5 Contoh Revolusi Hijau, Tujuan dan Latar Belakangnya

Ragam Info
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Ragam Info tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Revolusi hijau atau bisa juga disebut dengan revolusi agraria, merupakan suatu program meningkatkan produktivitas pertanian. Salah satu contoh revolusi hijau adalah penggunaan bibit unggul untuk mendapatkan hasil panen yang lebih baik.
Ide revolusi hijau pertama kali dijalankan oleh Ford and Rockefeller Foundation yang mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina (1960).
Di Indonesia, revolusi hijau mulai dikembangkan pada masa pemerintahan orde baru. Hasilnya, pada tahun 1980-an produksi tanaman pangan khususnya padi meningkat dengan pesat. Bahkan, Indonesia dapat mewujudkan swasembada pangan.
Latar Belakang Revolusi Hijau
Ide gerakan revolusi hijau tentu tidak muncul tanpa sesuatu yang melatarbelakanginya.
Berikut ini adalah beberapa hal yang melatarbelakangi munculnya revolusi hijau, dikutip dari buku Sejarah untuk SMA/MA Kelas XII IPS, Ignaz Kingkin Teja Angkasa, dkk., (halaman 59):
Kebutuhan penduduk yang meningkat pesat.
Tingkat produksi pertanian yang masih rendah.
Produksi pertanian belum mampu memenuhi kebutuhan penduduk.
Contoh Revolusi Hijau dan Tujuannya
Suatu gerakan tentu memiliki tujuan. Demikian pula dengan gerakan revolusi hijau. Adapun tujuan revolusi hijau adalah untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan cara penelitian dan eksperimen bibit unggul.
Di Indonesia, pelaksanaan revolusi hijau dilakukan dengan cara intensifikasi pertanian. Hal ini ditandai dengan perubahan cara bercocok tanam dari cara tradisional ke cara modern, dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Istilah revolusi hijau juga dikenal sebagai Panca Usaha Tani (PUT). Di antara kegiatan PUT yang juga merupakan contoh revolusi hijau, antara lain:
Penggunaan bibit unggul, seperti IR-64 dan PB-5 yang harganya terjangkau, tetapi kualitas tanamannya lebih kuat.
Penggunaan pupuk kimia.
Pembasmian hama dengan menggunakan insectisida (pembasmi hama), rhodentisida (pembasmi tikus), fungisida (pembasmi jamur), dan herbisida (pembasmi gulma atau tanaman pengganggu).
Irigasi pertanian, yaitu usaha mendatangkan air dengan membuat saluran-saluran ke sawah-sawah atau ladang-ladang secara teratur, sehingga tidak mengandalkan musim penghujan.
Pengolahan lahan pertanian menggunakan teknologi modern, seperti dengan menggunakan traktor.
Baca juga: 4 Dampak Negatif Revolusi Hijau bagi Kehidupan
Demikianlah penjelasan mengenai revolusi hijau dan contoh revolusi hijau yang sudah diterapkan di Indonesia. Semoga informasi ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan. (ARN)
