3 Contoh Peranan Ilmu Kimia dalam Bidang Pangan

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kimia adalah ilmu yang mempelajari komposisi, sifat, dan perubahan zat. Pengetahuan tentang ilmu kimia juga memainkan peranan penting dalam membantu berbagai sektor kehidupan, salah satunya adalah bidang pangan. Contoh peranan ilmu kimia dalam bidang pangan di antaranya pembuatan bahan pengawet.
Pada umumnya, seluruh bahan atau materi di alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur kimia. Dengan demikian, informasi mengenai pemanfaatan ilmu kimia menarik untuk diketahui guna memperluas wawasan dan pengetahuan.
Peranan Ilmu Kimia dalam Bidang Pangan
Mengutip buku Praktis Belajar Kimia untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah oleh Iman Rahayu (1) ilmu Kimia merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menjadi dasar banyak ilmu lainnya.
Beberapa orang salah mengerti tentang bahan kimia. Pasalnya mereka menganggap bahwa bahan kimia menjadi bahan yang berbahaya.
Padahal, semua bahan atau materi di alam semesta tersusun atas unsur-unsur kimia. Banyak penemuan baru yang dihasilkan di laboratorium oleh para ahli kimia yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia khususnya dalam bidang pangan.
Berikut ini beberapa peranan ilmu kimia dalam bidang pangan yang dapat dipelajari untuk menambah wawasan dan pengetahuan.
1. Menemukan Bahan Pengawet Makanan
Bahan pengawet adalah bahan yang dapat membuat makanan menjadi awet. Bahan pengawet ada yang didapat dari alam, Ada pula yang merupakan hasil olahan manusia.
Dengan menggunakan bahan pengawet, makanan atau bahan makanan dapat disimpan dalam waktu yang lama. Salah satu contoh bahan pengawet yang sering digunakan pada bahan makanan atau makanan adalah asam benzoat.
Bahan pengawet makanan ini digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur pada makanan. Pasalnya anak ini mampu memperlambat dan mencegah perubahan warna, rasa, tekstur, dan PH sehingga kesegaran makanan tetap terjaga.
2. Membantu Menemukan Zat Adiktif Makanan
Zat aditif adalah bahan yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam makanan atau minuman dalam jumlah kecil saat pembuatan makanan. Penambahan zat aditif bertujuan untuk memperbaiki penampilan, cita rasa, tekstur, aroma, dan untuk memperpanjang daya simpan.
Selain itu, penambah zat aditif juga dapat meningkatkan nilai gizi makanan dan minuman seperti penambahan protein, mineral, dan vitamin.
Berdasarkan fungsinya, zat aditif pada makanan dan minuman dapat dikelompokkan menjadi pewarna, pemanis, pengawet, penyedap, pemberi aroma, pengental, dan pengemulsi.
Berdasarkan asalnya, zat aditif pada makanan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu zat aditif alami dan zat aditif buatan.
Zat aditif buatan diperoleh melalui reaksi kimia yang bahan baku pembuatannya berasal dari bahan-bahan kimia. Misalnya bahan pengawet dari asam benzoat, pemanis dari sakarin, pewarna dari tartrazine, dan lain sebagainya.
3. Penggunaan Mikroorganisme pada Pengolahan Makanan
Pemanfaatan mikroorganisme untuk mengubah bahan baku menjadi suatu produk atau jasa merupakan salah satu contoh penerapan bioteknologi. Mikroorganisme atau mikroba adalah makhluk hidup satu sel yang tidak dapat dilihat secara kasat mata.
Mikroorganisme sering dimanfaatkan untuk bahan pembuatan makanan maupun minuman. Salah satu contohnya adalah mikroorganisme Lactobacillus bulgaricus yang mampu mengubah susu menjadi yogurt.
Peranan ilmu kimia di bidang pangan meliputi banyak aspek. Oleh karen itu, ilmu kimia sangat penting untuk menunjang kemajuan dan inovasi dalam sektor pangan. (NTA)
Baca juga: 4 Contoh Peranan Ilmu Kimia dalam Bidang Industri
