4 Contoh Argumen Mendukung tentang Larangan Siswa Bersepeda Motor ke Sekolah

Ragam Info
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Contoh argumen mendukung tentang larangan siswa bersepeda motor ke sekolah beserta argumen penolakannya kerap kali menjadi perbincangan hangat di kalangan siswa. Pasalnya, banyak pihak yang mendukung, tetapi banyak juga yang menolak.
Siswa yang mengendarai kendaraan bermotor ke sekolah sudah menjadi fenomena yang umum terjadi. Bahkan fenomena ini tidak terjadi di kalangan siswa SMA saja, tetapi juga dari siswa SMP.
Memahami Fenomena Siswa Bersepeda Motor ke Sekolah
Dari tahun ke tahun, fenomena siswa bersepeda motor ke sekolah seakan tidak pernah ada habisnya.
Bahkan menurut data Kementerian Perhubungan yang dikutip dari buku Analisis Kebijakan Pendidikan, Jejen Musfah (2021:136), pada tahun 2016 lebih dari 175 ribu sepeda motor mengalami kecelakaan dan pelajar pada rentang usia 10-19 tahun menjadi korban kecelakaan urutan kedua.
Pada tahun 2016, jumlah korban pada usia pelajar mencapai 14.214 orang. Lalu, di tahun berikutnya turun tipis menjadi 8.906 orang dengan jumlah kecelakaan tertinggi dialami oleh siswa SMP.
Fenomena ini sebenarnya bertentangan dengan Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Pasal 81 yang menyebutkan bahwa minimal usia untuk mendapatkan SIM A, C, dan D adalah 17 tahun.
Jejen Musfah (2021:136-137) memaparkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab tingginya penggunaan motor di usia sekolah. Berikut di antaranya.
Orang tua tidak tegas dan selalu menuruti keinginan anak.
Orang tua mendorong anak untuk membawa motor karena alasan ekonomi, seperti lebih murah dan lebih praktis.
Transportasi umum yang tidak aman, tidak nyaman, dan mahal.
Tidak semua sekolah dan daerah melarang siswa membawa motor ke sekolah, dan guru membiarkan pelanggaran terjadi di depan mereka.
Baca juga: 8 Penyebab Kenakalan Remaja yang Perlu Ditanggulangi
Contoh Argumen Mendukung tentang Larangan Siswa Bersepeda Motor ke Sekolah
Berdasarkan uraian fenomena di atas, terlihat bahwa sebenarnya siswa tidak dianjurkan untuk membawa sepeda motor ke sekolah.
Untuk melawan fenomena tersebut, diperlukan sejumlah argumen yang jelas agar siswa yang bersepeda motor lebih sadar terhadap apa yang dilakukannya.
Oleh karena itu, berikut sejumlah contoh argumen mendukung tentang larangan siswa bersepeda motor ke sekolah.
Saya mendukung mosi tersebut karena siswa masih belum cukup umur untuk mengendarai motor karena umumnya siswa baru menginjak umur 17 tahun saat kelas 3 SMA, sehingga dapat dipastikan mayoritas siswa yang membawa motor ke sekolah tidak mempunyai SIM.
Siswa yang mengendarai motor ke sekolah bisa saja mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kecelakaan motor. Oleh karena itu, saya menentang fenomena siswa bersepeda motor ke sekolah.
Saya mendukung larangan siswa membawa motor ke sekolah karena terkadang siswa yang terlalu sering mengendarai motor akan merasa bosan sehingga berinisiatif untuk mencari dan melakukan hal baru, seperti mendirikan segerombolan geng motor.
Dapat menurunkan konsentrasi belajar siswa karena lebih memikirkan kesenangan dalam berkendara. Hal ini tentunya akan merugikan siswa itu sendiri.
Demikian ulasan mengenai contoh argumen mendukung tentang larangan siswa bersepeda motor ke sekolah. Mengingat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan, sebaiknya seluruh siswa tidak membawa kendaraan bermotor ke sekolah. (YAS)
