5 Ciri-ciri Puisi Lama dan Puisi Baru dalam Karya Sastra Indonesia

Ragam Info
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sastra adalah salah satu materi yang dipelajari dalam bahasa Indonesia. Di dalamnya, para siswa akan mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan karya sastra, seperti ciri-ciri puisi lama dan puisi baru.
Jika memahami ciri-ciri dari kedua karya tersebut, maka mereka bisa mengetahui perbedaannya. Dengan demikian, mereka tak akan kebingungan lagi saat menemukannya suatu hari nanti.
Ciri-ciri Puisi Lama
Mengutip Kajian Makna Puisi Keagamaan oleh Eneng Sri Supriatin, M. Pd (2020:19), puisi adalah bentuk kesusastraan paling tua yang diyakinin hadir sejak zaman nabi dan rasul. Bahkan dahulu puisi menjadi bagian hidup dari masyarakat seperti mantra dan pantun.
Terdapat dua jenis puisi yang berkembang di Indonesia. Salah satunya adalah puisi lama. Berikut ciri-ciri puisi lama tersebut.
Mempunyai berbagai aturan yang mengikat, seperti jumlah suku kata, jumlah baris setiap bait, sajak, dan lain-lain.
Sebagian besar tidak mempunyai nama pengarang.
Sebagian besar disampaikan dari mulut ke mulut sehingga disebut sebagai sastra lisan.
Memakai klise dan majas tetap.
Pada umumnya memuat cerita fantastis atau kerajaan sehingga disebut sebagai istanasentris.
Contoh puisi lama adalah gurindam, syair, dan lain-lain. Meskipun tergolong puisi lama, puisi-puisi tersebut masih banyak yang dipelajari hingga sekarang. Bahkan ada juga orang yang masih membuat puisi lama di kehidupan sehari-hari, seperti pantun.
Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Pantun Lengkap dengan Contohnya
Ciri-ciri Puisi Baru
Puisi baru merupakan perkembangan dari puisi lama sehingga dibuat dengan lebih bebas. Berikut berbagai ciri-ciri puisi baru.
Tidak ada aturan yang mengikat.
Mempunyai nama pengarang yang jelas.
Bisa disampaikan secara lisan atau tertulis.
Memakai majas yang dinamis dan berubah-ubah.
Memuat cerita tentang kehidupan.
Terdapat berbagai penyair yang telah membuat puisi baru dan terkenal sampai saat ini. Salah satunya adalah Chairil Anwar dengan puisinya yang berjudul “Aku” dan “Karawang Bekasi”. Bahkan dua puisi ini sering disinggung di bangku sekolah.
Beragam ciri-ciri puisi lama dan puisi baru di atas bisa menjadi referensi para siswa dalam mempelajari karya sastra Indonesia. Mereka juga bisa membuatnya agar lebih memahami perbedaan kedua jenis puisi ini. (LOV)
