3 Contoh Serat Wulangreh Pupuh Durma beserta Artinya

Ragam Info
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam pelajaran sastra Jawa, siswa akan mempelajari banyak hal, salah satunya tembang Durma atau pupuh Durma. Guru juga akan mengenalkan contoh Serat Wulangreh pupuh Durma beserta arti.
Pupuh Durma merupakan bagian dari tembang macapat yang mengandung makna dalam setiap kalimatnya. Namun, makna yang disampaikan tidak selalu tersurat; ada yang tersirat dan ada pula yang tertulis dengan jelas
Pengertian Tembang Durma
Mengutip dari buku Falsafah Hidup Jawa, Prof. DR. Suwardi Endraswara, M.Hum, (2018:98), kata macapat memiliki banyak arti seperti melagukan empat-empat, perhentian nafas setiap empat suku kata, dan maca cepat.
Tembang macapat sengaja ditulis oleh para wali untuk memudahkan proses penyebaran ajaran agama Islam di Indonesia. Melalui tembang macapat, penyebaran ajaran Islam akan lebih mudah dimengerti masyarakat.
Macapat juga bisa diartikan sebagai man + ca + pat = iman + panca + patokan yang berarti dakwah Islam harus memerhatikan rukun Iman dan rukun Islam. Terdapat beberapa jenis tembang macapat yang berkembang di Indonesia salah satunya tembang atau pupuh durma.
Pupuh durma berasal dari kata darma yang berarti kesetiaan atau pemberian. Isi pupuh durma adalah ikatan yang sangat kuat sesama manusia selaku makhluk sosial. Tembang durma biasanya digunakan untuk menggambarkan rasa sedih dan gelisah.
Serat Wulangreh Pupuh Durma dalam Sastra
Serat wulangreh tembang durma adalah bagian dari karya sastra Jawa yang berisi nasihat untuk mengendalikan hawa nafsu. Berikut contoh serat wulangreh pupuh durma beserta artinya.
Dipun sami ambanting ing badanira, nyudha dhahar lan guling, darapon sudaa, nepsu kang ngambra-ambra, rerema ing tyasireki, dadya sabarang karyanira lestari.
(Biasakanlah melatih dirimu untuk prihatin dengan mengurangi makan dan tidur agar hawa nafsu berkurang, heningkanlah hatimu untuk mendapatkan apa yang diinginkan.)
Ing pangrawuh lair batin aja mamang, yen sira wus udani, mring sariranira, lamun ana kang Murba, masesa ing alam kabir dadi sabarang, pakaryanira ugi.
(Jangan ragu terhadap pengetahuan lahir dan batin. Jika memahami kehidupan ini ada yang berkuasa, mudah-mudahan keinginanmu tercapai.)
Lawan aja maoni sabarang karya, sithik-sithik memaoni, samubarang polah, tan kena wong kumlebat, ing masa mengko puniki, apan wus lumrah, uga padha maoni.
(Jangan mengkritik hasil orang lain, sedikit mengkritik segala tingkah orang lain dikritik. Memang zaman sekarang sudah biasa orang mengkritik.)
Ketiga contoh serat wulangreh pupuh durma di atas bisa dipahami siswa karena mengandung nasihat penting bagi kehidupan. (GTA)
Baca Juga: Watak Tembang Sinom beserta Pengertiannya
