3 Contoh Guru Wilangan dalam Tembang Macapat yang Perlu Diketahui

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tembang macapat merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang kaya akan nilai estetika dan filosofi. Setiap bait dalam tembang macapat memiliki aturan tertentu yang harus diikuti, termasuk guru wilangan.
Memahami contoh guru wilangan penting bagi siapa saja yang ingin mempelajari dan melestarikan tembang macapat. Selain itu, pemahaman ini juga bertujuan untuk mengapresiasi keindahan dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Contoh Guru Wilangan pada Tembang Macapat
Terdapat sebelas tembang macapat yang mana setiap jenisnya memberikan gambaran mengenai tahapan kehidupan manusia. Cerita ini dimulai dari masa dalam kandungan, kelahiran, kanak-kanak, remaja, dewasa, masa tua, hingga meninggal dunia.
Menurut buku Filsafat Ku karya Wafa Aldawamy (2020), tembang macapat adalah bentuk puisi tradisional Jawa yang menggunakan aturan guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan.
Guru gatra yaitu banyaknya jumlah baris (larik) dalam satu bait.
Guru lagu merupakan persamaan bunyi sajak pada akhir kata dalam setiap baris. Bunyi lagu a, i, u, e, o pada akhir gatra disebut dong dinge swara atau bersajak a, i, u, e, o.
Guru wilangan adalah banyaknya jumlah suku kata (wanda) dalam setiap baris.
Adapun beberapa contoh guru wilangan pada tembang macapat yaitu sebagai berikut:
1. Asmaradana
Gegaraning wong akrami,
dudu bandha dudu rupa,
amung pati pawitane,
luput pisan kena pisan
yen ta gampang luwih gampang,
yen angel angel kalangkung,
tan kena tinumbas arta
Guru wilangan Asmaradana terdiri dari 7 baris dengan susunan pola 8a, 8i, 8e, 8a, 7a, 8u, 8a. Pada umumnya tembang ini digunakan untuk menceritakan kisah asmara, percintaan, atau lautan cinta kasih.
2. Maskumambang
Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi,
ha nemu duraka,
ing donya tumekeng akhir
tan wurung kasurang-surang
Guru wilangan Maskumambang memiliki dari 4 larik dengan suku kata 12i, 6a, 8i, 8a. Tembang ini mengisahkan tentang kondisi manusia saat berada di alam ruh sebelum ditiupkan ke dalam rahim ibu.
3. Pucung
Ngelmu iku kelakone kanthi laku,
lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani,
setya budya pangekese dur angkara
Guru wilangan Pucung terdiri dari 4 baris dengan pola yang beragam, yaitu 12u, 6a, 8i, 12a. Pucung menggambarkan tentang manusia yang hanya akan meninggalkan jasad berbalut kain kafan di tempat peristirahatan terakhir.
Melalui pemahaman mengenai contoh guru wilangan, diharapkan dapat lebih menghargai sastra Jawa. Dengan demikian, mari terus melestarikan tembang macapat agar tidak lekang oleh waktu. (ALF)
Baca juga: 30 Contoh Dasanama dalam Bahasa Jawa beserta Artinya
