut masyarakat Melayu. Hal ini terlihat dari kesabaran Si Miskin dalam menghadapi setiap cobaan.
Nilai Religius: Terdapat ajaran moral dalam cerita ini bahwa rezeki dan kekayaan adalah titipan dari Tuhan, dan manusia harus mensyukurinya. Cerita ini juga mengajarkan agar manusia tidak terlalu berambisi dengan kekayaan duniawi.
Itulah beberapa contoh hikayat beserta unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam karya sastra yang membangun keseluruhan cerita. (Msr)
Baca juga: Bagaimanakah Refleksi dalam Pameran? Ini Jawabannya
