2 Contoh Puisi tentang Stop Bullying yang Sarat Pesan Moral

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh puisi tentang stop bullying sering mengambil sudut pandang korban. Daripada menggunakan propaganda dengan berkata "jangan", para penyair memilih menampilkan perasaan korban dan membiarkan masyarakat ikut merasakannya.
Bullying sudah menjadi masalah akut di masyarakat sehingga korban terus berjatuhan. Segala cara dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran dan kemanusiaan para pelaku, dari ancaman penjara hingga sentuhan puisi.
Contoh Puisi tentang Stop Bullying
Bulllying terjadi di banyak tempat, antara lain di rumah, sekolah, tempat kerja hingga di jalanan. Sudah banyak pelaku yang tertangkap dan viral, namun kasus baru terus bermunculan. Puisi menjadi salah satu tempat mengadu bagi para korban.
Berikut adalah contoh puisi tentang stop bullying yang dikutip dari Antologi Puisi: Sebuah Tamparan Keras tentang Problematika Kehidupan, Ketfiyah dan Hana Ika S. (2022:39).
1. Bullying
Aku gendut, katamu seperti badut
Kulitku hitam seperti masa depannya yang katamu kelam
Rambutku keriting seperti sabut kelapa kering
Aku masih saja terus tertawa
Karena aku belum tahu apa-apa
Bahkan menyebut papa dan mama saja aku belum bisa
Kau ungkapkan semua dengan canda tanpa peduli hatiku merana
Kau selalu menuntut sesuai dengan standar idealnya
Kau selalu menghinaku dengan aling-aling kata lucu
Kau selalu merayuku dengan senyum yang sangat kaku!
Berhentilah mengataiku!
Apa perlu aku jelaskan tentang genetik
agar kau tak memintaku tampil cantik?
Apa perlu aku jelaskan tentang keturunan
agar kau tak memintaku tampil menawan?
Aku ini sempurna dari setiap hal yang kupunya
Jikalau kau menghinaku, sama saja kau menghina ciptaan Tuhanmu!
2. Jangan Merasa Paling Benar!
Dewasa, bukan berarti paham segalanya
Menua, bukan berarti lebih bersih dari dosa
Meskipun asinnya garam kehidupan sudah kau coba
Bukan berarti kau khatam dari semua ujian di dunia
Begitu banyak yang telah kau ajarkan
Aku selalu menurut tanpa melawan
Tak pernah juga kau beriku kesempatan
Untuk sekedar menyampaikan
Setiap kali aku bertingkah
Kau selalu tuding aku dengan kata salah
Kau terus menyeruku tanpa lelah
Kau terus menyebutku salah!
Ketika aku lahir sebagai anak pertama
Saat itulah kau juga lahir sebagai seorang Bunda
Yang tentu juga banyak belajar dariku
Dari setiap hal yang dulunya semu
Ingatlah bahwa hutan tak selalu hijau
Semua tergantung masa
Semua tergantung pionnya
Yakni manusia
Baca juga: 4 Contoh Puisi Objektif dalam Bahasa Indonesia
Contoh puisi tentang stop bullying di atas menggambarkan bagaimana perasaan korban bullying. Rasa sakit para korban tersalurkan dengan harapan dapat membuka hati pelaku atau calon pelaku. (lus)
